Sen. Des 9th, 2019

Lugas, Berani, Independen

Festival Tapa Kolo dan Tarian Caci Siap Meriahkan HUT Matim

3 min read

Ilustrasi tapa Kolo/ Nasi Bambu. Foto/dok. Yon Sahaja.

Oleh: Yon Sahaja

 

BORONG, POSFLORES.COM–Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Manggarai Timur ke 12, pada tanggal 23 November 2019, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur, menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dikemas dengan sebutan Pekan Raya Manggarai Timur (PRMT). PRMT dihitung sejak senin 18 November 2019 hingga upacara puncak 23 November 2019.

Kegiatan yang diselenggarakan antara lain, bhakti sosial bersih, pameran hasil kerja kelompok binaan beberapa instansi teknis, lomba lari, lomba tari kreasi tingkat SMA, festival tapa kolo (Nasi Bambu), acara adat penti (Syukuran)  yang dimeriahkan permainan caci (Uji Ketangkasan)  serta upacara puncak HUT KMT ke 12 tanggal 23 november 2019.

Festival tapa Kolo akan melibatkan semua pegawai baik PNS maupun THL untuk meriahkan HUT Matim yang dilaksakan di pelataran kantor Bupati Manggarai Timur, ” kata Agus Supratman, Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat Daerah Kabupaten Manggarai Timur,  kepada wartawan di Borong,  Selasa, 19 November 2019.

Ia mengatakan,  tapa kolo meruapakan salah satu kegiatan adat masyarajat Manggarai Timur ketika mengadakan penti (Syukuran hasil panen).

Tapa” berarti bakar dan “Kolo” berarti nasi bambu. Jadi Tapa Kolo adalah membakar nasi dengan menggunakan bambu kecil. Biasanya, warga lokal Manggarai Timur memasak nasi dengan bambu pada acara syukuran tahunan atau “Penti” di rumah adat gendang”, jelasnya.

Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Sekretariat Daerah Kabupaten Manggarai Timur,  Agus Supratman juga mengatakan,  setelah pelaksanaan upacara peringatan HUT, semua undangan akan disuguhi berbagai macam persembahan atraksi serta permainan caci  (uji ketangkasan).

Tarian Caci,  jelas Agus, merupakan tarian perang yang dimainkan oleh dua laki-laki yang saling bertarung menggunakan cambuk dan perisai.  Caci biasanya ditampilkan diberbagai acara, seperti saat syukuran musim panen padi (hang woja), ritual tahun baru atau syukuran panen (penti), dan berbagai upacara adat lainnya.

Tari Caci,  lanjut dia,  merupakan uji ketangkasanpara lelaki Manggarai.  Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun bagi masyarakat Manggarai.

Agus menambahkan dalam permainan Caci,  laki-laki Manggarai bertarung satu lawan satu untuk menguji nyali dan ketangkasan. Tarian Caci diiringi bunyi gong dan gendang, tarian dan lagu.

Tari Caci berasal dari kata “Ca”, yang berarti satu, dan “Ci” yang berarti uji atau menguji. Sehingga Caci merupakan uji ketangkasan satu lawan satu,” jelasnya.

Ia mengatakan,  Caci berarti bertarung,  hasilnya pasti berdarah karena luka terkena cambukan.  Meski ada unsur kekerasannya,  namun Caci,  kata Agus memiliki  pesan damai, seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan diselesaikan tanpa ada rasa dendam.

Ia menjelaskan,  pertunjukan tari Caci tidak bisa lepas dari sekelompok penari. Kelompok penari ini biasanya dibagi menjadi dua bagian dan dipertandingkan satu lawan satu. Sebelum para pemain caci bertarung, para pemain biasanya menari dengan gaya dan ciri khasnya masing-masing, kemudian dibuka dengan tari sanda dan danding.

Kegiatan PRMT dalam rangka HUT Matim, kata Agus, wajib dilaksanakan setiap tahun dan menjadi kalender tetap kegiatan Pemda Matim. Pekan Raya Manggarai Timur sudah menjadi kegiatan wajib setiap tahun. Kegiatan PRMT ini melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat,”  kata Agus.

Selain masyarakat, sekolah-sekolah juga turut ambil bagian dalam rangka hari ulang tahun Kabupaten Manggarai Timur. Para pelajar  mengambil bagian pada item item kegiatan yang selenggarakan, tarian dan ikut dalam perlombaan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Timur, ungkap Agus.(*)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.