INDUSTRI SEMEN MANGGARAI TIMUR, BERKAT ATAU PETAKA?




INDUSTRI SEMEN MANGGARAI TIMUR, BERKAT ATAU PETAKA?

Oleh: LEONARDUS LEWA LEKO

Akademisi Universitas San Pedro Kupang

 

Sebelum saya mengulas, perlu saya sampaikan bahwa tulisan ini memiliki tujuan untuk mengedukasi masyarakat agar mampu menentukan sikap apakah menolak atau menerima kehadiran pabrik semen di Kabupaten Manggarai Timur.

Beberapa hari lalu Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020-2024. Ada 62 daerah di Indonesia yang masih tertinggal dan Manggarai Timur masuk dalam daftar tersebut. Ini menunjukan bahwa Manggarai Timur belum bisa keluar dari lingkaran rantai kemiskinan. Masyarakat berharap agar pemerintah bekerja lebih maksimal dengan cara mengelola, memanfaatkan segala potensi sumberdaya alam hayati maupun non hayati yang ada diwilayah Kabupaten Manggarai Timur. Misalnya salah satu sumber daya alam hayati adalah kopi Arabika Jurio asal Colol yang beberapa tahun silam pernah viral sampai manca negara (www.youtube.com/watch?v=aQhYlrEBxTY). Memang tidak segampang membalikan telapak tangan untuk membangun daerah Manggarai Timur yang luasnya 2.642,93 km² bila hanya dari kopi saja.

Pro kontra wacana kehadiran pabrik semen di kabupaten Manggarai Timur akhir-akhir ini gencar diperbincangkan di media. Berbagai aktivis pecinta lingkungan (Gereja, LSM, Organisasi mahasiswa) menyatakan penolakannya dengan berbagai argumen yang mendasar. Ada juga yang pro/terima bila Manggarai Timur ditempati pabrik semen, tentu juga memiliki alasan mendasar. Saya coba mengkaji dari pengetahuan tentang pabrik semen dan prosesnya serta dampak terhadap lingkungan berdasarkan penelitian saya pada salah satu pabrik semen.

Industri Semen dan Proses Produksi

Industri semen merupakan salah satu industri yang menggunakan pemanasan suhu tinggi dalam proses produksi. Bahan bakar utama yang digunakan berasal dari bahan bakar fosil jenis batu bara dan bahan baku utama berupa batu kapur/gamping, tanah liat. Kedua bahan baku tersebut diperoleh dari proses penambangan di quarry (tempat penggalian).

Proses pembuatan semen dibagi menjadi 5 tahapan, yaitu sebagai berikut :

  1. Penambangan Bahan Baku dan penyiapan bahan baku

Tahapan proses penambangan bahan baku ini dimulai dari proses pengupasan tanah (Stripping), Pemboran dan peledakan (drilling and blasting), penggalian/pemuatan (digging/loading), pengangkutan (hauling), pemecahan (crushing).

  1. Penggilingan Awal

Setelah semua bahan baku dihancurkan menggunakan alat crusher selanjutnya akan dilakukan penggilingan awal. Pada proses penggilingan awal ini pile batu kapur dan tanah liat akan dicampur dengan bahan baku tambahan berupa pasir silika dan pasir besi. Kedua bahan baku tambahan ini kalau tidak ada di lokasi tambang maka akan diangkut dari daerah lain. Penggilingan awal ini bersifat basah maka akan dikeringkan dengan suhu 300 0C sampai 400 0C.

  1. Proses Pembakaran

Ada 3 tahap dalam proses pembakaran yakni pemanasan awal (preheating), Pembakaran (Firing), Pendinginan (Cooling). Alat utama pada proses pembakaran awal bahan baku adalah suspension pre-heater (alat pemanasan awal bahan baku). Pada tahap ini terjadi pemanasan bahan baku menjadi seperti debu. Perkembangan teknologi saat ini dapat menekan pemborosan bahan bakar pada proses pembakaran awal/kalsinasi. Setelah proses pembakaran awal selanjutnya bahan setengah jadi akan lanjut ke tahap Firing dengan alat utama yakni tanur putar/rotary kiln. Temperatur material yang masuk adalah 8000C – 9000C sedangkan temperatur yang keluar dari tanur adalah 1.100 0C sampai 1.400 0C. Hasil akhir dari proses Firing adalah klinker (semen yang masih berbentuk biji). Selanjutnya masuk pada tahap pendinginan (cooling). Pada tahap ini klinker akan didinginkan dengan menggunakan alat cooler dengan laju fase pendinginan yang cepat. Setelah dilakukan pendinginan klinker akan ditampung dan dilakukan penggilingan akhir.

  1. Penggilingan Akhir

Pada penggilingan akhir ini akan ditambahkan lagi dengan bahan baku korektif seperti gypsum dan bahan baku aditif yaitu trass, fly ash, slag dan lain-lain. Hasil akhirnya adalah semen yang selanjutnya akan dikemas.

  1. Pengemasan

Pada proses pengemasan ada 2 yakni pertama, dalam bentuk zak (kraft dan woven) yang selanjutnya akan didistribusi ke toko-toko bangunan dan kedua pengemasan dalam bentuk curah yang didistribusikan ke proyek-proyek.

Gambaran penjelasan tahapan proses pembuatan semen di atas tentu hanya diuraikan secara garis besar saja. Pada setiap tahapan tentu mnghasilkan limbah.

Dampak Pembangunan Industri Semen dari Aspek Lingkungan

Sektor industri memiliki peranan penting dalam tata perekonomian nasional. Selain dapat meningkatkan pendapatan negara, sektor industri juga dapat memberikan peluang usaha yang akan memberi kontribusi positif dalam upaya pemerataan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran perusahaan industri semen di Kabupaten Manggarai Timur diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kondisi sosial dan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Indikator peningkatan kondisi ekonomi masyarakat, dapat dilihat dari peningkatan pendapatan masyarakat yang disebabkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja dan terbukanya peluang usaha yang lebih luas bagi masyarakat lokal yang terkena dampak baik dampak langsung maupun tidak langsung, sehingga akan berdampak kepada meningkatnya kesejahteraan dan kualitas hidupnya.

Para peneliti mengungkapkan bahwa keberadaan industri juga akan memberikan dampak dan pergeseran bagi masyarakat. Pergeseran sosial kultural masyarakat terutama masyarakat pedesaan, perubahan tatanan kehidupan masyarakat sangat diakibatkan oleh adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan komunikasi, serta kemampuan, keinginan masyarakat untuk berpikir maju (Hatu, 2011:8). Industrialisasi bukanlah suatu perjalanan sejarah yang unilineal (satu garis lurus saja) dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, masyakat tradisional ke masyarakat modern, tetapi suatu evolusi multilineal (proses panjang dan bercabang-cabang) (Kuntowijoyo, 1998: 172).

Disamping berdayaguna bagi daerah umumnya dan masyarakat lokal khususnya, kehadiran industri semen justru berdampak negatif pada komponen lingkungan biotik dan abiotik. Dari kedua komponen ini yang paling banyak terkena dampak dari industri semen yakni manusia hewan dan tumbuhan.

Proses pembuatan semen mulai dari penggalian bahan baku sampai pada proses pengemasan semuanya memiliki dampak negatif bagi komponen biotik maupun abiotik. Misalnya pada proses penggalian mulai dari pengupasan tanah sampai pada pengangkutan, ada dampak yang terjadi disini seperti bila dilakukan penambangan bahan baku pada musim kemarau maka debu yang ditimbulkan bisa berdampak buruk bagi penambang dan manusia yang bermukim di sekitar lokasi tambang. Bila dilakukan pada musim hujan maka akan menimbulkan run off yang dampak sekundernya erosi. Lubang tambang juga akan berdampak pada kulitas tanah. Struktur dan komposisi tanah akan mengalami perubahan akibat reaksi kimia-fisika yang diakibatkan oleh perubahan suhu (cahaya matahari) yang bereaksi dengan komponen kimia tanah dan udara.

Pada proses produksi, limbah yang dihasilkan dari emisi buangan industri biasanya berupa gas tercemar (polutan) seperti (SOx, NOx) dan Partikel debu (ukuran bervariasi). Gas dan partikel debu ini akan ada bila dalam proses pembakaran menggunakan bahan bakar fosil (batu bara dan minyak). Pada negara maju proses pembakaran sudah menggunakan sampah domestik sebagai bahan bakar. Di Indonesia manajemen pengelolaan sampah belum maksimal dan teknologinya belum berkembang, akan tetapi beberapa pabrik semen sudah mulai melakukan riset dengan memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar industri semen.

Kadar Sulfur (S) dalam bahan bakar fosil bila dibakar maka akan terlepas ke udara lalu bereaksi dengan Oksigen (O2) menjadi Sulfur oksida (SOx). Sulfur Oksida bila bereaksi dengan upa air (H2O) maka akan menjadi Asam sulfat (H2SO4). Nitrogen juga mengalami proses seperti pada Sulfur bereaksi dengan upa air akan menjadi asam nitrat. Asam sulfat dan asam nitrat akan turun dalam bentuk titik-titik air, yang disebut hujan asam (Witono, 2003). Bila hujan asam ini terkena pada tumbuhan akan menyebakan gagal fotosintesis (nekrosis) dan secara luas terjadi pemutusan rantai makanan (food changes) dan banyak hewan kehilangan makanan. Bila mengenai mata manusia akan terasa perih dan dapat menimbulkan iritasi pada mata dan kulit. Bila terkena pada bangunan maka akan terjadi karatan karena bereaksi dengan zat asam. Di Indonesia belum pernah terjadi hujan asam. Pernah terjadi di dunia yakni di Amerika Serikat tahu 1990an, Inggris, Cina dan lain-lain. Namun hujan asam ini bukan hanya sumbangan dari industri semen saja tetapi berbagai industri yang menggunakan bahan bakar fosil dari minyak dan batu bara.

Partikel debu sebagai limba yang dihasilkan dari industri semen sangat berbahaya khususnya partikel debu berukuran lebih kecil dari PM2,5 (Part/million) dan kurang dari PM10 yang diyakini para pakar lingkungan dan kesehatan masyarakat sebagai pemicu timbulnya infeksi saluran pernafasan karena dapat mengendap pada saluran bronki dan alveoly (bagian paru-paru sebagai tempat difusi dan osmosis oksigen). Selain partike debu ada juga jenis dust (debu), smog (asap), fly ash yang juga dapat membahayakan kehidupan manusia. Polutan-polutan ini akan berdampak buruk bagi manusia dan makhluk hidup lainnya apabila konsentrasi pencemarannya melampaui baku mutu udara ambien yang ditetapkan dalam Peraturan Perudangan nomor 41 tahun 1999 tentang baku mutu udara ambien.

Polutan ini dapat diatasi secara teknologi dan secara alamiah. Secara alamiah dapat dilakukan dengan penanaman pohon yang memiliki daya serapnya tinggi. Tumbuhan secara alamiah dapat menyerap gas-gas untuk proses katabolisme. Teknologi yang digunakan untuk meminimalisir polutan di udara industri semen saat ini pada setiap cerobong dilengkapi dengan EP (electrostatic precipitator) yang berfungsi untuk menangkap debu dan gas sebelum dilepaskan ke udara. Alat ini secara periodik akan dpantau dan melakukan perbaikan (mengganti yang baru) agar proses penyaringan berjalan efektif selama proses produksi berlangsung. Bila alat ini mengalami kerusakan atau tidak pernah melakukan pergantian maka konsentrasi polutan di udara akan meningkat.

Tinggi rendahnya konsentrasi polutan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya cerobong emisi, konsentrasi polutan yang diemisikan, meteorologi (angin, penyinaran matahari) dan topografi. Ketika saya melakukan penelitian terkait pencemaran udara pada industri semen, variaebl-variabel ini sangat berpengaruh terhadap konsentrasi polutan di udara apalagi penelitian pemodelan tiga dimensi. Hasilnya bahwa konsentrasi polutan pada udara ambien dibawah baku mutu yang diitetapkan (PP no. 41 tahun 1999). Dalam penelitian saya selain pengambilan sampel lapangan saya juga melakukan pemodelan sampai jarak 7 kilo meter dari cerobong pabrik.

Analisis sebaran pencemar udara dari sumber perlu dilakukan sesuai anjuran peraturan perundangan dalam upaya mengestimasi dampak yang mungkin terjadiyakni harus dilakukan 3 bulan sekali yakni dengan pengambilan sampel udara pada lokasi industri dan disekitar industri kemudian laporan analisisnya disampikan ke Dinas Lingkungan Hidup. Hal ini mengingat bahwa atmosfer sangat dinamis. Pergerakan udara, kecepatan angin dapat berubah setiap saat.

Kandungan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Seperti halnya dengan industri lain, industri semen berpotensi untuk menghasilkan limbah. Limbah yang berupa fly ash, bottom ash dan beberapa jenis limbah lain yang merupakan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Apabila limbah ini tidak ditangani dengan baik dan benar, dikhawatirkan dapat merugikan kegiatan industri dan lingkungan di sekitarnya.

Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun mendefinisikan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.

Limbah B3 berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 tahun 2014 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. Limbah B3 adalah limbah atau bahan yang berbahaya, karena jumlahnya, konsentrasi atau sifat-sifat fisika, kimia dapat menyebabkan atau secara signifikan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan penyakit, kematian dan berbahaya bagi kesehatan manusia atau lingkungan jika tidak benar-benar diolah atau dikelola, disimpan, dibawa, atau dibuang.

Menurut PP 101/2014, pengelolaan limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan/atau penimbunan. Beberapa jenis limbah B3 dari industri semen adalah oli bekas, accu bekas, lampu bekas, limbah cair laboratorium, kemasan bekas, drum bekas, bag fiter, bottom ash, fly ash, dan lain-lain. Untuk pengelolaan limbah B3 ini, setiap industri semen akan membangun alat insinerator (alat pembakaran berssuhu tinggi) seperti yang dimiliki industri Semen Kupang saat ini. Bahkan saat ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT akan membangun UPTD Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 yang didalamnya ada mesin insinerator untuk mengelola semua jenis limbah B3 terutama limbah B3 medis.

Perlu Mengawal Pekerjaan Dokumen AMDAL

Dokumen AMDAL bukan dokumen receh-receh. Dalam Kajian AMDAL ada langkah-langkah konkrit dan kajian mendalam terkait suatu usaha dan/atau kegiatan. Mula-mula sebelum menyusun dokumen AMDAL, konsultan AMDAL akan meminta dokumen mulai dari DED (Detailed Engineering Design), FS (Feseability Study), Dokumen persetujuan pelepasan hak, Dokumen Ijin Lokasi, Ijin Prinsip dan masih banyak lagi ijin dan persetujuan dari berbagai dinas dibawah koordinasi provinsi maupun dinas yang koordinasinya dibawah kementrian.

Dalam DED dapat dilihat model desain misalnya pengelolaan limbah dan semua komponen termasuk gedung produksi sampai pos satpam. Untuk menyusunnya perlu studi lapangan. FS juga melalui studi lapangan dan fungsinya untuk menilai apakah usaha dan/atau kegiatan tersebut layak untuk diimplementasikan dari sisi ekonomi dan sosial misalnya financial benefit, macro ekonomi benefit dan social benefit.

Setelah itu dilakukan sosialisasi dan publikasi pada lokasi usaha dan/atau kegiatan dengan mengundang masyarakat, Dinas Lingkungan Hidup, LSM, tokoh Gereja, tokoh masyarakat dan tokoh penting lainnya. Isi sosialisasinya adalah dampak yang ditimbulkan bila dilakukan usaha dan/atau kegiatan pada lokasi tersebut. Disini tentu akan ada komitmen perjanjian antara masyarakat, pemerhati lingkungan dan pemrakarsa terkait dengan masalah lingkungan, ganti rugi lahan, perekrutan tenaga kerja, dan lain-lain yang pada dasarnya menguntungkan masyarakat.

Ada aspek-aspek lingkungan dalam dokumen AMDAL yang harus dijelaskan berdasarkan Studi AMDAL yakni mulai dari aspek Geofisik kimia (Air, Udara, Tanah, Kelistrikan, dan lain-lain), aspek Biologi (Flora, Fauna), aspek ekonomi (manusia), Aspek Sosial Budaya (manusia), aspek kesehatan masyarakat (manusia dan lingkungan). Aspek-asek lingkungan ini berdampak langsung dengan usaha dan / atau kegiatan yang akan berlangsung baik dampak primer maupun dampak sekunder.

Disini saya tidak serta merta menolak hadirnya industri semen di Kabupaten Manggarai Timur. Saya juga tidak serta merta mendukungnya. Setiap aktivitas pertambangan dan industri akan membawa dampak besar bagi lingkungan baik dampak positif maupun dampak negatif. Dampak negatif pasti akan diminimalisir yang dapat kita temukan dalam dokumen AMDAL. Syarat dokumen AMDAL adalah DAMPAK POSITIF LEBIH BESAR DARI DAMPAK NEGATIF.

Saya memahami para pecinta lingkungan melakukan penolakan terhadap wacana pembangunan industri semen di Kabupaten Manggarai Timur ini karena mereka berkaca dari pengalaman setelah melakukan melakukan banyak ekspedisi diseluruh Indonesia dan mereka menemukan bahwa tambang memang menciptakan lubang-lubang neraka yang setiap saat mengancam nyawa manusia dan lingkungan pada umumnya. Pengalaman mereka ini perlu kita rekam sebagai referensi dalam mengkawal pembangunan di Manggarai Timur tercinta.

Demikian tulisan saya, semoga bermafaat bagi kita semua.

“PESATNYA PEMBANGUNAN MENUNJUKAN DAERAHNYA SEDANG BERKEMBANG. PEMBANGUNAN YANG DIHARAPKAN ADALAH PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN HIDUP”.

Facebook Comments




Share and Enjoy !

0Shares
0


0

Berita Lainnya

109 Sampel asal Manggarai Timur dinyatakan Negatif Covid-19

BORONG, POSFLORES.COM--Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Boni Hasudungan Siregar mengatakan bahwa hasil Swab ulang pasien 01 yang dikirim ke Rsud Wz Johanes Kupang hingga...

Dua Rumah Ibadah di Matim Mendapat Bantuan Sosial dari Partai Golkar

BORONG, POSFLORES.COM--Partai Golkar melalui Ketua DPD ll Nusa Tenggara Timur, Vinsensius Reamur, memberikan bantuan sosial kepada dua (2) rumah ibadah di Manggarai Timur, Selasa...

Pernyataan Sikap PMKRI Cabang Ruteng Terkait Kemelut SMKN 1 Wae Ri’i

PERNYATAAN SIKAP A. Dasar Pemikiran Pada tanggal 13 Juli 2020, Forum Guru PNS Dan Guru Komite SMKN 1 Wae Ri’i melakukan aksi solidaritas perihal...

Berita Terbaru

109 Sampel asal Manggarai Timur dinyatakan Negatif Covid-19

BORONG, POSFLORES.COM--Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Boni Hasudungan Siregar mengatakan bahwa hasil Swab ulang pasien 01 yang dikirim ke Rsud Wz Johanes Kupang hingga...

Dua Rumah Ibadah di Matim Mendapat Bantuan Sosial dari Partai Golkar

BORONG, POSFLORES.COM--Partai Golkar melalui Ketua DPD ll Nusa Tenggara Timur, Vinsensius Reamur, memberikan bantuan sosial kepada dua (2) rumah ibadah di Manggarai Timur, Selasa...

Pernyataan Sikap PMKRI Cabang Ruteng Terkait Kemelut SMKN 1 Wae Ri’i

PERNYATAAN SIKAP A. Dasar Pemikiran Pada tanggal 13 Juli 2020, Forum Guru PNS Dan Guru Komite SMKN 1 Wae Ri’i melakukan aksi solidaritas perihal...

Tempat Hiburan Malam di Cepi Watu Belum Bisa Ditutup

BORONG, POSFLORES.COM--Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur belum memutuskan untuk menutup tempat hiburan di Cepi Watu Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong. Hal tersebut berdasarkan hasil rapat koordinasi...

Ini Desa Penghasil Porang Terbanyak di Manggarai Timur

BORONG, POSFLORES.COM--Rana Kulan. Rana Kulan merupakan Desa Agrowisata dan salah satu Desa penghasil Porang terbanyak di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Desa yang memiliki...
Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0