Banner-Top
Banner-Top

Di Manggarai Timur, Kontribusi Pajak dari Galian C Mencapai 11 Miliar

Galian C di Matim. Foto/Ando.
Galian C di Matim. Foto/Ando.

BORONG, POSFLORES.COMKepala Badan Keuangan Kabupaten Manggarai Timur, Abdullah, mengatakan bahwa Pada tahun 2019, sebanyak 11 miliar lebih kontribusi pajak galian c untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Manggarai Timur (Matim). Menurutnya, terkait regulasi itu, semuanya sudah memiliki landasan hukum.

“Terkait pajak tersebut, landasan hukumnya adalah “UU Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah” termasuk pajak galian c yang kewenangannya adalah pemerintah kabupaten,” kata Abdullah kepada posflores.com beberapa waktu lalu.

Abdullah menjelaskan, pungutan pajak galian c oleh Badan Keuangan Daerah selama ini terpusat pada kontraktor-kontraktor yang melakukan pengerjaan pembangunan fisik. Terkait legalitas galian, pihaknya mengaku kesulitan untuk mendeteksi apakah sudah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) atau belum.

“Kalau mengenai izinan tambang, itu kewenangan Dinas Pertambangan Provinsi NTT,” jelas Abdullah.

Pada edisi sebelumnya posflores.com beritakan terdapat delapan (8) pemilik dan kelompok tambang yang diduga belum mengantongi izin di Kecamatan Rana Mese, Manggarai Timur.

Kelompok atau pemilik yang melakukan aktifitas tersebut di antaranya adalah PT. Flores co, PT. Menara, Wae kuli, Kasih Sayang, Lempa Rondo, Kadung, Golo Lale dan juga ada salah satu pemgusaha yang berlokasi di hulu Wae Reca.

Menurut informasi yang diperoleh posflores.com dari seorang warga yang tidak ingin namanya dipublikasikan mengatakan bahwa, praktik penambangan (galian c) milik salah satu anggota DPRD Kabupaten Manggarai Timur,  diduga bermasalah, karena mekanismenya tidak sesuai dengan izin yang diberikan.

Kata warga tersebut, mobil angkutan material tidak menggunakan terpal penutup sehingga menyebabkan polusi udara yang berdampak pada lingkungan sekitar seperti sektor pertanian akibat debu.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Manggarai Timur, Donatus Datur, mengatakan bahwa proses penggalian harusnya menggunakan metode trap-trap (terasering). Mirisnya dalam proses penggalian, kondisinya sangat curam, kurang lebih mencapai 60 meter.

“Fakta itu sangat berdampak terjadinya erosi serta berpotensi merugikan lahan warga yang berbatasan langsung dengan lokasi tambang,” kata Datur. [Marselino Ando]

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top