Banner-Top
Banner-Top

Kisah Asal Mula Nama Tanjung Bendera di Manggarai Timur

Tetua Adat Suku Suka, Ame Nenggong. Foto/Nardi.
Tetua Adat Suku Suka, Ame Nenggong. Foto/Nardi.

Oleh: Nardi Jaya, Jurnalis Posflores.com

 

BORONG, POSFLORES.COMTanjung Bendera merupakan nama daerah pesisir pantai yang terletak di bagian selatan Waelengga, Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur.

Selain terkenal dengan padang savana yang bernama Ma’u sui, Tanjung Bendera beberapa waktu lalu oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur, nyaris disulap menjadi bandar udara, karena keberadaannya yang sangat strategis.

Dikabarkan, daerah tersebut masuk dalam kategori cluster 1 pengembangan aset Pariwisata Matim pada masa yang akan datang.

Padang Mau Su’i

Lantas, bagaimana sejarahnya sehingga lokasi tersebut diberi nama Tanjung Bendera? Mari kita simak cerita singkat menurut Yoseph Nenggong (sesepuh Suku Suka di Kota Komba) terkait asal mula nama Tanjung Bendera.

Menurut cerita Nenggong, dahulu kala saat kedatangan Kolonial Belanda ke pulau Flores yaitu pada tahun 1907. Mereka (Kolonial) berlayar dan berlabuh di Kabupaten Ende, kemudian menetap lama di sana. Setelah itu, pasukan Belanda menyusuri jalan darat dan menetap di Bajawa, Kabupaten Ngada. Ekpedisi kemudian dilanjutkan dan sempat singgah di Aimere, Kabupaten Ngada.

Menurut Yoseph, saat Kolonial Belanda berada di Aimere, penjaga wilayah Waelengga (Manggarai Timur) mengutus anggotanya dua orang untuk melapor ke rumah gendang Suku Suka yang terletak di Lawen (wilayah Kota Komba). Utusan tersebut kemudian melaporkan kehadiran pendatang baru (Kolonial Belanda) yang tentu dalam waktu dekat akan menginjakan kaki di tanah Congkasae.

Mendapat laporan dari utusan penjaga wilayah Waelengga, Uwong yang saat itu menjadi tetua adat Suku Suka, memanggil 12 utusan kepala suku yakni Motu, Motu Poso, Rombo, Sulit, Sahge, Keling, Sumba, Ndolu, Tanda, Walan, Ngara, Weru. Turut hadir utusan Suku Seso. Pemanggilan 12 Suku tersebut untuk bermusyawarah terkait kesiapan menghadapi Kolonial Belanda yang dikabarkan akan masuk ke wilayah Waelengga.

Panglima(Berambang) Suku Suka saat itu bernama Zapi (Keturunan Rato Ame Nggaong), tidak banyak berkutik, ketika hampir sebagian anggota forum berpendapat untuk menerima kedatangan Belanda. Hanya salah satu tokoh utusan dari Suku Sahge yang protes dan bersikukuh menghadapi belanda dengan cara berperang.

Namun, karena ragu dengan jumlah pasukan dan persenjataan lengkap yang dimiliki Belanda, merekapun bersepakat menerima kedatangan Belanda. Maka pergilah utusan Suku Suka yaitu Zapi Kaki sebagai juru bicara bersama dua orang pesuruh untuk menjemput Belanda di Aimere.

Saat itu tahun 1908. Wilayah seputaran Wae Mokel dijaga oleh Suku Seso di bawah pimpinan Londa. Bangsa Belanda menyeberangi Kali Wae Mokel dan masuk ke Wilayah Congkasae atau Manggarai,” kisah Nenggong.

Konon, sebagai tanda dan buah tangan, Bangsa Belanda memberikan dua Bendera berwarna putih kepada Zapi Kaki. Salah satu bendera tersebut, oleh Suku Motu, dipasang di pinggir pantai Ma’u Sui, sementara satunya lagi dikibarkan di rumah gendang Suku Suka, yakni di Lawen.

Dikatakan Nenggong, pengibaran bendera di pinggir pantai Ma’u sui menandakan bahwa siapapun pendatang baru yang masuk kemudian di wilayah Manggarai akan mengetahui jika Bangsa Belanda sudah secara resmi menguasainya. Hingga kini, tempat tersebut dikenang dengan nama Tanjung Bendera yang merupakan bukti sejarah kedatangan Kolonial Belanda di Manggarai.

Belanda akhirnya dengan leluasa masuk ke wilayah Manggarai dan sempat singgah di Rumah Gendang Suka di Lawen. Konon pada tahun yang sama, sebagian regu Belanda melanjutkan perjalanan dan singgah di Borong, Manggarai Timur.

Kedatangan Belanda di Borong, tidak menimbulkan perlawanan yang berarti, hingga akhirnya sebagian regu menuju pantai selatan (Laut Sawu) dan berlayar menuju Todo, yang merupakan salah satu pusat kerajaan yang terletak di Pesisir Selatan Kabupaten Manggarai. (Bersambung).

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top