Banner-Top
Banner-Top

Frans Damur, Petinju Berjiwa Sosial Asal Manggarai Timur

Frans Damur (masker hitam) saat menyalurkan bantuan. Foto/Marto.
Frans Damur (masker hitam) saat menyalurkan bantuan. Foto/Marto.

SURABAYA, POSFLORES.COMFrans Damur, Petinju asal Kampung Wuas, Kabupaten Manggarai Timur, dibanjiri ucapan apresiasi dari perantau asal Nusa Tenggara Timur yang ada di Surabaya.

Frans damur merupakan seorang petinju yang sudah bertanding 70 kali, baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Damur juga pernah meraih juara asia pasifik versi badan tinju OPBF (Orient and Pacific Boxing Federation) kelas 50,8 Kg pada tahun 2016 dan 2017 lalu.

Selama pandemi Covid-19 ada di tanah air, Frans Damur giat mencari donatur untuk mencari bantuan untuk diberikan kepada para mahasiswa maupun pekerja (buruh) asal Nusa Tenggara Timur yang ada di Surabaya. Hal serupa pun dilakukannya pasca penerapan new nornal di wilayah itu.

Atas ketulusannya itu, frans damur mendapatkan apresiasi dari para perantau yang ada di Surabaya. Seperti diungkapkan Fonsianus Marto, mahasiswa di Universitas Wilayah Putra Surabaya asal Manggarai Timur yang pernah mendapatkan bantuan dari Frans Damur

“Biar dalam keterbatasan, Pak Damian masih melihat mahasiswa, keluarga, sesama saudara yang mengalami kekurangan. Banyak sekali saudara kita memberi apresiasi padanya. Saya pribadi sangat mengapresiasi tindakan beliau,” ucap Marto, Sabtu,  20 Juni 2020.

Bukan hanya Marto, hal yang sama juga diungkakan oleh Usjen yang saat ini diberhentikan dari pekerjaannya disebuah Hotel di Surabaya. Menurut Usjen, Petinju Damur sangat mulia hatinya. Kata Usjen, Frans Damur bergerak tanpa lelah untuk mengandeng rekan sposornya untuk menyalurkan bantuan.

“Kami sangat respek degan beliau, dia sangat memperhatikan sesama perantau. Sebelumnya Beliau dipernah bagikan bantuan kepada kami,” kata Usjen.

Mendapat apresiasi dari penerima bantuan, Frans Damur pun dengan rendah hati mengatakn bahwa hal tersebut  merupakan kewajiban sebagai sesama manusia untuk saling menolong.

“Yang paling penting adalah mereka itu adalah sebuah keluarga besar kita, yang sekarang di perantauan. Kalau nanti kita pulang kampung masing-masing, ya, itu adalah kenangan,” kata Damur.

Dikatakan Damur, sebelum dirinya menjadi orang yang sukses, dia tau betul bagaimana merasakan hidup susah, karena dia datang dari kehidupan yang susah. Tentu hal ini membuatnya sangat peduli dengan sesama perantau. [Wil Susu]

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top