Jum. Feb 28th, 2020

Mengawal Nusa Tenggara Timur

Cerpen, I Will Fight For You

3 min read

 Cerpen: I will Fight for You 

Kau tahu, kemarin adalah sebuah kesalahan terbodoh, aku pergi karena perasaan takut yang mencekam, dan keputusasaan yang teramat dalam. Aku pun juga mengerti, kemarin aku terlalu pasif, aku tak berjuang dan menganggap semuanya adalah kebenaran untuk semua keputusan yang aku buat. Saatnya aku melalui hari penuh penyesalan! Aku tak akan menengok barangkali memastikan bahwa aku masih punya kesempatan. Aku tak akan mengharapkan mimpi indah semacam itu. Kau terlalu berharga untuk luka yang mungkin aku ciptakan lagi di masa depan.

***
Sejam lebih aku bergulat dengan batin yang terus mengusik pikiran. Ahhh,, sungguh sial rasanya, aku berada dalam dilema. Kulihat kembali ponselku, barangkali ada notifikasi masuk, walaupun aku tahu itu memang tak akan ada. Kuserumputi lagi kopi hangatku, sejenak aku terlena untuk beberapa detik, bahwa mungkin ini akan menjadi menjadi sebuah kesalahan yang tak pernah kumaafkan. Tapi, aku memiliki tujuan yang tak boleh aku kesampingkan. Ada rasa tanggung jawab yang harus aku pikul, studi dan tanggung jawabku sebagai kakak.

Aku tahu, mungkin orang akan menganggap ini alasan yang terlalu dangkal. Tapi, dalam kamuflase hidupku, itu bagian yang harus aku prioritaskan. Aku tahu, hubungaku dengannya tak mengganggu sedikit pun prestasi belajarku. Ada lagi alasan yang lain, bahwa aku tak ingin menyakiti laki- laki yang terlalu baik dan pengertian, yang sering kali aku tolak ketika dia meminta waktu bertemu, yang jarang aku kabari dan masih banyak lagi peraturan yang kubuat yang aku rasa mengekangnya.

Terserahlah, aku akan tetap mengakhirinya, dia terlalu baik untuk disakiti. Aku menenanangkan diriku, menarik napas sejenak dan kuketikan pesan singkat yang sangat jelas bahwa hubungan kami memang harus benar- benar berakhir. Cukup lama kutunggu balasnya, hingga kutinggalkan handphoneku dan pergi beranjak, menepi di perpustakaan, surga duniaku

****
Pukul 21.00 kucek handphoneku dan sebuah pesan singkat dalam WAku masuk.
“ Aku ingin bertemu”. Aku terkejut dan jujur, ini hal yang sulit. Aku sudah membuat keputusan dan tak menariknya kembali. Aku tak membalas pesannya dan sebuah pesan baru muncul lagi, Pengirimnya sama. “ Aku di luar gerbang kosmu”. Kecemasan melandaku, aku tak harus bersikap apa, apa yang harus kukatakan untuk membuat dia mengerti. Dia mengirimkan pesa kembali, “ Aku masih menunggu , sampai kamu keluar”!!!

Aku keluar dan membuka gerbangku dan aku lihat wajahnya yang menunduk. Dia tetap diam saat melihatku. Aku mendekatinya.
“ Aku minta maaf”, kataku padanya.
“ Apakah memang harus berakhir” ? tanyanya. Aku melihat kesedihan dimatanya, sungguh aku telah membuatnya terluka.
“ Keputusanku sudah bulat, kita harus berakhir” jawabku.
Ia menghela nafasnya, “ Beri aku kesempatan bila aku memiliki kesalahan yang menyakitimu, kumohon.” Katanya
“ Aku tidak bisa, kamu bisa temukan perempuan yang lebih daripada aku, kumohon jangan memaksaku, kamu berhak mendapat kebahagian dari orang lain, aku tidak bisa menjanjikan itu” jawabku.
“ Baiklah, jangan salahkan aku bila aku menganggap dirimu sebagai musuhku, aku pergi, lenyap dan tak akan pernah kembali, aku akan hilang, dan ketika aku kembali nanti, kau hanyalah orang tak pernah kukenal dan orang asing yang baru aku temui. Aku muak dengan semua ini, mungkin ini yang teakhir kali aku mengemis, selamat tinggal.”
Dia pergi dan tak menoleh lagi. Aku hanya menangis untuk keputusan yang aku sesali.

***
Sejak saat itu, aku tak tahu kabarnya, aku berada dalam belahan lain. Aku akui bahwa aku sulit melupakanya, kesepian sering kali mencekam, jangan tanyakan lagi untuk air mata yang aku keluarkan untuk mengenang kembali beberapa kisah yang telah aku lalui. Aku sadar, bahwa penyesalan tidak akan mengubah semuanya, masa lalu akan tetap menjadi masa lalu. Aku akan hidup dengan caraku sendiri, dan bahagia dengan apa yang aku buat, aku tak akan berjuang untuk mendapatkan maaf darinya karena aku tahu aku tak pantas mendapatkannya. Hanya saja yang perlu aku lakukan adalah akan berperang dengan semua kenangan itu untuk untukmu, umtuk melupakanmu. Aku akan bertarung dengan perasaan bersalahku, bahwa meyakini diriku, bahwa yang aku buat adalah keputusan yang tepat. Aku akan bertarung, sampai aku aku lelah dan aku sadar, masa kenangamu sudah tak berlaku lagi. I will fight for you!!!

 

Penulis: Edid Teresa
Mahasiswa PBSI Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta.
(Alumni SMA Santu Klaus, Kuwu)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.