Banner-Top
Banner-Top

Judi Dan Akibatnya Bagi Keluarga Dan Masyarakat

Kristian Emanuel Anggur. Foto/dok Kristian.
Kristian Emanuel Anggur. Foto/dok Kristian.

Oleh: Kristian Emanuel Anggur (Peminat masalah sosial budaya, tinggal di Bugis, Borong. Matim)

 

”Beraneka macam judi sedang mengetuk pintu hati anda dengan ekspresi wajah yang ramah menawarkan kemasan menarik, seperti hidangan lezat yang merangsang selera. Anda bisa terjebak dalam perangkap lingkaran setan itu, karena terpesona oleh bujuk rayu serba manis serta terpikat oleh kenikmatannya. Bila anda tidak pandai menjaga diri dan sekali saja kecantol dengan keelokannya lantas bercengkerama melacur diri dengan kartu di bandar judi, maka batin anda tidak akan terlepas dari jeratan maut ”ketagian” hingga hati anda menjadi tumpul. Tahukah anda, apa akibatnya?”

Akhir-akhir ini kita sering tertipu oleh kemajuan teknologi kapitalisme global dengan persaingan pasar bebas yang melanda dunia. Arus informasi, komunikasi, dan transportasi yang serba cepat dan canggih membuat dunia ini begitu dekat seperti jarak sebuah desa kecil. Tak ada lagi yang tersembunyi dan rahasia, tabu, haram atau jadah. Semua serba bebas, vulgar, terbuka, telanjang polos tanpa sensor. Sudah sering kita tertipu oleh tayangan iklan, lewat paket kuis berhadiah, nomor-nomor kupon undian yang menjanjikan bonus (keuntungan) berlipatganda. Kitapun semakin sibuk menafsir, menganalisa dan mengkaji arti mimpi. Setiap orang lewat dicegat dan ditanya; “mimpi apa semalam?” Kita tergiur oleh propaganda iklan dengan manisnya rayuan gombal bahasa reklame para bintang seksi, yang katanya; “cepat, untung, murah, mudah dan puas.” Sadar atau tidak, janji-janji muluk demi kemenangan hadiah cuma-cuma itu telah mengikat jiwa kita menjadi orang-orang yang “tekun” berharap pada mimpi. Mimpi cepat kaya dalam kemewahan palsu tanpa kerja keras itu hanya khayalan belaka, alias kebohongan yang melahirkan prilaku generasi milenial yang bermental “kraeng”, bermental instant atau bermental “boss” yang suka mencari kesenangan di atas keempukan dunia maya (ilusif) dengan keenakan tanpa usaha kerja berat dan jeri lelah. Generasi milenial yang bermental “priyayi” biasanya senang mengisi kesempatan dan waktu luangnya dengan berjudi, baik bermain kartu remis, taji ayam, mengisi akun kupon putih, maupun bermain bola guling, atau jenis permainan-permainan judi lainnya. Maka kita semua akhirnya jatuh tersungkur ke dalam jurang dosa perjudian yang berpengaruh luas secara sosial hingga merusak masa depan keluarga, Gereja, masyarakat, dan bangsa. Kita juga terjebak dalam perangkap sindikat mafia perjudian yang merusak masa depan kita sendiri. Ajang Pilkades, pileg, pilkada, pilgub dan pilpres saja sarat dengan taruhan judi. Perekrutan calon tenaga kerja, test kepolisian, tentara, CPNS, sarat dengan nuansa perjudian. Berbagai pertandingan, lomba, audisi, dan turnamen, yang menyengat penciuman kita justru bau amis perjudian, dll.
Mengapa Gereja melarang keras semua bentuk dan jenis praktek perjudian? “Kok,
repot! Emangnya gua ambil lu punya duit?”, demikian lazimnya nada protes dan
pembenaran diri para penjudi. Baiklah kita perlu mengetahui pengaruh judi dan segala
akibat negatifnya bagi masa depan Gereja dan bangsa. Judi adalah permainan dengan
menggunakan taruhan uang, barang, dan jasa, dll. Karena itu, judi adalah kasus
pelanggaran hukum yang tidak dibenarkan baik secara moral maupun iman. Dengan
berjudi sesungguhnya “orang mencuri karunia dan berkat Allah” dari dalam dirinya
sendiri. Dengan berjudi orang menjadi tamak dan tidak jujur terhadap dirinya sendiri,
sesama, lingkungan dan Tuhan. Sebab di dalam praktek perjudian orang menerapkan
taktik dan strategi permainan menipu lawan demi memperoleh kemenangan dan
keuntungan pribadi. Melatih diri dengan kebiasaan menipu demi keuntungan pribadi,
orang tega menghalalkan segala cara yang tidak sehat, sbb:

1) Untuk berjudi orang tega
“mencuri” anggaran makan-minum (sandang, pangan, dan papan) bagi diri, istri dan anak
dalam rumah tangganya sendiri;

2) Untuk berjudi orang tega “mencuri” uang belanja
kesehatan bagi diri, istri dan anak dalam keluarganya sendiri;

3) Untuk berjudi orang tega “mencuri” uang sekolah dan biaya pendidikan bagi masa depan anak-anaknya sendiri;

4) Untuk berjudi orang tega “mencuri” waktu tidur (mete) berjam-jam atau berhari-hari hingga lupa makan-minum, istirahat dan buang WC, mengakibatkan ketegangan pada
metabolisme tubuh, dehidrasi, kekurangan darah, hypertensi, sehingga mudah terserang
sakit dan penyakit (seperti: maag, disentri, lever, gagal ginjal, dan leukimia atau kanker
darah, dll) yang ditularkan kembali kepada istri dan anak-anak sendiri, sehingga melahirkan generasi baru yang tidak sehat;

5) Untuk berjudi orang tega “mencuri” waktu
efektif untuk membagikan kasih-sayang kepada istri dan anak-anak atau mengabaikan
kesempatan mewariskan nilai luhur tatakrama moral kristiani sehingga melahirkan generasi yang tidak mengenal kasih-sayang serta etika sopan-santun;

6) Untuk berjudi orang tega “mencuri” waktu istimewa untuk berdoa, merencanakan masa depannya
bersama Tuhan atau mengucap syukur dan berterima kasih atas karunia Allah;
Kehilangan waktu hening dan pikiran bening untuk menghayati pemahaman makna dari nilai kerja yang lebih mendalam yang didapat dengan cuma-cuma setiap hari;

7) Untuk
berjudi orang tega “mencuri” kesempatan emas untuk bekerja membangun diri,
mengarahkan perhatiannya dalam karya pelayanan terhadap sesama, dan
lingkungannya, serta menyelami pemahaman makna tugas kreatifnya bersama Allah (co-
creator);

8) Untuk berjudi orang tega menipu dan menjadi tidak jujur dan egois (hanya
ingat diri), misalnya, seorang pejabat publik, mudah melakukan korupsi baik melupakan
rakyat banyak maupun kebutuhan keluarga, sehingga membuat rumah tangga tidak
harmonis, yakni kekerasan, perpecahan, perceraian, kemelaratan, dan bunuh diri yang
bermuara pada penderitaan, maut dan kematian sia-sia. Dalam berjudi jiwa manusia
semakin buas dan serakah, dipenuhi oleh hawa nafsu keinginan mencari kemenangan
dan mengejar target keuntungan materi tanpa rasa bersalah. Kelekatan hati pada judi
menuntun jiwa kita pada kecenderungan menuntut, memaksa kehendak, mencari,
mengejar, bersaing, protes, memberontak yang bermuara pada kekerasan, penderitaan,
maut dan kematian. Dengan demikian, jiwanya menjadi tumpul dan tidak peka terhadap bisikan suara hatinya, yang adalah juga suara Tuhan selaku Sang Hidup yang berbicara
dari kedalaman dirinya sendiri.

Bila di dalam kelompok basis sudah terdapat lima (5) orang penjudi ulung dan
setiap orang berhasil membujuk lima orang lain lagi, berarti dalam tempo singkat
kelompok itu telah berhasil terhimpun seperti sistem multilevel yang menularkan virus
penyakit judi ini kepada 25 orang penggemar berat barang haram itu. Sekiranya semua
kita memiliki waktu hening dan hati bening untuk merenungkan hal ini secara lebih
mendalam dalam meditasi pribadi dan doa-doa bersama, maka kita akan melihat akibat
negatifnya secara sosial sangat jauh dan luas pengaruhnya, terutama hilangnya pengaruh
rohani dan daya mistik Kristus di dalam keluarga dan Gereja di masa depan. Karena itu, roh kekristenan yang terpancar sebagai cahaya kebenaran dari kedalaman jiwa kita akan padam perlahan-lahan. Dan untuk jangka waktu lima sampai sepuluh tahun yang akan
datang di dalam Gereja kita telah didominasi oleh keluarga-keluarga penjudi. Duniapun
serentak dipenuhi jiwa gersang dan haus di pinggiran kali kering tanpa mata air hidup.
Dapatkah keluarga-keluarga penjudi melahirkan seorang imam yang baik, guru yang baik, polisi dan tentara yang baik, pejabat pemerintah yang baik, DPR, petani, dan umat
yang baik? Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk marah terhadap berbagai ketimpangan
sosial yang terjadi di masyarakat. Tetapi lihatlah, benih apa yang pernah ditanamkan di
dalam batinnya sejak kecil dalam rumah tangga. Itulah hasil produk persaingan global yang merasuki masyarakat kapitalisme moderen, penggemar taruhan pasar judi yang
didorong oleh hawa nafsu ekonomi di era globalisasi ini.
Mungkin kita sendiri telah terbiasa hidup di tengah kelompok penjudi dan
bersahabat akrab dengan para penjudi, lantas tidak sampai hati menegur teman. Atau
malah ikut nimbrung dan berperan aktif dalam ketekunan berjudi? Belum lagi di antara
penjudi terdapat oknum penegak hukum yang pura-pura berteriak maling untuk naik
pangkat saja dan menghabiskan dana operasional; siapa menangkap siapa?
Sebagai generasi pengemban tugas amanat keluarga, Gereja dan bangsa di masa
depan, kita sekalian diajak untuk belajar menimba banyak pengalaman baik tentang kerja keras, mendorong semangat kreativitas yang mandiri untuk tumbuh-berkembang dan
menghasilkan buah yang baik dalam jiwa yang ulet dan pantang mundur. Sambil belajar
membimbing diri sendiri, kita diharapkan menjadi tokoh panutan dan pendobrak yang
membongkar kasus “pencurian rahmat Allah” ini dengan menyeruhkan pertobatan bagi
para penjudi. Kita mesti dapat memastikan bahwa diri kita, keluarga kita, kelompok kita,
Gereja, dan bangsa kita harus bebas dan bersih dari virus penyakit judi sebagai racun
masyarakat masa depan. Kita harus berani memutuskan mata rantai lingkaran setannya
alias jaringan sindikat mafia perjudian ini dengan membangun kekompakan kerja sama
keluarga, sekolah, masyarakat, Gereja, aparat keamanan, dan pemerintah secara terpadu
dalam memberantas perjudian yang berkembang seperti kanker ganas. Pilihlah
pemimpin yang tidak berjudi untuk menempati berbagai posisi jabatan sosial. Dengan
demikian propaganda program anti judi dari aparat kepolisian, harus mendapat dukugan
luas dari seluruh lapisan masyarakat sampai ke pelosok pedesaan.(*)

 

Redaksi: Isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top