Kemampuan Bepikir Kritis Siswa Diuji Covid-19

Oleh: Yohanes Jehadur

Ada dua tingkatan kemampuan berpikir yaitu kemampuan lower order thinking skill dan higher order thinking skills. Kurikulum Pendidikan Nasional Tahun 2013 (K-13) mengakomodasi pembelajaran yang berorentasi pada higher order thinking skill.  Dan salah satu kemampuan yang harus dimiliki adalah kemampuan berpikir kritis. Berpikir kritis adalah kemampuan berpikir untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Berpikir kritis termasuk ke dalam higher order thinking skill yang meliputi menganalisis, mensintesis, pemecahan masalah, menyimpulkan, dan mengevaluasi.

Kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan dalam pembelajaran di sekolah. Ada tiga alasannya. Pertama, tuntutan zaman yang menghendaki setiap individu untuk mencari, memilih dan menggunakan informasi untuk kehidupannya. Kedua, setiap individu senantiasa berhadapan dengan berbagai masalah dan pilihan, sehingga dituntut kemampuan berpikir kritis dalam memandang permasalahan yang dihadapinya dan kreatif dalam mencoba mencari jawaban. Ketiga, berpikir kritis merupakan aspek dalam memecahkan masalah agar setiap individu (khususnya peserta didik) dapat berkopetensi secara sehat dan adil, serta dapat menciptakan nuansa kerjasama yang baik dengan orang lain.

Kenyataannya, kemampuan berpikir kritis siswa masih rendah. Merujuk pada hasil TIMSS (The Trend Mathematics and Science Study) pada tahun 2015, pencapaian Indonesia berada di urutan ke 44 dari 49 negara dengan skor 397. Soal-soal dalam pengujian TIMSS adalah berbentuk higher order thinking skill (HOTS). Dalam penyelesaiannya siswa diarahkan untuk berpikir kritis atau berpikir tingkat tinggi. dengan pencapaian tersebut, membuktikan bahwa terhadap masalah yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Indonesia jauh di bawah rata-rata internasional. Nilai tersebut juga menunjukan ketidaksiapan siswa untuk menghadapi soal dengan standar berpikir tingkat tinggi.

Kenyataan di atas dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru belum sesuai. Model pembelajaran yang digunakan masih ekspositori. Cara penyampaian pelajaran dari seorang guru kepada siswa di kelas dengan cara berbicara diawal pembelajaran, menerangkan materi, memberikan contoh soal disertai tanya jawab dan siswa hanya mendengarkan dan membuat cacatan. Siswa diposisikan sebagai obyek, sementara guru memosikan diri sebagai yang mempunyai pengetahuan. Guru sebagai teacher center. Pembelajaran yang teacher center menyebabkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep pelajaran lebih cepat dilupakan. Proses pembelajaran seperti itu tidak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki anak secara optimal. Semua ini terbukti tidak berhasil membuat siswa memahami dengan baik apa yang mereka pelajari. Penguasaan dan pemahaman siswa terhadap konsep pelajaran lemah karena tidak mendalam. pelajaran tidak bermakna bagi siswa.

Pembelajaran disekolah harus mengembangkan aktivitas berpikir. Untuk mendorong siswa mengembangkan aktivitas berpikir atau kemampuan berpikir kritisnya dalam proses pembelajaran di dalam kelas guru dituntut memilih model pembelajaran yang dapat setiap siswa terlibat dalam pengalaman belajarnya. Oleh karena itu, proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.. Melalui pembelajaran berbasis aktivitas kemampuan berpikir kritis siswa betul-betul dioptimalisasi melalui proses kerja kelompok yang sistematis. Pembelajaran berbasis aktivitas merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan auntentik, yaitu pembelajaran yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan yang nyata. menjelaskan bahwa pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi.

Guru Harus Membuat Trobosan

Pembelajaran berbasis aktivitas mengandikan bahwa ada kelas dan ada proses pembelajarn yaitu proses transfer pengetahuan antar guru dan siswa serta pengelolaan skill siswa baik afektif maupun psikomotoriknya. Bagaiamana dengan situasi pandemi covid-19? Berkaitan dengan proses pembelajaran di tengah situasi pandemi covid-19, guru mesti membuat trobosan. Kekuatan kita sekarang adalah teknologi informasi yang sudah memasuki era 4.0. Karena itu, guru mesti harus membuat trobosan yang mengunakan teknologi informasi. Tentu saja, trobosan yang dibukus dengan teknologi informasi harus menghadirkan kelas virtual dengan medel pembelajaran yang berbasis aktivitas. Selama ini guru menfaatkan teknologi informasi untuk menunjang pelajaran jarak jauh, tetapi sebagian besar siswa hanya sebagai penonton dan guru adalah yang punya pengetahuan. Artinya kelas didesain teacher centered. Kelas virtual berbasis aktivitas didesain student centered.  Artinya ada sejumlah aktivitas yang harus dikerjakan siswa. Kelas virtual berbasis aktivitas tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengar, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, tetapi melalui kelas virtual berbasis aktivitas siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkan. Hal ini, mendorong anak aktif belajar sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya. Tugas guru adalah memanatau aktivitas siswa, meluruskan pemahaman siswa dan menyimpulkan proyek pembelajaran bersama siswa.

Tujuanya kelas virtual berbasis aktivitas adalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri, yang memungkinkan siswa menginterpretasi dan menjelaskan fenomena nyata dan membangun pemahamannya tentang fenomena tersebut. Kelas virtual berbasis aktivitas berusaha membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan otonom, mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan berpikir kritis.

Menghadirkan kelas virtual berbasis aktivitas tentu harus bergerak bottom up. Harus dari guru untuk Indonesia. tidak perlu menunggu strategi Menteri Pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

 

 

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

News Feed