Kisah Cinta Aku dan Rena

- Advertisement -




(Oleh: Yon Sahaja, tinggal di Manggarai Timur. Cerpen ini pernah diterbitkan di media online Floreseditorial.com)

Kisah Cinta Aku dan Rena

Sejujurnya saya tidak terbiasa jogging pagi. Jangankan jogging, bangun pagi pun sering kesiangan, mungkin ini adalah awal yang baik untuk mengubah kebiasaanku. Saya baru seminggu di Kota ini, Kota Karang orang biasa menyebutnya.

“Perkenalkan, namaku Gian Mbakum, nama kecilku Gian. Nama kamu siapa, tinggal di mana?”

Saya memperkenalkan diri pada gadis cantik yang juga pagi itu sedang olahraga. Kami berpapasan di atas jembatan Liliba yang sedang direnovasi.

“B pu nama Rena. Tinggal di jalan Perintis nomor satu. Orang baru ya? kamu sendiri tinggal di mana?,” tanya Rena.
“Ia nona, saya baru satu Minggu di kota ini. Saya dari Flores, saya tinggal di rumah kos di jalan Piere Tandean nomor 17. Tidak jauh dari sini,” jawabku.

“Ohh,” balas Rena singkat sambil melangkah pergi. Seolah dia tidak pedulikan aku yang ingin ngobrol lebih lama dengannya. Sedih.
“Uhh..sombong amat, mentang-mentang orang kota,” umpatku dalam hati.

Gadis ini bertanya padaku dengan air muka sedikit kurang bersahabat. Mungkin karena saya orang Flores atau karena aku anak kos kah, hingga gadis ini acuh tak acuh,” gumamku dalam hati.

Semenit ditinggal Rena, saya pun beranjak pulang ke kos, karena sebentar lagi ke Puskesmas Kota untuk sebuah urusan.

Sesampainya di kos saya langsung mandi lalu sarapan pagi. Ikan kering tanpa sayur jadi menu setiaku. Maklum, anak kos makan seadanya.

“Hei nak Gian, lu ada sayur ko sonde?”

Saya sedikit kaget mendengar suara itu yang ternyata adalah pemilik kos yang sedang membaca koran di teras rumah, pak Hardi namanya.

“Ada Pak,” jawabku dengan percaya diri tingkat tinggi.

Pak Hardi rupanya begitu peduli padaku. Beliau membawakan semangkuk Sup Ayam padaku.

“Nih, makanlah nak, jangan berbohong pada bapak, kalau tidak ada lauk mintalah pada bapak atau ibu,“ kata Pak Hardi sambil tersenyum ramah.
Dengan tersipu malu saya menerima sup pemberian Pak Hardi itu.

“Terimakasih pak, maaf merepotkan bapak dan ibu,” kataku pada sang empu kos.
“Tidak apa nak, anggap saja bapak dan ibu adalah orangtuamu,“ balas Pak Hardi dengan ramah.

Setelah sarapan pagi saya langsung berangkat dengan sepeda motor Yamaha Vixion New yang menjadi andalaanku. Jarak Puskesmas dengan tempatku tinggal sekitar dua kilo meter.

Sengaja saya melewati jalan perintis untuk melihat rumah si Rena. Dan mata saya pun tertuju pada rumah nomor satu yang terlihat megah berlantai tiga. Dalam hati saya berdecak kagum akan kemegahannya. “Pantasan si Rena kelihatan angkuh, ternyata dia anak orang kaya,“ gumamku dalam hati.

Tidak berapa lama saya pun tiba di Puskesmas. Setelah mengisi buku tamu saya pun menyampaikan tujuan kedatangan saya pada petugas jaga. Dia mengangguk kemudian menuju ke ruang pimpinan Puskesmas, semenit kemudian kembali ke ruang jaga.

“Silakan masuk ke ruang nomor satu pak, ibu dokter sudah menunggu,“ kata petugas itu kepadaku.

Saya pun beranjak ke ruang dokter yang merupakan pimpinan puskesmas tersebut. Menyususri beberapa ruangan dengan kaki beralas sandal jepit.

Sesampainya di ruang nomor satu, mata saya tertuju pada sesosok gadis cantik berpakaian putih bersih berjalan ke arahku sambil membawa map di tangannya.
“Lu ngapain di sini,“ tanya gadis itu yang tak lain adalah Rena yang pagi tadi berpapasan di jalan denganku.

“Ada perlu dengan bu dokter, kamu kerja di sini yah, wah cantik sekali, ternyata kamu perawat,” kataku sambil menggodanya.
“Ohh..baik, terimakasih,“ jawab Rena singkat padaku.

Rena pun berlalu, sekali lagi dia membuatku merana lagi. 0-2. Seketika saya pun masuk ke ruang dokter untuk proses wawancara terkait keluhan pasien tentang pelayanan yang kurang maksimal dari petugas medis di Puskesmas tersebut.

Di ruang jaga. Rupanya Rena bertanya pada petugas jaga terkait kedatangan seorang lelaki kampungan ke Puskesmas.

“Pak Risal, ada perlu apa itu orang kampung ke sini, sampai harus ke ruang dokter? Tanya Rena pada petugas jaga yang diketahui namanya adalah Risal.

“Dia mau wawancara dokter nona, dia seorang wartawan,“ jawab Pak Risal.

Mendengar perkataan Pak Risal, Rena pun kaget.” Ohh, ternyata dia wartawan,“ balas Rena lalu kembali berjalan menuju ruang Obat.

Usai wawancara dokter, saya kembali ke kos untuk mengolah berita hasil liputan. Setelah merangkai kalimat berita sesuai W51H saya pun mengirimnya ke redaksi untuk diedit lagi yang kemudian dipublikasi. Itulah kerjaku saban hari.

Malam hari ketika waktu menunjukan pukul 19.00 handphone saya berbunyi, rupanya ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Saat menekan tombol ok untuk menjawab, penelepon mematikan sambungannya.

Sedikit kesal di hati, lalu mengetik sms ke nomor tersebut “malam bae, ini dengan siapa?,” tanyaku.
Semenit kemudian muncul balasan “maaf mengganggu, Saya Rena kak, maaf sudah membuat kakak kesal.”

Membaca isi sms dan mengetahui si pengirim hati saya tidak karuan, bergejolak liar bagai ombak menerjang karang. Ampuun.

“Waooww..Rena..??
Aku bertanya dalam hati, lalu kembali membalas sms Rena, “oh Rena ya, ia tidak apa, dapat nomor saya dari mana?,“ tanya saya pada Rena.

Lalu Rena menjawab, “itu rahasia kak, ternyata kakak seorang wartawan, barusan berita kakak saya baca,“ balas Rena. Mata gi.

Dalam hati saya menebak-nebak, pasti Rena mendapat nomorku saat isi buku tamu di Puskesmas pagi tadi.

“Pasti kamu dapat di buku tamu Puskesmas ya Ren, ayo ngaku saja,“ godaku pada Rena.

Lalu Rena membalas “ia kak, besok pagi jogging bareng aku ya?.”

Bagai disambar Petir disiang bolong, saya sangat terkejut membaca sms Rena, lalu membalasnya “oke Rena, siap, kapan pun saya selalu siap untuk Rena.

Singkat cerita kami berdua pun menjalin hubungan tanpa status selama setahun, selalu berdua, namun belum mengungkapkan rasa cinta satu sama lain.

Hari ini genap satu tahun saya di kota Karang dan saatnya harus kembali ke Flores.

Saya coba menelepon Rena namun nomornya tidak aktif, lalu mengirim sms juga tidak dibalas hingga keesokan harinya.

Setelah mengepak barang dan mengucap terimakasih ke Pak Hardi dan istrinya, saya pun pamit kembali ke Flores, melewati jalan dan jembatan yang mempertemukan aku dengan Rena.

Sengaja aku melewati rumah Rena. Namun pintu rumahnya tertutup. Dalam hati aku berteriak memanggail namanya “Renaaa…”

Demi Rena aku memberanikan diri singgah di tempat kerjanya di Puskesmas.
“Selamat pagi pak, apa Rena masuk kerja?,” tanyaku pada petugas jaga yang tak lain adalah Pak Risal.

“Maaf Pak Gian, nona Rena sudah pindah ke Desa kemarin pagi dan besok nona Rena akan kembali mengurus berkas,“ jawab Pak Risal.

Hatiku jadi lemah lunglai mendengar kabar tersebut, lalu berkata kepada pak Risal, “baik pak, makasih banyak, saya pamit dulu.” Kuu menangiiiiss…!!!

Sepeda motor ku-pacu pelan meninggalkan tempat itu, terasa berat meniggalkan kota ini terlebih meninggalkan Rena.
Kurang lebih satu jam perjalanan saya pun tiba di Dermaga Feri dan langsung menuju penjualan tiket.

“Mohon maaf pak, kapal hari ini ditunda keberangkatannya, besok sore kapal baru bisa berlayar, ada kendala sedikit dengan mesinnya,” kata petugas loket.

Mendengar jawaban petugas loket hati saya jadi semangat. Dengan gesit meraih handphone mencoba menelepon Rena namun tetap tidak aktif nomornya. Sedih lagi hatiku.

Saya pun mengirim sms lepas ke Rena.

“Rena, hari ini aku tidur di pelabuhan, aku merindukanmu dan “aku Mencintaimu” berharap Rena membalas.

Malam pun tiba. Di pelabuhan saya tidur bersama penumpang lainnya, tanpa kabar dari Rena, hingga pagi hari.

Pukul 08:00 terdengar pengumuman dari pihak ASDP bahwa pukul 13: 00 kapal berangkat.

Sambil mencari sarapan pagi, saya mencoba menelepon Rena dan kali ini nomor handphone Rena aktif. Waow.

Sms dari Rena pun muncul. Isinya membuatku linglung.

“Maafkan Rena kak, saya anggap kakak itu tidak lain adalah kakak kandungku, dan terimakasih atas kebaikanmu kak.” Kakiku bergematar seakan tak sanggup berdiri usai membacanya.

Lalu saya membalas sms Rena dengan singkat, “Ohhh begitu.”

Sekitar pukul 10: 00, saat aku bersantai di atas tembok penahan gelombang, seseorang memukul bahuku dari belakang lalu mendorongku hingga terjatuh di atas pasir putih hingga mulutku mencium pasir.

Secepat kilat orang tersebut menerjangku dengan pelukan yang sangat erat sambil berkata “sayang aku juga mencintaimu dan ingin pergi bersamamu ke Flores.” wah..wah..wah..enaaak.

Orang itu tak lain adalah Rena yang sangat kurindukan. Aku tak menyangka bahwa Rena akan menemuiku dan ingin pergi bersamaku ke Flores. 

Singkat cerita aku pun membatalkan perjalananku sementara dan berusaha menemui orangtua Rena untuk meminta restu. Dan orangtua Rena pun merestui hubungan kami dan meminta agar orangtuku ke kota Karang guna melakukan proses pertunangan. Happy Ending Guys. (*)

Nb: Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Handphone yang digunakan dalam cerpen merupakan handphone jadul. Belum ada app fb ataupun app lainya seperti saat ini. Silahkan kirimkan Kritik dan saran ke email kami -posflores33@gmail.com/gleno2105@gmail.com.

Facebook Comments




- Advertisement -

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Facebook Comments