Banner-Top
Banner-Top

Empat Kawasan Hutan Lindung di Matim Rawan Dirambah

Papan Informasi di Kawasan Hutan Lindung
Papan Informasi di Kawasan Hutan Lindung

Borong, Posflores.comEmpat kawasan hutan lindung di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) rawan dirambah, juga terindikasi adanya aktifitas perburuan liar. Ke-4 kawasan hutan lindung tersebut, yakni, Pota, Puntu ll, Manus Mbengan dan Ndeki Komba.

Demikian disampaikan Kepala Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Marselus Ndeu, saat diwawancarai Posflores.com, di ruang kerjanya, Senin (10/8/2020).

Merselus mengaku, pihaknya sering  memantau lokasi kawasan hutan lindung tersebut. Namun, cukup kesulitan untuk melacak para perambah dan pelaku perburuan liar.

“Kami cukup kesulitan untuk melacak aktifitas mereka. Kami juga sering turun lokasi untuk patroli, tetapi jadwalnya tidak pasti, karena masih kurang pada Sumber Daya Manusia (SDM) dan topografi kawasan yang cukup menantang,” jelasnya.

Dikatakannya, untuk mengurangi perilaku masyarakat yang tidak bertanggung jawab itu, UPTD KPH Wilayah Matim sudah bekerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda), gereja, kelurahan dan desa, juga tokoh masyarakat yang berada di sekitar lokasi kawasan hutan lindung. 

Marselus juga menambahkan, selain empat kawasan hutan itu, Manggarai Timur, memiliki empat kawasan lainnya, yakni, Riwu, Sawe Sange, Waerana dan Wuewolomere.

3000 Hektare Dirambah

Sementara itu, Kordinator Bidang Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Hutan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Ruteng, Afrit Alang, mengatakan, kawasan hutan di Kabupaten Manggarai Timur yang sudah diramba oleh masyarakat, diperkirakan lebih dari 3000 hektare. 

Ia berujar, kawasan hutan yang sudah dirambah itu, ditanami berbagai jenis tanaman, seperti, kopi dan keladi. “Kemudian ada yang buat pondok,” katanya di sela-sela kunjungan kerja di  kawasan hutan Lok Pahar, Kamis, 5 Juni 2020 lalu. 

Elfrit mengaku, pihaknya sudah melakukan upaya pengamanan kawasan hutan sejak tahun 1993. Bahkan, nyaris setiap tahun, BKSDA memberikan penyuluhan dan penyadaran kepada masyarakat. 

“Kita sudah sosialisasi tentang manfaat hutan, kemudian sanksi bagi para pelanggar dan sosialisasi di daerah penyangga atau daerah sekitar kawasan hutan,” terangnya. 

Namun, upaya itu justru tidak diindahkan. Warga di sekitar kawasan hutan, tetap melakukan aktifitas perambahan.

“Sudah ada yang masuk penjara, tetapi, begitu keluar dari penjara mereka tetap merambah lagi di kawasan hutan,” tukasnya.

Oleh karena itu, tambah Elfrit, pihaknya, menghendaki keterlibatan seluruh stakeholder untuk menjaga kawasan hutan di Manggarai Timur. 

Hutan jelasnya, tidak hanya sebagai tempat persediaan air minum, tetapi, tempat tumbuhnya tanaman obat-obatan yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat. 

“Maka saya sarankan mari kita sama-sama menjaga hutan kita. Jangan berpikir ini hanya tanggung jawab BKSDA tetapi kita semua,” tukasnya. (man)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top