“Kepe Le Tadu Lau” Ritual Adat Tolak Bala Corona Ala Suku Ndolu di Manggarai Timur

BORONG, POSFLORES.COMJangan panik dengan adanya ancaman virus corona yang sudah tersebar di Indonesia.
Mari kita tetap meningkatkan daya tahan tubuh untuk mencegah agar jangan sampai tertular virus berbahaya tersebut. Berdoalah kepada Tuhan memohon perlindungan-Nya. Dalam menghadapi wabah ini, wajiblah kita meyakini bahwa yang terjadi adalah takdir yang empunya kehidupan.

Sebagai orang Manggarai Timur, tak lupa kita memohon petunjuk dan perlindungan arwah leluhur sebagai penghuni tanah ulayat atau warisan (naga tana’) agar senantiasa menjaga dan bersama-sama menangkal segala cobaan termasuk virus corona, seperti yang dilakukan oleh suku Ndolu, yang berada di Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur.

Posflores.com menyempatkan diri menghadiri acara tersebut, yang diselenggarakan di rumah Gendang Suku Ndolu, di Kampung Wae Kekik, Desa Rana Kolong, Kecamatan Kota Komba, Jumaat (3/4/2020).

Ritual adat tolak bala di Matim. Foto/Nardi Jaya.

 

Prosesi atau Ritual Tolak Bala

Menurut Tomas Jala, tetua adat Suku Ndolu, Ritual tolak bala dapat diartikan sebagai mitigasi, yakni tindakan proteksi, yang dalam pribahasa disebut “sedia payung sebelum hujan”. Hal tersebut juga diartikan sebagai penangkal bencana. Tolak bala biasanya dikaitkan dengan kegiatan spiritual dan mistik.

“Segala bencana atau bahaya itu semua atas kehendak Tuhan seperti bahaya penyakit Corona, bencana alam, dan lainnya. Musibah ini merupakan isyarat Tuhan dan leluhur terhadap kita agar kita lekas bertobat dan memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kita, baik terhadap sang pencipta maupun terhadap roh para leluhur. Tentu tidak ada orang yang menginginkan musibah datang menimpa dirinya. Meskipun kita tak bisa menolak apapun yang telah ditakdirkan itu, tetapi bersama-sama marilah kita berdoa, dan memohon keselamatan dari segala musibah itu,” jelas Tomas.

Selain itu, kata dia, tak lupa kita memohon petunjuk dan perlindungan leluhur yang terdahulu menghuni tanah ulayat seperti di Suku Ndolu. Caranya ialah dengan ritual Ritual adat yang disebut “Kepe Le Tadu Lau”.

 

Acara “Kepe Le tadu Lau”

Kepe le’ tadu lau, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah (tutup di atas, kunci di bawah). Kepe Le tadu Lau adalah ungkapan yang dalam bahasa Manggarai Timur disebut Go’et. Goet ini bermakna kiasan yang mengartikan bahwa Suku Ndolu meminta kepada Tuhan dan leluhur untuk menutup pintu masuk wabah atau virus corona di wilayah adat suku Ndolu.

Salah satu Tokoh yang melakoni prosesi, Dami Garung, kepada Posflores.com menuturkan bahwa, acara ini di awali dengan ritual mengaku dosa bagi semua orang yang hadir dalam acara, melalui sebutir telur ayam kampung. Konon, melalui telur ayam itu, segala yang jahat akan dibuang disalah satu tempat yakni pertemuan dua anak sungai (sangan wae).

“Setelah acara itu, dilanjutkan dengan acara “torok manuk” dan pemberian sesajian terhadap roh leluhur dari semua suku yang hadir dengan tujuan memohon restu nenek moyang supaya prosesi tolak bala dikabulkan oleh leluhur dan Tuhan Yang Maha Kuasa,” terang Dami.

Acara puncak tolak bala ditandai dengan lingkaran benda-benda kuno seperti keris dan pedang sebanyak 7 kali, diiringi dengan lonceng yang dalam bahasa kolor disebut wota.

Turut hadir dalam acara tersebut perwakilan suku-suku di wilayah Kota Komba yakni Suku Suka, Suku Angin, Suku Sanghe, Suku Angin Pau, Suku Swe’ Susang, Suku Swe’, Suku Sadang, Suku Kae, Suku Todo, Suku Keling dan Suku Munde.

Menerima kebudayaan baru tanpa menghilangkan budaya asli adalah keharusan yang terus dilestarikan. Merawat budaya leluhur sebagai warisan turun temurun merupakan kearifan local yang sering dibuat oleh suku-suku besar di wilayah Kota Komba. [Nardi Jaya]

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0

News Feed