Banner-Top
Banner-Top

Keluarga PDP yang Meninggal di Ruteng Gelar Aksi Protes di Depan Kantor Bupati

Keluarga Almarhumah Teresa saat gelar aksi. Foto/Event.
Keluarga Almarhumah Teresa saat gelar aksi. Foto/Event.

RUTENG, POSFLORES.COMSatu PDP asal Kampung Pitak, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, meninggal dunia pada Minggu, 3 Mei 2020 lalu di RSUD dr. Ben Mboi Ruteng.

Pihak RSUD dr. Ben Mboi Ruteng menetapkan almarhumah Teresia sebagai salah satu Pasien Dalam Pengawasan (PDP) covid-19 di Kabupaten Manggarai.

Dengan ditetapkannya almarhumah Teresia sebagai salah satu PDP di Kabupaten Manggarai, ia kemudian dikuburkan sesuai protokol covid-19, dan tanpa terlebih dahulu di semayamkan di rumah duka.

Hadrianus Rendang putra kedua dari almarhumah Teresia bersama keluarga, tak terima kalau almarhumah dikuburkan sesuai protokol kesehatan covid-19. Menurutnya, almarhumah Teresia meninggal bukan karena covid-19, tetapi ada penyakit bawaannya yaitu sesak nafas.

Pada hari ini (Jumat, 19 Juni 2020), sekitar pukul 17:00 witta, keluarga besar almarhumah menggelar aksi kemanusiaan di depan Kantor Bupati Manggarai. Mereka menuntut ketua gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Kabupaten Manggarai, dalam hal ini Bupati Deno Kamelus, agar mengedepankan asas kemanusiaan.

Ratusan massa aksi yang hadir tetap mengikuti standar protokoler kesehatan yang ada yakni tetap menjaga jarak dan menggunakan masker.

Massa aksi (keluarga besar almarhumah) mulai beraksi dari rumah duka sambil membawa spanduk yang berisi tulisan “kami menolak bungkam ketika kesalahan/ kekeliruan ikut serta berubah menjadi kebiasaan. Ada yang salah dengan kebijakan dan itu melukai nilai kemanusiaan. Apa pun yang terjadi kami selalu mendoakan yang terbaik dan cukup 1 Teresia”.

Tiba di depan Kantor Bupati Manggarai, mereka melancarkan aksi dengan menuntut Bupati Deno selaku ketua gugus tugas percepatan penanganan covid-19 agar mengedepankan asas kemanusiaan.

Menurut mereka, keputusan yang diambil oleh ketua gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Kabupaten Manggarai, telah menghilangkan tata cara pelayanan keagamaan, serta menghilangkan tata cara adat.

Marsel Nagus Ahang, yang merupakan orator aksi dan juga penasehat hukum dari almarhumah mengatakan, PDP yang meninggal merupakan kelinci percobaan untuk menggolkan dana covid-19 di Kabupaten Manggarai. Ahang mengatakan, Teresia meninggal bukan karena covid-19, tetapi karena ada penyakit bawaannya yaitu sesak nafas.

“Tim gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Kabupaten Manggarai, sudah membuat surat protap untuk mengatur almarhumah sesuai protokol covid-19. Ini tidak adil dan ini merupakan sebuah penipuan, sekali lagi ini adalah penipuan,” kata Ahang.

Ahang juga menilai bahwa hal tersebut merupakan sebuah konspirasi atau sebuah pola permainan dari tim gugus tugas percepatan penanganan covid-19 di Kabupaten Manggarai.

Menurut Ahang, waktu itu ada pernyataan tertulis antara pihak keluarga dengan direktur RSUD dr. Ben Mboi Ruteng bahwa pasien boleh disemayamkan di rumah duka. Tetapi ketua gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Kabupaten Manggarai merubah pernyataan itu bahwa, almarhumah Teresia tidak boleh bawa ke rumah duka.

“Kami juga meminta hasil Swab dari almarhumah, tetapi menurut direktur RSUD dr. Ben Mboi Ruteng dan ketua gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Kabupaten Manggarai, bahwa itu rahasia negara. Jangan sekali-sekali mengorbankan masyarakat Manggarai, cukup satu Teresia saja,” ucap Ahang.

Ratusan massa yang melakukan aksi protes tersebut menggunakan pakaian serba hitam. Aksi protes berakhir sekitar pukul 18:30 witta.[Event Mardivanto]

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top