oleh

Dihipnotis Orang melalui Telepon, Pelajar di Kota Komba ini Mengaku Linglung

BORONG, POSFLORES.COMPenemuan teknologi seperti hand phone tentunya disambut positif oleh masyarakat. Pasalnya melalui telepon genggam tersebut, kita bisa berkomunikasi, mengakses informasi dan memperoleh hiburan dari fitur-fitur menarik seperti, internet, games, music dan lain-lain. Namun akan berdampak negatif apabila digunakan untuk melancarkan aksi kejahatan.

Salah satu contoh dari penyalahgunaan handphone adalah dengan melakukan penipuan dengan cara menghipnotis orang lain dari jauh untuk kepentingan pribadi. Seperti yang dialami Lidia Holorataluna, pelajar SMAN di Kecamtan Kota Komba, Manggarai Timur, Flores, NTT.

Lidia Holorataluna, siswi SMAN 6 Kota Komba pernah menjadi korban hipnotis melalui handphone pada tanggal 06 April 2020 lalu. Kepada posfores.com , Selasa, 21 April 2020 di kediamannya di Kisol, Kelurahan Tana Rata, Lidia menjelaskan kronologi kejadian yang pernah menimpanya.

“Waktu itu saya sementara belajar di rumah. Sekitar jam 10.00 witta ada telepon masuk dari nomor baru yang mengaku sebagai Owin (bapak kecil Lidia). Katanya ia lagi berada di SPBU di Kota Borong dan menemukan tas yang berisikan uang sebanyak Rp.17.000.000, serta kalung 25 gram dan hp samsung. Owin di tuduh sebagai pencuri barang tersebut oleh security SPBU. Ia minta bantuan saya untuk mengaku, sebagai pemilik tas yang kebetulan buru-buru keluar kota sehingga lupa di toilet,” jelas Lidia.

Menanggapi hal itu, Lidia mengaku merasa iba terhadap bapak kecilnya. Lalu ia memutuskan untuk mengamini permintaan Owin alias bapak kecilnya.

“Berselang 2 menit saya menerima telepon masuk dari orang yang mengaku bernama Joko, yamg katanya sebagai securiti SPBU. Ia menanyakan perihal tas tersebut dan saya pun menjelaskan sesuai intruksi dari Owin. Namun Joko sedikit bimbang dengan penjelasan saya, lalu ia minta isi pulsa sebesar Rp 200.000, ke nomornya. Kalau tidak menuruti keinginannya, maka Owin akan dilaporkan ke pihak berwajib dengan tuduhan pencurian. Saya merasa ling-lung dan benar-benar masuk dalam alam pikiran mereka, jadinya saya rela berjalan kaki sejauh 2 km untuk membeli pulsa,” ungkap Lidia.

Sementara itu, Tina (Ibunda korban) mengatakan bahwa, aura dan tingkah anaknya berbeda dari biasanya.

“Ketika anak saya kembali ke rumah, aura wajahnya kelihatan seperti orang yang kebingungan dan ia tidak mendekati saya karena lagi sibuk telepon. Tidak lama berselang, tetangga rumah yang juga berstatus ipar langsung memukul pundaknya. Seketika itu juga anak saya sadar dan menceritakan kronologai kejadian,” jelas Tina.

Menurut Tina, dirinya sempat menghubungi kembali nomor pelaku, namun nomor tersebut berada di luar jangkauan.

Aksi penipuan melalui media telepon seluler marak terjadi. Pelaku penipuan seringkali mengaku sebagai kerabat dekat. Korban seringkali tidak menyadari bahwa dirinya sedang masuk ke dalam perangkap yang dibuat pelaku. [Marselino Ando]

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

News Feed