Banner-Top
Banner-Top

Kades Paan Waru Diduga Selewengkan Dana Desa Di Manggarai Timur

Sejumlah proyek yang terindikasi bermasalah di desa Paan Waru
Sejumlah proyek yang terindikasi bermasalah di desa Paan Waru

Oleh: Yon Sahaja

 

BORONG, POSFLORES.COMWarga Desa Paan Waru Kecamatan Elar Selatan, Manggarai Timur, mendesak Dinas Inspektorat Kabupaten Manggarai Timur untuk turun langsung ke Desa Paan Waru guna mengaudit penggunaan Dana Desa yang diduga disalahgunakan oleh mantan Kades Paan Waru. Hal ini diutarakan oleh BS(warga desa Paan Waru) melalui surat yang ditanda tangani oleh 7(tujuh)warga desa Paan Waru dengan tembusan Bupati Manggarai Timur dan Pers. Menurut BS, dirinya merasa banyak penyimpangan penggunaan dana desa oleh mantan Kades Paan Waru berinisial BN. Dalam surat yang diterima redaksi Posflores.com, BS menyertakan beberapa point kejanggalan penggunaan dana desa oleh mantan Kades Paan Waru. Berikut kutipan  data dugaan penyalahgunaan Dana Desa yang diperoleh Posflores.com dari BS dan kawan-kawan:

1. PLTMH

1. Dana yang dialokasikan untuk lanjutan pengerjaan PLTMH tahun 2017 sebanyak Rp 259 juta untuk pembangunan bendungan, sampai dengan sekarang tidak dikerjakan.

2. Alokasi dana tahun 2018 untuk pembelian mesin turbin sebanyak Rp 503 juta sampai sekarang tidak dikerjakan.

B.Mantan Kepala Desa Paan Waru adalah Kepala Desa Yang aneh dimana, disatu pihak dia katakan bahwa PLTMH tersebut tidak layak untuk dilanjutkan tapi dilain pihak dana tetap dialokasikan setiap tahun dan kepala Desa malah menggusur jalan baru menuju PLTMH tersebut dengan mengorbankan lahan, parit dan tanaman petani.

4. Penggusuran jalan menuju PLTMH ini diduga ada penggelembungan dana karena panjang jalan hanya lebih kurang 400 meter tetapi menelan dana sebanyak Rp 200 juta.

Kami rakyat sudah memberikan lahan secara Cuma-Cuma untuk kepentingan PLTMH tetapi disia-siakan oleh mantan Kepala Desa.

 

2. Proyek Wae Pinggang tahun 2017

1. Mata air Wae Pinggong adalah Fiktif

2. Jangankan mata air Wae Pinggang dua, Mata air wae Pinggang satu saja tidak ada. Karena dalam gambar dan anggaran ada wae pinggong satu dan wae Pinggong dua yang berjarak 20 meter dan digabung menjadi satu di bak penyaring.

3. Untuk mengelabuhi rakyat maka mantan Kepala Desa mengalirkan air dari kali kedalam Kaptering menggunakan pancuran, sehingga air yang mengalir dalam pipa bukan air dari mata Air Wae Pinggong satu dan dua tetapi dari kali Wae Rewu.

4.TPK Desa Paan Waru dan Kepala Dusun Barubong telah melakukan pemungutan liar (pungli) kepada masyarakat calon pemakai air dengan jumlah’Kurang lebih Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah)

5. Pembangunan air minum Wae Pinggang satu dan Wae Pinggong Dua adalah pembohongan terbesar mantan Kepala Desa Paan Waru dan TPK Desa Paan Waru kepada rakyat Paan Waru demi kekayaan pribadi.

6. Anggaran untuk pembangunan air minum bersih Tahun 2017 sebesar Rp 250 juta habis terpakai, tetapi pekerjaan tidak selesai dan dilanjutkan dengan menggunakan anggaran tahun 2018 jumlah anggaranya tidak diketahui oleh masyarakat tetapi juga pengerjaanya tidak selesai.

7. Perbaikan pipa Wae Ajang Renggong tidak di kerjakan sampai sekarang, tetapi juga dananya lenyap, sedangkan pipa sudah di beli dan menumpuk dirumahnya kepala Desa.

3. Rabat Beton. Pembuatan Rabat Beton dari Mamba menuju perempatan Puskesmas rawan korupsi karena

1. Proyek Rabat beton tersebut murni dikerjakan oleh Kepala desa Paan Waru, mulai dari pengadaan material (pasir) milik mantan Kepala Desa, pengangkutan(kendaraan) juga milik mantan Kepala Desa Paan Waru (TMA 02 Sulit], sampai dengan pengerjaan dilakukan oleh mantan Kepala Desa sendiri (beberapa orang aparat Desa). Sehingga 2 / 3 dari Pagu Dana Masuk Kantungnya mantan Kepala Desa.
2. Alokasi dana untuk rabat beton tersebut tidak di ketahui oleh Rakyat karena kerja tanpa papan informasi sehingga rakyat Paan Waru tidak tahu berapa dana yang digunakan.

3. Rabat beton itu tidak layak dibuat karena jalan itu adalah jalan yang dilalui oleh kendaraan roda dua, roda empat dan roda enam, sehingga kesannya adalah asal kepala desa ada untung, terbukti sekarang jalannya sudah rusak.

4. Penggusuran jalan baru dari Rambis menuju Rate Wangge terkesan asal jadi karena selain lebar hanya 2 meter juga terlalu terjal sehingga tidak bisa dilalui oleh kendaraan.

5. Dana untuk pembuatan bendungan wae Kelu tahun 2017 sebesar Rp 15.000.000. (lima belas juta rupiah) sampai dengan saat ini tidak dikerjakan.

6. Pembangunan rumah dari Dana Desa untuk 10 Unit rumah sangat tidak sesuai apa yang diterimah oleh warga penerima progaram dengan pagu dana yang dianggarkan. Dari pagu dana yang dianggarkan sebesar Rp 10.000.000. (sepuluh juta rupiah) /rumah tetapi ril jumlah yang diterimah oleh warga adalah Rp 5.800.000 [lima juta delapan ratus rupiah) dengan rincian sbb:

– Pasir 4 ret rp 2.000,000 , sengk 401embar Rp2.000.000, semen 30 sak Rp 1.800.000

7. PAUD di Desa Paan Waru adalah Fiktif. Tidak ada kegiatan tapi alokasi dananya ada.

Berdasarkan beberapa hal tersebut diatas maka dengan ini kami sebagai warga Desa Paan Waru tegaskan:

1. Untuk mempercepat proses penyelasaian masalah ini.

2. Segera menyelesaikan pengerjaan PLTMl-I karena dana Sudah dialokasikan tetapi belum dikerjakan.

3. Apabila pekerjaan PLTMH tidak dilanjutkan maka kami menuntut mantan kepala Desa Paan Waru untuk mengganti kerugian kami sebasar Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah] sebagai akibat dari pengerjaan PLTMl-l yang terhenti sebagai berikut:

1. Sudah sejak tahun 2016 sampai dengan 2019 leding/ parit tertimbun oleh batu dan tanah dari pengerjaan PLTMH.

2.satu areal sawah sudah sejak tahun 2016 tidak digunakan lagi karena sudah dibangun rumah turbin dan terhalang pipa. 3.Lahan dan tanaman rusak digusur untuk pembangunan jalan baru menuju PLTMH. 4. Membatalkan pengerjaan air minum bersih Wae Pinggong satu dan Wae Pinggang Dua dengan mencari mata air baru. 5. Mengembalikan uang hasil Pungli yang dilakukan oleh TPK dan Kepala Dusun Barubong 6. Memecat Ketua dan anggota TPK Desa Paan Waru karena membangun dan membuat anggaran fiktif untuk tujuan kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan mengorbankan Rakyat. Mengganti pengawas dan tukang, karena tukang yang membuat, memperbaiki dan mengganti pancuran dari kali wae pinggong kedalam bak penampung. Itu artinya bahwa tukang tahu bahwa di tempat mereka bangun bak kaptering itu tidak ada air sehingga mereka membuat

pancuran untuk mengelabui masyarakat sehingga seakan-akan air yang mengalir di dalam pipa itu dari mata air Wae pinggang satu dan mata air Wae Pinggang dua padahal mata air Wae Pinggang satu dan dua itu Fiktif atau tidak ada sama sekali.

8. Menolak LPJ sampai mantan kepala Desa bisa mempertanggung jawabkan semua persoalan di atas.

9. Memberikan sisa dana pembangunan rumah murah kepada wajib penerima sesuai pagu dana.

7. Demikian surat ini kami buat, atas perhatian Kami ucapkan terimakasih.

Paan Waru, 18 September 2019 Rakyat Desa Paan Waru.(*)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top