Ini Respon Anak dari PDP yang Meninggal di Ruteng

Hendrikus Rendang. Foto/Hendrikus koleksi.

RUTENG, POSFLORES.COMSatu orang PDP wanita asal Kampung Pitak, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, berinisial TLJ telah meninggal dunia di RSUD Ben Mboi Ruteng pada minggu (3/5/2020).

Atas meninggalnya pasien berstatus PDP tersebut, Pemerintah Kabupaten Manggarai langsung menyampaikan bahwa pasien itu harus dikuburkan sesuai protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19. Namun, keputusan yang diambil Pemda Manggarai tersebut mendapat respon keras dari anak almarhumah.

Respon keras tersebut disampaikan putra kedua almarhumah TLJ, Hadrianus Rendang. Dirinya membeberkan beberapa fakta terkait terkait penyakit yang dialami ibundanya. Hadrianus bersama keluarga tidak terima kalau almarhumah ibunya dikuburkan sesuai protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19.

“Ibu saya punya riwayat sesak nafas. Sudah lama sekali, bahkan 5 tahun sempat koma dan hampir meninggal,” ungkap Hadrianus.

Hadrianus menambahkan, sejak saat itu almarhumah ibunya tidak boleh kecapean, karena kalau kecapean, maka ibunya langsung masuk UGD. Dirinya mengakui bahwa, ibunya sudah terlalu sering masuk Rumah Sakit.

Menurut Hadrianus, pada tanggal 2 April 2020, kedua adiknya datang dari Kupang.

“Pada tanggal 2 April 2020, dua orang adik saya datang dari Kupang. Saat itu di Kupang belum ditetapkan sebagai Zona Merah. Kemudian pada tanggal 19 April 2020, adik saya diperiksa di Bandara. Waktu itu hasil rapid testnya negatif, termasuk mama saya yang sudah almarhum,” kata Hadrianus.

Hadrianus mengatakan, pada tanggal 30 April 2020, ibunya pulang dari Kebun di Iteng, Satar Mese, Kabupaten Manggarai. Saat itu almarhumah mengeluh kecapean dan langsung diantar ke UGD.

“Tanggal 30 ibu saya pulang dari Kebun di Iteng. Almarhumah mengeluh kecapean dan kami pun mengantarnya ke UGD. Saat itu, sempat disuruh pulang oleh petugas karena kondisi mama saya membaik. Pada esoknya mama saya masuk UGD lagi dan setelah melakukan pemeriksaan diperbolehkan pulang lagi,” kata Hadrianus.

Almarhumah Ibunya, kata Hadrianus, divonis sebagai PDP setelah menjalani pemeriksaan ketiga. Menurut Hadrianus, tim medis saat melakukan pemeriksaan tidak dilengkapi dengan ADP.

Kata Hadrianus, saat ditetapkan sebagai PDP, pihak keluarga sempat menanyakan dasar penentuan almarhum sebagai PDP. Ibu dokter, kata hendrikus, menjawab dengan santai bahwa penetapan itu berdasarkan asumsi.

“Gara-gara asumsi ibu dokter, mama saya dikuburkan dengan tidak wajar. Tanpa perayaan Misa. Tanpa acara adat. Dan tanpa pelukan dan ciuman terakhir dari kami keluarga. Ini sangat aneh dan janggal,” kata Hadrianus, Selasa, 5 April 2020.

Sementara itu, di sisi lain, Hadrianus mengharapkan agar media massa juga harus berimbang dalam memberikan informasi kepada publik.

“Saya berharap media massa yang memberitakan hal ini harus memuat juga alasan kenapa kami ngotot untuk bawa almathum ini kembali ke rumah,” tutup Hadrianus. [Tim PF]

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0