Banner-Top
Banner-Top

Kisah Penjual Peti Mati dan Tanggapan Ketua RT yang diduga Melakukan Intimidasi

Yosefina Nua, penjual peti mati di Matim. Foto/Nardi Jaya.
Yosefina Nua, penjual peti mati di Matim. Foto/Nardi Jaya.

BORONG, POSFLORES.COMPemberitaan media posflores.com edisi kamis (5/3/2020) tentang “Kisah Janda Penjual Peti Mati di Manggarai Timur Mengaku Sering Diintimidasi” mendapat tanggapan dari ketua RT setempat (EM).

Kepada posflores.com, (5/3/2020) EM membantah kalau dirinya tidak pernah melakukan intimidasi terhadap penjual peti mati.

Saya tidak pernah mengintimidasi orang,” ucap EM singkat, Kamis (5/3/2020).

Terkait inisial EM dalam pemberitaan posflorrs.com, dirinya menuturkan bahwa semua orang tahu inisial EM yang dimaksud.

Inisial EM, orang bodohpun tahu siapa yang dimaksud. Dan saya akan laporkan media yang menulis berita tanpa konfirmasi ke saya,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang Perempuan berdarah Ngada bernama Yosefina Nua, mengaku sering ditegur, diancam bahkan sempat diadukan ke Kantor Kelurahan Kota Ndora oleh Ketua RT (EM) dan beberapa warga dengan alasan penjualan peti mati melanggar adat istiadat Kabupaten Manggarai Timur.

Saya sering ditegur bahkan diancam oleh ketua RT yang berinisial EM. Katanya menjual peti mati di wilayah ini melanggar adat istiadat. Bahkan saat ini saya sudah dua kali menghadap kantor Kelurahan Kota Ndora. Saya takut pak. Ketua RT berinisial EM mengancam saya dan satu saat katanya dia akan membakar usaha saya jika saya dalam waktu tidak menghentikan bisnis saya,” terang Yosefina sambil sesekali mengusap air matanya saat diwawancarai posflores.com (4/3/2020).

Menanggapi hal tersebut Lurah Kota Ndora, Saverinus Songku, Kepada Posflores.com mengatakan bahwa pihaknya akan mendukung penuh usaha bisnis peti mati ibu Yosefina dengan syarat harus mengikuti prosedur dan aturan yang berlaku.

Kami dari kelurahan mendukung penuh usaha yang digeluti Ibu Yosefina. Pihak kelurahan juga siap memfasilitasi dirinya terkait urusan administrasi untuk kelancaran bisnisnya. Kalau buka usaha patenkan harus buat surat izinan dulu melalui kelurahan dan diteruskan ke Dinas terkait,” kata Saverinus. (Nardi Jaya)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top