Banner-Top
Banner-Top

Kisah Janda Penjual Peti Mati di Manggarai Timur, Mengaku Sering Diintimidasi

Yosefina, pengusaha peti mati di Matim. Foto/Nardi Jaya.
Yosefina, pengusaha peti mati di Matim. Foto/Nardi Jaya.

BORONG, POSFLORES.COMKehidupan manusia di muka bumi ini tak lepas dari berbagai tantangan, rintangan, kesempatan, dan pengalaman. Semua itu bisa dijadikan pelajaran setiap insan untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Pengalaman adalah guru terbaik yang mengajarkan banyak hal, sehingga seseorang tidak jatuh ke lubang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Beberapa orang mungkin pernah merasakan atau sedang menjalani fase kehidupan yang berat dan menyakitkan. Hidup seperti drama yang tak berkesudahan. Apalagi bagi mereka yang hanya sebatang kara, pasti akan menganggap bahwa kehidupan ini sebagai sebuah kutukan dan ujian yang sangat berat.

Namun berbeda dengan kisah Yosefina Nua (47), seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Lengko Di’a, kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur. Menjanda sejak tahun 2003 silam, tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berjuang melawan waktu walau hanya sebatang kara.

Saat ditemui Posflores.com pada Rabu, 5 Maret 2020 dikediamannya, Yosefina menceritakan profesi yang ia tekuni yaitu menjual peti mati sebagai pekerjaan sampingan selain bekerja sebagai petani.

“Pada bulan Juli tahun 2019 lalu, saya diperkenalkan oleh teman saya dengan seorang pengusaha peti mati di Kabupaten Ende. Setelah Kami bertemu, pengusaha itu menawarkan saya untuk menjual peti mati yang dia produksi di Ende. Peti mati yang dijual semuanya berukuran orang dewasa, saya jual Rp.2.500.000 per peti. Kadang dalam satu bulan dapat orderan sampai 3 peti dari wilayah Borong, Kisol, Mukun dan bahkan pernah sekali diorder dari wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai. Kadang juga dalam satu bulan tidak ada yang order. Semua kan tergantung rejeki. Yah..Hitung-hitung keuntungan saya dapat sedikit untuk bisa beli beras dan ongkos anak sekolah,” ungkap Yosefina dengan mata berkaca-kaca.

 

Sering Diintimidasi

Menjalani bisnis yang bisa dikatakan langka dan membuat bulu kuduk berdiri tersebut, tentu saja banyak tantangan dan rintangannya. Perempuan berdarah Ngada tersebut mengaku sering ditegur, diancam bahkan sempat diadukan ke Kantor Kelurahan Kota Ndora oleh Ketua RT dan beberapa warga dengan alasan penjualan peti mati melanggar adat istiadat di Kabupaten Manggarai Timur.

Saya sering ditegur bahkan diancam oleh ketua RT yang berinisial EM. Katanya menjual peti mati di wilayah ini melanggar adat istiadat. Bahkan saat ini saya sudah dua kali menghadap kantor Kelurahan Kota Ndora. Saya takut pak. Ketua RT mengancam saya dan satu saat katanya dia akan membakar usaha saya jika saya dalam waktu dekat tidak menghentikan bisnis saya,” terang Yosevina sambil sesekali mengusap air matanya.

Menurut Yosefina, beberapa waktu lalu Wakil Bupati Matim datang ke tempat usahanya dan membeli peti mati di tempat itu untuk keluarganya yang meninggal. Saat itu, wakil bupati tidak mengatakan kalau bisnis yang digelutnya ini dilarang dan melanggar adat istiadat Manggarai. Dirinya merasa bahwa, usaha ini sangat membantu orang yang lagi kesusahan.

Sebagai ketua RT, harusnya dia datang baik-baik di rumah saya dan mengatakan alasan yang sesungguhnya dengan masyarakat bodoh seperti saya. Saya kaget ketika membaca surat panggilan dari kelurahan dan mendesak agar secepatnya menutup usaha saya dengan alasan adat. Dalam waktu dekat ini saya akan bicara dengan bos di Ende untuk membuat surat ijin usaha ke Dinas Perizinan Kabupaten Manggarai Timur,” kata Yosefina.

 

Tanggapan Lurah Kota Ndora

Posflores.com kemudian meminta klarifikasi  pihak Kelurahan Kota Ndora terkait usaha penjualan peti mati yang dituding beberapa pihak melanggar adat Manggarai tersebut. Saat ditemui posflores.com, Saverinus Songku selaku Lurah Kota Ndora, dengan tegas mengatakan bahwa pihaknya akan mendukung penuh usaha bisnis peti mati ibu Yosefina dengan syarat harus mengikuti prosedur dan aturan yang berlaku.

Kami dari kelurahan mendukung penuh usaha yang digeluti Ibu Yosefina. Pihak kelurahan juga siap memfasilitasi dirinya terkait urusan administrasi untuk kelancaran bisnisnya. Kalau buka usaha patenkan harus buat surat izin dulu melalui kelurahan dan diteruskan ke Dinas terkait,” kata Saverinus.

Terkait adanya dugaan intimidasi dan ancaman EM, Saverinus berpendapat bahwa masyarakat tidak boleh main hakim sendiri.

Masyarakat tidak boleh main hakim sendiri. Untuk itu harus buat izin usaha dulu, agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat,” tutupnya.

Usaha mencari pembenaran dalam kehidupan ini adalah hal yang sia-sia. Terus berkomitmen untuk mengambil tanggungjawab penuh pada hidup dan hadapi setiap masalah yang ada dengan percaya diri. Hal ini membuat Yosefina optimis dan serius menggeluti bisnis peti mati demi meningkatkan perekonomian keluarga. Lebih khususnya biaya pendidikan anak-anaknya yang masih di bangku Sekolah. [Nardi Jaya]

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top