Banner-Top
Banner-Top

Banteng Cup, Merayakan Tarian Kehidupan (1)

Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Andreas Hugo Parera didampingi Ketua DPC PDIP Manggarai Timur, Marsel Sarimin membuka secara resmi pertanding futsal di Peot, Kabupaten Manggarai Timur. Foto/dokumentasi Epoz.
Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Andreas Hugo Parera didampingi Ketua DPC PDIP Manggarai Timur, Marsel Sarimin membuka secara resmi pertanding futsal di Peot, Kabupaten Manggarai Timur. Foto/dokumentasi Epoz.

Oleh: Kanis Lina Bana

MANGGARAI TIMUR — Hampir sepuluh tahun terakhir, Manggarai Timur kehilangan “roh” yang saling menukarkan energi-energi baru. Hajatan olahraga bernuansa persaudaraan, misalnya, sulit ditemukan. Gebyarnya semakin pucat, jauh, dan luntur. Tak jua melingkar di pelataran perjumpaan kita.

Padahal sebelumnya ada ajang Bupati Cup. Lokasi pementasan kompetisi bergengsi itu bergulir dari kecamatan yang satu ke kecamatan lain. Sebab perhelatan tersebut, tidak hanya berujung torehan prestasi gemilang, tetapi lebih dari itu menawarkan sisi lain mengisi ruang hidup. Ada perayaan bersama di sana. Ada ekspresi yang menyenangkan. Menghangatkan seraya menukar harap penuh dinamika.

Namun apesnya, pertunjukan kiat, strategis, “emosi”, akal dan tarian kehidupan itu sudah lama tenggelam. Entah ke mana. Tak ada yang bisa menjawabnya. Manggarai Timur dalam skala yang demikian dengan dinamikanya meninggalkan dahaga yang kian melilit dan mengekang emosi jiwa. Ruang ekspresi jadi beku. Media jumpa yang penuh sensasi naik turun terasa kaku.

Realitas itulah melecutkan kesadaran. Meluapkan harapan dalam benang benang hidup yang saling menyahut. Dan Kompol Yulianik, seorang perwira di Polres Manggarai merasakan hembusan rindu yang memuncak itu. Serentak terenyuh dan ibah. Getaran hati seorang wanita itu jadi cemeti empati dan semangatnya. Bahwa perlu ada sarana yang menjumpakan rasa hangat yang membanggakan. Agar tali kasih dan sulaman emosi positif bisa mengalir dengan mesra dan entengnya.

Sebab disadari Borong, sebagai Ibu Kota Kabupaten Manggarai Timur beberapa tahun belakangan seakan terkungkung dalam kabut senyap. Seolah-olah jadi kota mati. Kota tanpa nyawa. Tak ada warna yang menghidupkan. Geliat ekonomi sebagai side efeck suatu ajang pementasan tarian kehidupan dari cabang olahraga tak terlihat giat.

Maka munculah ide untuk bangun stadiun futsal berskala besar di Peot, Keluarahan Satar Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, NTT. Ide itu gaung bersambut. Disambungsenyawakan dalam ikatan kuat. Satu mimpi bersama. Ide berlian itu disahuti AKBP Purnawirawan Marsel Sariman, sang suaminya.

Karena itu, di ruang jelajah yang ada, Ibu Yulianik, bersama AKBP Purnawirawan Marsel Sarimin, mantan atlet nasional itu mulai merintis pembangunan fasilitas itu. Meski dari sisi modal tabungan sudah menipis, tetapi pijar semangat Kompol Yulianik, terus memancarkan gelora jiwanya. Pasutri yang langgeng berhati putih ini bergandengan tangan membangun stadiun futsal itu.

Kurang lebih Rp 2 M harus dikucurkan untuk melengkapi sarana dan prasarananya. Mulai dari pengadaan tanah plus fasilitas lainnya. AKBP Purnawirawan, Marsel Sarimin, yang juga Ketua DPC PDIP Manggarai Timur bertekun dalam aktivitasnya. Di sela sela konsolidasi partai, beramal sosial dengan yang papah, sanggup melunaskan semuanya. Demikian Kompol Yulianik, di tengah kesibukan mengabdi Negara selalu menyisihkan waktu agar mimpi besar pembangunan stadium futsal harus selesai pada waktunya. Maka jadilah stadiun megah dan bergengsi itu. Bertengger anggun, megah, dan menggoda di Peot.

“Ini murni tabungan almarhuma. Beliau sendiri yang merintis. Itu semua karena rindu dan harapnya agar kota ini hidup. Berdaya efeck bagi masyarakat kecil,” terang AKBP Purnawirawan Marsel Sarimin di sela-sela menyaksikan pertanding futsal itu. Banteng Cup I, Jumat (17/12/2021) malam.

Prosesi pembukaan dihadiri jajaran pengurus PDIP tingkat pusat-anggota DPR RI, Andreas Hugo Parera. Jajaran pengurus DPC PDIP Manggarai Timur sebagai panitia penyelenggara. Sebanyak 31 klub dari Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada dan Ende beradu teknis dalam ajang futsal perdana di Manggarai Timur ini.

Namun di tengah perjalanan, ketika proses pembangunan menjelang final dan pentas dimulai, badai Covid-19 mengepung tanpa ampun. Lebih menyedihkan lagi sang penggagas dan pencipta sejarah stadiun futsal, Ibu Kompol Yulianik, keburu pamit pulang ke tempat asalnya. Wanita teduh “berhati emas” itu, tak sempat menyaksikan bagaimana geliat perayaan kehidupan di stadiun itu dipentaskan.

Andaikan badai Covid-19 cepat berlalu sang Sang Ilahi juga masih berkenan menyambung napas Ibu Kompol Yulianik lebih panjang, pasti menyaksikan dengan puasnya. Bagaimana perayaan olahraga itu diperagakan kawanan pemuda pemuda ganteng berkelas. Padatnya penonton, animo klub yang luar biasa serta caturan ekonomi sekitar pasti menyebulkan kepuasan tiada tara bagi Ibu Kompol Yulianik.

Mama Yulianik, engkau telah mencipta. Karya karsa ciptaanmu tetap menyejarah dan abadi. Kami selalu mendaraskan doa-doa buatmu. Kami yakin, ibu berhati mulia, pasti “turut” menyaksikan dari dunia yang lain. Bagaimana gemar dan gemasnya “cucu-cucumu” berekspresi merayakan olahraga di lapangan futsal di tempat gagasmu dalam cinta yang purna. (bersambung)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top