Banner-Top
Banner-Top

Gunakan Dokumen Palsu, WW “Diamankan” Tim Surveillance Dinkes Mabar

Tim Surveillance KKP dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat sedang melakukan tracing terhadap penumpang Kapal Binaya di Pelabuhan Pilemon Labuan Bajo, Selasa (28/7/2020) malam. (Foto: FEC Media).
Tim Surveillance KKP dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat sedang melakukan tracing terhadap penumpang Kapal Binaya di Pelabuhan Pilemon Labuan Bajo, Selasa (28/7/2020) malam. (Foto: FEC Media).

Labuan Bajo, Posflores.com-Gunakan dokumen palsu, WW, seorang penumpang Kapal Binaya, penyeberangan Makassar-Labuan Bajo ‘diamankan’ Tim Surveillance Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Selasa (28/7/2020) malam. Akibatnya, WW, dibawa ke rumah karantina Pemkab Mabar untuk di-tracing lebih lanjut.

Pantauan Posflores.com, Kapal Binaya penyeberangan Makassar-Bima-Labuan Bajo bersandar di Dermaga Pilemon, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Selasa (28/7/2020) pukul 20.00 Wita.

Kapal tersebut membawa 51 penumpang pelaku perjalanan menuju Kabupaten Manggarai Barat. Sebaliknya, kapal itu juga mengangkut 40 penumpang telah dinyatakan layak menuju Makassar.

Setelah tiba di Labuan Bajo, 51 orang penumpang tersebut menjalani screening dan tracing. Hasilnya, satu orang penumpang belum diizinkan melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya.

Penumpang itu, WW (24), seorang pelaku perjalanan dari Jayapura yang hendak menuju kampung asalnya di Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. WW, belum diizinkan pulang karena menggunakan dokumen yang tidak valid.

Menurut koordinator lapangan Tim Surveillance Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mabar, Hans Mboik, penumpang WW, mengantongi dokumen perjalanan berupa surat keterangan hasil rapid test dan fotokopi Kartu Tand Penduduk (KTP). Namun, berkas tersebut atas nama orang lain. Karena itu, WW, langsung dibawa ke rumah karantina Pemkab Mabar untuk di-tracing lebih lanjut.

WW, mengaku, KTP-nya telah hilang saat kerja di Merauke.
WW, menceritakan, pergi ke Merauke tahun 2019 dan bekerja di pelabuhan container selama satu tahun dua bulan. Lantaran KTP-nya hilang, ketika mengurus surat keterangan rapid test, pihaknya pinjam KTP teman yang hendak pulang juga.

“Ini memang hasil rapid test saya, tapi nama orang lain. Setelah urus surat rapid test, saya langsung beli tiket pulang,” tuturnya. *(obe).

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top