Banner-Top
Banner-Top

Alasan Dasar Manggarai Timur Mendapat Predikat Kemiskinan Ekstrem

Yon Sahaja. Foto/dok.
Yon Sahaja. Foto/dok.

Alasan Dasar Manggarai Timur Mendapat Predikat Kemiskinan Ekstrem

Oleh: Yon H. Sahaja//Tinggal di Borong

 

POSFLORES.COM Baru-baru ini, Pemerintah Pusat menetapkan Kabupaten Manggarai Timur di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu kabupaten dengan predikat “kemiskinan ekstrem” atau destitusi. Ekstrem. Yah ekstrem. Tentu semua tahu, apa arti ekstrem. Kata ekstrem ini kadang kala membuat bulu kuduk kita merinding.

Predikat atau label ekstrem ini tentu bukanlah sebuah hal yang dibanggakan bukan? Predikat ini merupakan cambukan hebat untuk Kabupaten Manggarai Timur yang beberapa waktu lalu mendapat penghargaan di Jakarta. Di mana pada saat itu Kabupaten Manggarai Timur melaui Bupati Agas Andreas meraih penghargaan bergengsi dari ajang Visionary Leader 2021 yang diselenggarakan oleh MNC Portal, dalam kategori Leader In Tourism Management Based on Local Wisdom.

Lantas mengapa Kabupaten Manggarai Timur tetap mendapat predikat “kemiskinan ekstrem?” Berikut arti kemiskinan ekstrem menurut WHO (World Health Organisation/Organisasi Kesehatan Dunia).

Menurut WHO, kemiskinan ekstrem alias kemiskinan absolut, atau destitusi adalah; suatu kondisi yang langka akan kebutuhan primer manusia. Kebutuhan primer tersebut yakni; makanan, air minum bersih, fasilitas sanitasi, kesehatan, tempat tinggal, pendidikan, dan informasi.

Nah, jika kita sandingkan ketentuan WHO di atas tentang suatu wilayah yang masuk kategori kemiskinan ekstrem, pantaskah Kabupaten Manggarai Timur masuk kategori tersebut? Mari kita bedah satu persatu.

Pertama; Kebutuhan akan makanan. Bila dilihat sejauh ini, Warga Manggarai Timur pada umumnya terpenuhi soal perkara kampung tengah. Karena kebutuhan pangan tercukupi (menurut penulis).

Kedua; Air minum bersih. Nah, bicara tentang air minum bersih, hal ini menjadi masalah klasik di daerah ini. Hampir 90 % Warga Manggarai Timur konsumsi air kali.

Ketiga; Fasilitas sanitasi. Sama seperti air minum bersih. Sanitasi di wilayah ini ibarat jauh panggang dari api. Memang saat ini pemerintah sedang giat membangun sarana sanitasi. Namun, jika air minum bersih tidak terpenuhi, apa mungkin fasilitas sanitasi tersebut berjalan dengan normal. Tentu tidak.

Keempat; Kesehatan. Saat ini Warga Manggarai Timur belum merasa terpenuhi akan kebutuhan fasilitas kesehatan. Saat ini, masih ada warga yang menjerit di berbagai pelosok Manggarai Timur.
Mereka merintih dan menangis di jalan berbatu dan berliku menuju faskes yang jaraknya ber mil-mil jauhnya. Tak sedikit yang meninggal dunia dalam perjalanan.

Kelima; Tempat tinggal. Sejauh ini masih ada warga yang rumahnya tidak layak untuk ditinggali. Hal itu tentu karena perekonomian warga masih jauh di bawah garis kemiskinan.

Keenam; Pendidikan. Bicara tentang pendidikan, dalam daftar yang dirilis pemerintah pusat yang memberi label kemiskinan ekstrem kepada Kabupaten Manggarai Timur, bahwa tingkat pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi masih di bawah rata-rata. Di sini, pemerintah pusat bahkan menetapkan tidak ada Warga Manggarai Timur yang lulus perguruan tinggi. Anda setuju?

Ketujuh; Akses Informasi. Kebutuhan akses informasi di daerah ini juga belum terpenuhi. Sekitar 55 blank spot (area tanpa sinyal komunikasi) tersebar di kabupaten ini.

Nah, menurut penulis dan tentu juga menurut anda, kondisi inilah yang menjadikan Kabupaten Manggarai Timur dilabeli kabupaten dengan “kemiskinan ekstrem”. Jadi, jika ketujuh poin di atas bisa diatasi, maka predikat kemiskinam ekstrem akan enyah dari kabupaten ini.

Pada dasarnya, negara sebenarnya telah berusaha melakukan pengurangan terhadap “kemiskinan ekstrem” ini. Di mana saat ini pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga serta Pemerintah Daerah, sesungguhnya telah melaksanakan banyak program yang terbagi dalam dua kelompok utama yaitu; kelompok program untuk menurunkan beban pengeluaran rumah tangga miskin, dan kelompok program untuk meningkatkan produktivitas masyarakat miskin.

Untuk Tahun Anggaran 2021, anggaran program dan kegiatan untuk pengurangan beban pengeluaran melalui bantuan sosial dan subsidi berjumlah Rp. 272,12 triliun, serta anggaran program dan kegiatan untuk pemberdayaan dan peningkatan produktivitas berjumlah Rp.168,57 triliun, sehingga alokasi anggaran keseluruhan adalah Rp.440,69 triliun.

Namun demikian, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membuat program-program tersebut konvergen dan terintegrasi dalam menyasar sasaran yang sama. Konvergensi ini penting untuk memastikan berbagai program terintegrasi mulai dari saat perencanaan sampai pada saat implementasi di lapangan, sehingga dapat dipastikan diterima oleh masyarakat yang berhak.

Konvergensi yang dimaksudkan adalah upaya untuk memastikan agar seluruh program penanggulangan kemiskinan ekstrem mulai dari tahap perencanaan, penentuan alokasi anggaran, penetapan sasaran dan pelaksanaan program tertuju pada satu titik atau lokus yang sama, baik itu secara wilayah maupun target masyarakat yang berhak. (*)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top