Sel. Jan 21st, 2020

Mengawal Nusa Tenggara Timur

Asal-Usul Suku “SUKA” Di Waerana, Manggarai Timur

8 min read

Yoseph Nanggong. Foto/Nardi Jaya.

Ditulis oleh Nardi Jaya, Wartawan Media Online Posflores.com, tinggal di Kota Komba, Manggarai Timur.

 

Asal Usul Suku SUKA Di Waerana, Manggarai Timur

Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jasmerah). kata mutiara yang didengungkan presiden pertama RI Sukarno itu, membuat penulis terinspirasi akan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah. Namun penulis menyadari, sebagai generasi keturunan Suku Suka, ada baiknya sebelum melangkah jauh, penulis perlu mengetahui sejarah dan asal-usul sukunya sendiri sebagai dasar yang kemudian harus dipublikasi.

Penulis mengunjungi Rumah kediaman Bapak Yosep Nenggong (89) di Ranameti, Kelurahan Rongga Koe, Kecamatan Kota Komba pada hari Minggu (8/9/2019) untuk menggali sejarah Asal-usul suku Suka. Yosep yang sudah tua renta, banyak mengetahui tentang sejarah Suka karena dirinya pernah menjadi Kepala Desa Rendok pada tahun 1956-1969. Saat dirinya berkuasa, Rongga Koe yang sekarang Kelurahan masih bersifat Kedaluan.

Kedatangan penulis disambut dengan senyuman yang begitu ramah.

Demai sesuan eme nggami ata ga’e mbadung ga, gau ata tombo kole wa’ wa” (Besok atau lusa jikalau kami orang tua sudah tidak ada, kamu yang akan menceritrakan hal ini kepada generasi),” ucap lelaki tua renta itu sambil sesekali mengelus kepala cucunya.

Rasanya begitu bangga ketika cucunya sendiri terlihat antusias ingin mengetahui sejarah tersebut. Sambil menikmati segelas kopi,
kepada penulis, dia mulai menceritakan sejarah asal-usul yang katanya bersifat dongeng itu.

Tidak hanya berhenti sampai disitu. Penulis juga mengunjungi “Mbaru Meze” (Rumah besar/ Rumah orang tua) milik bapak Mateus Anis Tangi, di Kampung Mbering pada tanggal 28 September 2019.

Tidak ada perbedaan dengan yang dikisahkan Embo Nenggong sapaan akrab Yosep Nenggong. Menurut pengakuan Mateus Anis, Dia sudah banyak menimba dari beberapa narasumber seperti;
1. Alm. Embo Dagher (Nenek dari bapak Goris Gorinal),
2. Alm. Embo Nggo’u ( Bapak dari bapa German Gelang)
3. Zakarias Jaik (Kepala Desa Rendok sebelum Yosep Nenggong, selaku tokoh yang meresmikan penyerahan tanah Seminari Pius XII Kisol tahun 1955)

“Apa yang saya kisahkan ini bukan dari saya, tetapi dari sumber-sumber terdahulu yang dikisahkan secara turun-temurun,” tutur Mateus dengan penuh semangat.

 

       Ulasan Singkat Sejarah Suku Suka

Berikut ulasan singkat tentang asal-usul Suku Suka yang berasal dari Mando Sawu/Manu Sawu. Sebuah wilayah yang terdapat di kecamatan Poco Ranaka.

Konon, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Ju dan Jenggu. Keduanya merupakan manusia purba yang oleh orang suka memanggilnya Embo “noang”. Mereka berdiam didalam gua di daerah perbukitan “woko’ mando sawu.”

Setelah sekian lama hidup bersama, akhirnya lahirlah anak-anak mereka. Namun sayangnya anak-anak tersebut ada yang menyerupai binatang seperti Ular dan burung, ada juga yang separuh menyerupai binatang dan separuhnya menyerupai manusia, barulah mulai keturunan ke tiga dari bungsu, lahirlah anak mereka yang menyerupai manusia.

Menurut Mateus Anis, nama-nama anak yang dilahirkan pasangan Ju dan Jenggu adalah Nggae Sawu, Sawu dan Sawu Sa. Konon, Nenek moyang dari Suku Suka Waerana adalah Sawu. Anak ke Dua dari pasangan Ju dan Jenggu.

Selama bertahun-tahun, hubungan keluarga mereka tidak begitu harmonis disebabkan banyak hal seperti, pola dan jenis makanan yang tidak sama dan tidak cocok antara binatang dan manusia, komunikasi yang juga tidak sama antara manusia dengan binatang dan lain sebagainya. Melihat keadaan yang semakin hari semakin buruk, akirnya orang tua mereka Ju dan Jenggu, memutuskan untuk memindahkan ketiga anak yang menyerupai manusia ke Wilayah yang berbeda-beda.

Karena letak wilayah mando sawu yang sangat strategis, akhirnya Ju dan Jenggu menunjukkan tiga bukit yang nampak di kejauhan. Dia menyuruh anak-anaknya seperti Ular (Nepa’) dan Burung (Kaka’ Ka’) untuk mengantarkan Sawu ke Hutan yang terletak di Sebelah atas Kampung Mesi Desa Ranakolong. Tempat tersebut bernama Hutan (dalam bahasa kolor Waerana disebut: Pong Suka). Pong Suka berdekatan
dengan pong Ndolu, yang merupakan tempat
peninggalan dan bukti-bukti sejarah peradaban Suka). Kedua Hutan tersebut terlihat jelas dari Wilayah Mando Sawu.
Sementara itu, kedua anak lain dari pasangan Ju dan Jenggu yakni Nggae sawu dan sawusa’ juga dihantar ke tempat yang berbeda yakni di sebuah bukit wilayah djibal dan satunya lagi di Wilayah Lamba Leda. Kembali ke laptop. Kita fokus di perjalanan Sawu
bersama rombongan ke Pong Suka Ndolu. Kala itu, Rombongan yang mengantarkan Sawu yakni sosok manusia yang tampak dari depan gagah perkasa namun dari belakang menyerupai tengkorak yang kemudian orang Suka memanggilnya “Embo Noang”
dan sejenis ular yang biasa disebut Nepa’ dengan seekor burung gagak berwarna putih (Kaka’ Ka’). Embo Nepa dan Embo Noang bertugas sebagai pengawal perjalanan tersebut, sementara Kaka’ Ka’
yang terbang di udara bertugas sebagai penunjuk jalan.
Sesekali ketika Sawu kedinginan, embo noang
mengambil kulit dari pohon Malinjo untuk
membungkus Sawu agar tetap hangat dan tidak kedinginan. Orang suka menamai pohon malinjo adalah pohon Suka/ Tawa’.
Tempat Persinggahan. Dikisahkan Mateus Anis, Rombongan tersebut keluar
dari Poco Ranaka singgah Nao Wara likan telu’. Dari Nao Wara kemudian melanjutkan perjalanan dan singgah di Poso Gurung. Dari poso Gurung singgah di Puran Dingga dan bergerak terus menuju Watu Ngiung, yang terletak di kaki bukit Golo Rowan.
Tidak lama di sana, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan dan singgah di Mera. Dari Mera’ selanjutnya singgah di Watu Ka’ (sebuah tempat diwilayah Mok). Disana, Rombongan Sawu sempat menetap lama dan mendirikan Compang (mesba) tempat persembahan yang hingga sekarang terlihat
masih utuh. Orang Mok menamai daerah kecil tersebut adalah Watu Ka’ (Nama yang diadopsi dari peninggalan sejarah).
Setelah lama menetap di Watu Ka’ Nepa, Noang dan Ka’ akhirnya menghantarkan Sawu di Pong Ndolu, tempat yang ditunjuk orang tua mereka Ju dan Jenggu, yang kemudian letaknya di samping Pong Suka. Embo Sawu rupanya sangat tergiur dengan keindahan
dan kesuburan tanah di Pong Ndolu. Sementara itu, rombongan yang datang bersama Sawu dari wilayah Mando Sawu akirnya pulang kembali ke tempat asal
meninggalkan sawu sendirian.
Konon pada suatu hari, ketika Sawu terlelap dalam tidur, tiba-tiba datanglah angin kencang menghantarkan seorang gadis rupawan yang pada akhirnya menjadi istri Sawu.
Perempuan cantik tersebut adalah makhluk gaib yang disebut “Darat” atau manusia Bunian. Embo Sawu menamai gadis itu “Mao”.
Nama yang diberikan karena pemberian dewa angin yang sampai sekarang disebut (angin)/Buru mao. Bulan berganti, tahunpun berlalu. Lahirlah anak-anak mereka. Karena lokasi Pong Ndolu dan Pong Suka berdekatan, akhirnya sebagian pindah di Pong
Suka dan sebagian tetap bertahan di Pong Ndolu. Namun sejarah mencatat, keturunan tertua berada di Wilayah Suka, hingga akhirnya meninggalkan banyak bukti sejarah yang masih utuh dan terlihat sampai saat ini. Adak Suka pada akhirnya berkembang di tempat ini.
Setelah sekian lama menetap di Pong Suka, lalu pindah ke bukit Mberumbengus. Dari Mberumbengus pindah di Ndangatawa, dari Ndanga tawa  pindah ke Lawen. (Lawen adalah tempat bersejarah di mana 12 gelarang kembali berkumpul dan bermusyawarah menghadapi kedatangan Bangsa Belanda di Wilayah Adak Suka, pada Tahun 1907.)

Setelah di Lawen, Mbaru gendang Suka dipindahkan ke Ranameti. Tidak bertahan lama, setelah itu
dipindahkan lagi ke Lawen hingga akhirnya
dipindahkan di Kampung Rendok dan bertahan sampai saat ini. Orang Gowa-Makassar, pada masa kejayaannya di Manggarai sekitar abad 16-17 menamai Suku Suka dengan sebutan “Tura Jene”.

 

Bukti-Bukti Sejarah

Bukti Sejarah peradaban Suku Suka terdapat ditempat-tempat di mana nenek moyang dahulu menetap sementara seperti Watu Ka’, Pong (Hutan) Ndolu dan Pong Suka. Banyak benda peninggalan yang juga menjadi bukti dan sampai saat ini terlihat utuh di Rumah Gendang Suka bahkan di tempat-
tempat persinggahan.

Bukti tersebut antara lain:

1. Mesbah Persembahan;

Mesbah terbuat dari Batu yang digunakan sebagai tempat persembahan yang dalam bahasa Manggarai disebut
Compang. Compang terdapat di beberapa tempat seperti di Watu Ka, Pong Ndolu dan Pong Suka.

2. Wae Sadong

Waesadong adalah mata air (Wae teku) yang berada di tengah hutan Suka. Mata air ini sebagai tempat nenek moyang pada zaman dulu menimba air minum bersih.
Uniknya, mata air ini muncul dari batu cadas berbentuk gong. Untuk menimbanya harus menggunakan tempurung kelapa. Dulu, tempurung kelapa tersebut
sudah disiapkan dan tidak diizinkan untuk dibawa pulang atau menggantikan tempurung kelapa tersebut.
Bukti sejarah yang lain berupa benda-benda yang masih terlihat utuh di Mbaru gendang. Benda peninggalan tersebut biasanya diperlihatkan ketika ada acara seperti Penti/peting (acara sukuran panen)
yang dibuat setahun sekali. Salah satunya adalah Lembing Lawe Lujang (bahasa kolor= lawi luzan).

Seorang tokoh suku suka, German Gelang, saat pesta kanduri di Kampung
Mbering, beberapa waktu lalu, kepada Penulis
menceritakan, Lembing Lawe Lujang adalah hadiah dari kerajaan Majapahit kepada nenek moyang Suka pada masa kejayaanya tahun 1350 hingga 1389. Hal tersebut dibuktikan karena kesamaan alat perang
yang dipakai kerajaan Majapahit yang saat ini sudah dimuseumkan.

1. Tanah/ hak ulayat

Suku Suka menurut Yoseph Nenggong, dulu memiliki tanah yang sangat luas di wilayah Borong dan Kota
Komba Selatan. Namun karena terlalu luas akhirnya sebagiannya diberikan kepada suku-suku lain untuk menjaganya. Yoseph Nenggong, yang pernah menjabat
sebagai Kepala Desa, tahu persis nama-nama
perwakilan dan generasinya dari masing-masing Suku-suku yang menerima pemberian tanah tersebut antara
lain sebegai berikut:

1. Suku Motu = Awa Mba’i
2. Suku Motu Poso= Iso
3. Suku Rombo = Zapi Dangge

4. Suku Sulit=Milkior Rangga/Niko Tanggur
5. Suku Saghe=Mateus Tinda/Nadus Jabur
6. Suku Keling=Betu
7. Suku Sumba=Mepos/Ruek
8. Suku Ndolu=Mbaling Mao/ Petrus Nekong
9. Suku Tanda=Sari’/ Yoseph Mangi
10. Suku Walan= Linus Pandong
11. Suku Ngara=Sambi/Alo Wazong
12. Weru=Mando

Dua belas Suku di atas ditugaskan menjaga wilayah adak Suka dengan perjanjian sebagai berikut.
1. Jika ada suku pendatang baru yang datang di wilayah adak suka, segera lapor di kepala Suku Suka di mbaru gendang

2. Dilarang keras menjual atau menukar tanah di wilayah adak Suka dalam bentuk apapun tanpa sepengetahuan Kepala Suku Suka sebagai adak (pemerintahan tertinggi).

3. Jika ada yang melanggar perjanjian tersebut di atas, malapetaka akan datang menghampiri. Tiga perjanjian tersebut, konon dibuat dalam bentuk ritual adat pada masa kejayaan Embo Uwong. Perjanjian yang dibuat di Pong Suka itu, oleh orang rongga yang berbudaya Vera, kemudian diabadikan
dalam sajak-sajak vera yang berbunyi sebagai berikut;

“Ndolu Ndele, Suka Ndili. Ma’e meko nunu fenggo. Duhgu sado angi wara”
(Ndolu disana, Suka di sini. Jangan digoncang. Karena barang siapa yang tabur angin akan memetik badai)

2. Sebutan Suka Wae Weta

Selain Suka, ada lagi sebutan Suka wae weta. Wae Weta menurut Yoseph adalah keturunan Suka yang dikhususkan karena hubungan kawin mawin. Menurut Yosep Nenggong, dulu banyak keturunan hawa/perempuan dari Suku Suka yang kawin dengan pria dari wilayah dan suku lain lalu menetap/tinggal di wilayah adak Suka (kawin masuk). Keturunan dari
perkawinan tersebut akhirnya mendaulatkan diri dengan sebutan Suka Wae Weta.

Mawa atau larangan

Yosep Nenggong menceritakan, Mawa/ larangan
(pantang) dalam hal makanan menjadi bagian
terpenting perjalanan sebuah Suku termasuk Suka. Sejarah orang Suka yang memiliki nenek moyang berupa binatang seperti Ular Nipa (Nepa) dan burung Ka, membuat generasi Suka pantang dan tidak diperbolehkan memakan daging dari binatang ini.
Pantangan lain adalah buah Melinjo (wua’ Suka/tawa’). Tumbuhan ini adalah cikal bakal nama dari Suku Suka. Larangan keras untuk makan buah tersebut karena menjadi tumbuhan keramat yang kemudian harus dijaga dan dilestarikan.

Pada bagian penutup, Yoseph Nenggong menegaskan, pàda perinsipnya, Suku Suka menganut paham “Tana
jajar, weki hgelar”. Hal tersebut dikarenakan, Suku Suka tidak pernah mendapat hibah/pemberian (berupa
tanah ) dari suku lain namun berjajar dan menyebar luas dari keturunan asli manggarai yang pusatnya di
wilayah Mandosawu.***

 

*Penulis adalah generasi Suku Suka Wae Sadong*

Facebook Comments