oleh

Kisah Mistis Sang Penemu Batu Unik di Kampung Gurung

Oleh: Yon Sahaja

 

BORONG, POSFLORES.COMDi Kampung Gurung, Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, terdapat batu unik. Batu unik berwarna gelap ini, bentuknya bulat seperti bola sepak, dan kurang lebih berdiameter 60. Menurut pengakuan Lorens Ndau (penemu batu unik), sejak puluhah tahun silam, batu ini bertahta di atas Compang (mesbah) di ujung Kampung Gurung.

Lorens Ndau (80) mengisahkan bahwa, dulu ia mendatangkan batu tersebut dari Kali Wae Bobo, yang berjarak sekitar empat kilo meter dari posisi batu saat ini. Menurut Lorens, batu tersebut ada di situ sejak tahun 1987. Sebelumnya pada tahun 1982, Lorens meminta saudaranya, Lukas Hambur, mengangkat batu tersebut dari kali dengan imbalan uang sebesar Rp 2.500.

Lorens Ndau, tetua adat Kampung Gurung. Foto/Yon Sahaja

“Tahun 1982, saya meminta saudara saya, Lukas Hambur, angkat batu ini dari Kali dengan imbalan uang Rp 2.500. Saya berpikir bahwa, saudara saya itu tidak akan bisa mengangkat batu tersebut. Namun, saya kaget sekali ketika ia memikulnya dengan enteng saja. Batu tersebut tidak langsung ia bawa ke kampung. Dia biarkan batu tersebut di hutan (saat ini sudah dijadikan kebun) yang berjarak kurang lebih satu kilo meter dari Kali. Memang hasil kesepakatan awal hanya sampai di situ saja. Saat batu tiba di kebun, saya tidak bisa bayar dia, karena uang tidak ada. Saya hanya menguji dia, ternyata dia bisa angkat, apalagi kondisi jalan dari kali ke kebun begitu curam. Sejak saat itu, batu tersebut dibiarkan di kebun,” cerita Lorens, Kamis 2 Januari 2020.

“Lalu pada tahun 1987, saya meminta dua orang pemuda untuk membawa batu itu dari kebun menuju kampung, dengan imbalan uang sebesar Rp 1.500. Dua pemuda tersebut menyanggupinya dan memikul batu tersebut berdua, menggunakan karung dengan jarak tempuh kurang lebih tiga kilo meter. Sayapun bayar mereka dengan uang Rp 1.500. Setelah batu sampai di kampung, saya meminta mereka berdua langsung menyimpanya di atas mesbah,” jelas Ndau.

“Kemudian, pada malam harinya, saya bermimpi didatangi segerombolan orang-orang aneh. Mereka meminta batu itu dikembalikan ke tempat semula. Orang-orang tersebut mengaku bahwa batu tersebut adalah bola sepak milik mereka. Lalu saya berkata kepada mereka bahwa itu batu, bukan bola. Namun mereka bersih keras meminta batu tersebut dikembalikan. Kemudian pada keesokan harinya, saya lakukan ritual adat. Setelah ritual adat, hingga saat ini, saya tidak bermimpi didatangi orang-orang tersebut lagi,” kenang Lorens.

Lukas Hambur (60) si pengangkat batu unik itu, ketika ditemui di rumahnya (2/1) mengatakan bahwa, batu tersebut dia angkat dengan enteng saja. Tidak berat seperti yang dirasakan oleh saudaranya saat itu.

Saya angkat batu tersebut enteng saja. Tidak berat. Namun kalau orang lain angkat, batu tersebut sangat berat. Sebenarnya saat itu saya mau bawa batu tersebut hingga kampung, namun karena kesepakatan awal tidak ditepati, jadinya saya tidak mau. Kakak saya, Lorens Ndau, berjanji akan bayar dengan uang, namun ternyata tidak dia kasih uangnya,” cerita Hambur, mengenang kembali kisah awal keberadaan batu unik tersebut di Kampung Gurung.(*)

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

News Feed