Kopi Colol, Andalan Ekonomi dan Harga Diri




Hingga saat ini, asal-usul tanaman kopi di Manggarai, masih simpang siur. Belum ada referensi tegas untuk memastikan asal-usul keberadaannya. Masyarakat Manggarai sendiri pun tidak pernah mempersoalkannya. Yang jelas, masyarakat selalu dan tetap menjunjung tinggi keunggulan tanaman idola ekonomi tersebut.

Borong, posflores.com – Agaknya, menyebut kopi, identik dengan Manggarai. Tanaman kopi telah menjadi ikon ekonomi dan harga diri masyarakat Manggarai Raya. Meski demikian, menelusuri asal-muasalnya bukan perkara mudah. Gampang-gampang sulit. Gampang karena tanaman yang pengembangannya berawal dari Colol, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Kabupaten Manggarai Timur ini, mudah kita jumpai. Hampir di semua sudut wilayah potensial selalu ada tanaman itu. Menjadi sulit bila kita mengendus dari mana tanaman itu berasal. Siapa orang pertama yang memperkenalkan tanaman yang mendapat label baru “mutiara hitam” itu.

Tapi yang jelas, tanaman tersebut sudah sangat popular. Dicintai masyarakat. Bahkan, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari nadi kehidupan ekonomi masyarakat setempat. Maka tidak heran, dalam Tarian Tandak daerah Manggarai Timur ada syair “manga kopi, manga doi!” Artinya, “ada kopi, pasti ada uang.” Atau, kalau mau ada uang, ya… tanam kopi.

Syair puja-puji terhadap tanaman ini, bukan basa-basi. Bukan pula sekadar pelengkap syair danding. Tapi memang benar adanya. Ini fakta. Syair danding “manga kopi, manga doi” sejatinya, mempresentasekan kepada publik, betapa membanggakan apabila memiliki tanaman itu. Almarhum Paulus Kantor, seorang petani kopi Manggarai Timur, telah membuktikannya. Berkat hasil tanaman inilah, menghantar Dia bisa melanglang buana ke mana-mana. Bisa keluar negeri. Menonton Elyas Pical bertinju dan duduk di samping ring, sebagai salah satu contoh konkretnya.

Lebih jauh dari itu. Hasil tanaman kopi ini pula, menuntun orang Manggarai Raya, bisa menyekolahkan anak ke jenjang perguruan tinggi. Bisa kuliah di tanah Jawa. Dalam kehidupan sosial pun, tanaman tersebut secara implisit, telah menjadi salah satu syarat apabila seorang pemuda mau pinang gadis pujaan hatinya. Orang tua sang gadis, akan menelisik latar belakang calon mantunya. Kriteria “pe-ko-sa-ma-ra-ga” harus mutlak dipenuhi. Masing-masing suku kata memiliki filosofi tersendiri. ‘Pe’ berarti rumah pesek atau rumah papan. ‘Ko’ berarti kebun kopi. ‘Sa’ artinya lahan sawah, ‘Ma’ artinya mesin jahit. ‘Ra’ artinya radio dan ‘Ga’ artinya lampu gas.

Namun, dari semua itu, yang paling penting adalah “Ko” atau kebun kopi. Apakah calon anak mantu itu memiliki lahan kebun kopi atau tidak. Kalau tidak memiliki lahan kebun kopi, jangan harap bisa diterima. Sudah pasti ditolak mentah-mentah. Biar ganteng seperti Anjasmara sekalipun. Semua itu sia-sia, bro.

Tetapi, jika sang pemuda ada kebun kopi, biar wajah alakadarnya. Wajah rumit seperti ikan kerapu, kontur muka dengan garis pinggir tidak simetris seperti batu akik sebelum diolah, penampilan polos sekali pun, pasti diterima. Karena sudah memenuhi syarat “Ko” tadi. Syarat ini penting, dengan asumsi, jika memiliki lahan kebun kopi, maka rumah papan pasti diterangi lampu gas, di sudut rumah dihiasi mesin jahit, mendengar radio ketika pulang dari kebun, secara otomatis bisa terpenuhi. Dalam keseharian pun, perlakuan sosial terhadap calon anak mantu yang memenuhi syarat itu, juga berbeda. Bakal jadi buah bibir warga. Jadi, betapa membanggakan bagi orang Manggarai Raya bila memiliki kebun kopi.

Tanaman yang bertautan dengan harga diri ini, sampai saat ini, belum diketahui asal-usul sejarahnya. Sulit diusut. Tetapi secara sosial ekonomi, tanaman tersebut begitu lengket di hati orang Manggarai. Dipuja-puja sepanjang masa. Maka tidak heran, ketika kebijakan Pemerintah Daerah Manggarai beberapa tahun lalu, membabat tanaman kopi, warga melawan habis-habisan. Sebab membabat tanaman kopi identik membunuh warga.

Posflores.com berhasil merekam pengakuan beberapa petani kopi, yang ditemui terpisah belum lama ini. Menurut mereka, hampir pasti, tanaman tersebut diperkenalkan para misionaris asing. Sekitar tahun 1920. Waktu itu, pengembangan tanaman kopi mulai giat dilaksanakan di Colol. Kampung yang berada di kawasan lembah ini, merupakan bagian dari wilayah Gelarang Colol dan Kedaluan Lamba Leda. Letaknya berada sekitar 60 kilometer dari Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur. Atau sekitar 45 kilometer dari Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai. Potensi tanah di Colol sangat cocok untuk tanaman kopi.

Saat masih bergabung dengan Kabupaten Manggarai, wilayah Colol mencakup dua desa, yakni Uluwae dan Ngkiong Ndora. Saat ini, ketika sudah menjadi wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Colol sudah dimekarkan menjadi tujuh desa. Yaitu Rende Nao, Wejang Wali, Colol, Wangkar Weli, Urung Dora dan dua desa lama.

Sumber lain menyebutkan, orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi adalah pedagang asal China. Pendapat ini mengacu pada sirkulasi perdagangan ekonomi di masa lalu. Konon, jalur perdagangan laut di Reo – Manggarai dengan Makassar, Sulawesi Selatan, cukup lancar. Kuat dugaan, saat mereka menyeberang dari Makassar ke Manggarai, membawa serta bibit kopi untuk dikembangkan. Dan Colol menjadi pilihan utama, karena Power of Hydrogen (pH) tanah sangat memungkinkan.

Hingga saat ini, asal-usul tanaman kopi di Manggarai masih simpang siur. Belum ada referensi yang tegas untuk memastikan asal-usul keberadaannya. Masyarakat Manggarai sendiri pun, tidak pernah mempersoalkannya. Yang jelas, selalu dan tetap menjunjung tinggi keunggulan tanaman idola ekonomi tersebut.

*

Tanaman kopi perlahan-lahan mulai dikembangkan di Colol, ketika Manggarai Raya dipimpin Raja Alexander Baruk (1931-1945). Geliatnya semakin bersinar tatkala, Bupati Frans Sales Lega dan Frans Dulla Burhan, memimpin wilayah Kuni Agu Kalo ini. Dua putera terbaik daerah ini, tidak mau tahu. Pokoknya, di semua daerah potensial, harus tanam kopi. Gebrakan keduanya turut mengharumkan nama Manggarai, sebagai penghasil kopi terbaik dan terbanyak. Kualitasnya sejajar dengan Kopi Ermera di Timor Leste atau Kopi Liwa di Lampung.

Awal mula, pengembangan kopi sangat alami. Masih bergantung pada belas kasih alam. Seturut istilah, David Sutarto, seorang petani cengkih dan mantan anggota DPRD Manggarai dua periode ini, pengembangan kopi di Manggarai, masih bergantung pada alam dan Allah.

Saat ini, pemerintah daerah Manggarai Timur khususnya, melalui Dinas Perkebunan, menggarap habis-habisan pengembangan tanaman kopi itu. Apalagi, kepala dinas, yang notabene, berhasil sekolah karena buah kopi ini, terus mendorong mengoptimalisasikan pengembangan kopi. Bukan hanya pada sistem tanam, pengolahan pasca panen tetap diperjuangkan, agar memiliki hak paten. Karena itu, setiap ada momentum promosi kopi, selalu terlibat. Hasilnya, kualitas kopi Colol khususnya dan Manggarai Timur umumnya, sangat unggul.

“Pelelangan cita rasa Kopi Robusta tingkat Nasional di Surabaya pada tahun 2012 lalu, kopi kita mendapat ranking satu. Harga jualnya pun menembus angka US$ 10 atau Rp 97.000/kg. Sedangkan Kopi Arabika, meraih peringkat empat dengan harga jual US$ 8,6 atau Rp 83.420/kg. April 2015 lalu, Kopi Arabika, diikutsertakan dalam pameran kopi di Seatel Amerika, yang difasilitasi Asosiasi Kopi Special Indonesia (AKSI). Dalam pameran tersebut, mendapat apresiasi sangat positif, dengan predikat cupping score dari konsumen kopi di Amerika,” jelas Kadis Perkebunan, John Sentis, belum lama ini.

Ada tiga jenis kopi yang dikembangkan. Yakni Kopi Robusta, Arabika dan Kolombia. Tiga jenis kopi ini, sudah memasyarakat. Penyebarannya merata di seluruh wilayah Manggarai Raya. Yang paling mencolok, kualitas dan kuantitas produksinya adalah, Kopi Robusta dan Arabika. Sedangkan Kopi Kolombia, kurang cerah.
Tentang data pengembangan kopi di Matim, data yang diperoleh posflores.com menyebutkan, ada dua jenis kopi yang dikembangkan. Yakni, Kopi Arabika seluas 517 Ha yang dikelola 188 kelompok tani kopi. Total produksi setiap tahun mencapai 481,12 ton. Selain lahan yang sudah digarap, terdapat 6,052 Ha areal cadangan. Kopi Robusta, seluas lahan 14.160, 57 Ha dengan total produksi 1.528.76 ton setiap tahun. Jumlah kelompok tani 228. Sedangkan area cadangan 6,251 Ha.

Karena itu, berbagai langkah sudah dilakukan. Terutama peningkatan produksi, kualitas hasil dan bantuan pengelolaan pasca panen. Sedangkan pemasaran hasil kopi petani, pemeintah daerah bekerjasama dengan Asosiasi Petani Kopi Manggarai dan Indocom Citra Persada. Langkah ini efektif, agar petani kopi tidak dikorbankan, termasuk permainan harga yang sering terjadi di tengah masyarakat. Dinas sudah berhasil mengendalikan dengan efektif. Sebab, perusahaan yang digandeng pemerintah, memiliki komitmen sungguh terhadap petani kopi.

Hasil penelusuran wartawan, potensi terbesar dan terbanyak ada di Colol – Manggarai Timur. Hampir setiap tahun, menghasilkan 4.000 ton. Tidak heran, secara sosial ekonomi, warga Colol lebih di atas rata-rata. Konon, warga lokal pertama yang beli bis kayu, dump trcuk yang dimodifikasi, adalah orang Colol. Pernah pula, berkembang style hidup yang unik dan elegan, sebelum pembabatan kopi oleh pemerintah daerah tahun 2003. Waktu tahun-tahun sebelum tragedi itu, di sela rehat petik kopi, orang Colol pergi ke Ruteng sekadar makan siang.

Memang, jauh sebelum itu, produksi kopi tidak ditunjang harga jual. Selalu turun naik tak tentu. Berkisar Rp 14.000/kg sebelumnya, menanjak ke angka Rp 18.000/kg biji kering. Sedangkan Kopi Robusta, Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Harga itu fluktuatif, bahkan cenderung menurun. Belum lagi, tradisi ijon yang beranak pinak di tengah masyarakat akibat belitan ekonomi.

Turun naiknya harga kopi, bisa jadi, efek dari bisnis kopi dunia yang semakin menunjukkan kompetisi yang cukup tinggi. Apalagi, muncul pesaing baru dari Asia seperti Vietnam, yang notabene dulu pernah belajar kopi di Indonesia, tepatnya di Pusat Penelitian Perkebunan Kopi dan Kakao Jember. Persaingan ini membuat harga kopi nasional, termasuk kopi Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, mengalami fluktuasi.

Menyikapi kondisi tersebut, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Ruteng bekerja sama dengan Veco Indonesia, merintis pengolahan kopi pasca panen. PSE dan Veco, sudah melakukan peluncuran hasil kemasan kopi Manggarai pasca panen di Aula Ranaka Kantor Bupati Manggarai, tahun 2009 lalu. Kontribusi positif dari pihak gereja ini, bertujuan meningkatkan nilai jual kopi petani. Namun, keterlibatan gereja bukan dalam urusan dagang, tetapi semata-mata menjalankan misi sosial, membantu masyarakat.
Produksi kopi bubuk Manggarai, sebagai akselerasi produksi kopi petani pasca panen. Tujuannya, untuk meningkatkan nilai jual kopi petani. Sebab dari beberapa pengalaman, pengolahan kopi pasca panen, belum mendapat perhatian serius,, sehingga, nilai jual sangat rendah.

Bendera Tiga Warna

Colol punya kisah. Punya riwayat, ketika kita menghubungkan dengan kopi. Tanaman yang sudah mendarah daging bagi warga Colol itu, sudah dikembangkan sejak tahun 1920-an. Hingga kini, tetap bestari. Meski pernah goyah, lantaran penerbitan kawasan hutan yang dilakukan pemerintah, sekitar awal tahun 2000-an. Warga bersikukuh menolak, meski nyawa jadi taruhannya.

Memasuki kawasan Colol, mulai dari cabang Benteng Jawa, tanaman kopi memadati kawasan itu. Di bawah naungan pohon-pohon rindang, tanaman kopi tumbuh subur. Masyarakat setempat, bergantung penuh pada kopi. Lantaran keunggulan tanaman kopi itu, yang membuat Belanda kepincrut. Belanda memberi apresiasi terhadap tanaman warga Colol.

Waktu itu, sekitar tahun 1937. Sebagai bentuk penghargaan, Belanda mengadakan lomba ”Pertandingan Keboen.” Semua petani di Manggarai adalah peserta lomba. Akhirnya, melalui penilaian ketat, Bernadus Odjong, keluar sebagai juara. Atas prestasi tersebut, Odjong berhak mendapat hadiah berupa bendera tiga warna. Yaitu, merah, biru dan putih. Ukuran benderanya 160 cm x 200 cm. Bendera itu masih tersimpan hingga saat ini. Keturunan Bernadus Odjong, memperlakukannya sebagai barang keramat.

Bendera itu, digulung dan dimasukkan dalam bambu. Disimpan pada tempat yang khusus. Tidak sembarang waktu bisa lihat bendera itu. Kalau nekat lihat tanpa restu dari Bernadus Odjong dan leluhurnya, bisa berakibat fatal. Bendera itu bisa dilihat, hanya pada waktu ada ritual-ritual tertentu.

Konon, seturut cerita lisan warga setempat, pertandingan berlangsung ketika usia kopi mulai berbunga. Kopi yang ditanam, mengandalkan belaskasihan alam dan Allah ini, mulai berbunga pada usia 7 tahun sejak ditanam. Sekarang ini, kopi bisa berbunga pada usia tiga tahun. Ini hasil rekayasa reproduksi tanaman.

Bernadus Odjong, keluar sebagai pemenang, karena sistem bertanam. Pada tanah miring, dibuat terasering. Tujuanya, menahan humus tanah ketika erosi saat hujan. Jarak antaranakan yang satu dengan yang lainnya terukur. Jadi, tanaman hasil garapan, Bernadus Odjong, itu bukan hanya indah dipandang mata, tetapi produksinya sangat bagus.

Pertanyaan bagi kita, “apakah tanaman kopi, yang disertakan dalam perlombaan kebun kopi prakarsa Belanda itu, masih tersisa?” Entahlah… Yang pasti, tanaman perdana peninggalan, Bernadus Odjong, itu pernah dipangkas atau diremajakan. Yang tersisa, hanya satu pohon saja. Sengaja dipertahankan, sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah yang diciptakan almarhum, Bernadus Odjong.

Bernadus Ojong, Kopi dan Bendera Tiga warnah adalah kisah yang membekas. Pahatan sejarah kebanggaan, terhadap tanaman kopi. Bendera tiga warna itu, bukan hanya jadi kebanggaan, Bernadus Odjong, beserta keluarganya. Tetapi, telah menjadi kebanggaan Colol, sebagai komunitas petani kopi. Karena itu, perlakuan terhadap benda sakral itu, menjadi akhlak dan beradaban bersama. Sebab, Colol dan bendera tiga warna itu, adalah rajutan sejarah pada era silam. Sejarah yang membekas, sekaligus mendongkrak Colol sebagai penghasil kopi terbanyak dan terbaik. Karena itu, warga Colol tetap dan selalu mencintai tanaman kopi. Mereka terus melestarikan dan menjaga kualitas produksinya, meski godaan sistem ijon mendera. *(Kanis Lina Bana)

Facebook Comments




Share and Enjoy !

0Shares
0


0

Berita Lainnya

109 Sampel asal Manggarai Timur dinyatakan Negatif Covid-19

BORONG, POSFLORES.COM--Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Boni Hasudungan Siregar mengatakan bahwa hasil Swab ulang pasien 01 yang dikirim ke Rsud Wz Johanes Kupang hingga...

Dua Rumah Ibadah di Matim Mendapat Bantuan Sosial dari Partai Golkar

BORONG, POSFLORES.COM--Partai Golkar melalui Ketua DPD ll Nusa Tenggara Timur, Vinsensius Reamur, memberikan bantuan sosial kepada dua (2) rumah ibadah di Manggarai Timur, Selasa...

Pernyataan Sikap PMKRI Cabang Ruteng Terkait Kemelut SMKN 1 Wae Ri’i

PERNYATAAN SIKAP A. Dasar Pemikiran Pada tanggal 13 Juli 2020, Forum Guru PNS Dan Guru Komite SMKN 1 Wae Ri’i melakukan aksi solidaritas perihal...

Berita Terbaru

109 Sampel asal Manggarai Timur dinyatakan Negatif Covid-19

BORONG, POSFLORES.COM--Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Boni Hasudungan Siregar mengatakan bahwa hasil Swab ulang pasien 01 yang dikirim ke Rsud Wz Johanes Kupang hingga...

Dua Rumah Ibadah di Matim Mendapat Bantuan Sosial dari Partai Golkar

BORONG, POSFLORES.COM--Partai Golkar melalui Ketua DPD ll Nusa Tenggara Timur, Vinsensius Reamur, memberikan bantuan sosial kepada dua (2) rumah ibadah di Manggarai Timur, Selasa...

Pernyataan Sikap PMKRI Cabang Ruteng Terkait Kemelut SMKN 1 Wae Ri’i

PERNYATAAN SIKAP A. Dasar Pemikiran Pada tanggal 13 Juli 2020, Forum Guru PNS Dan Guru Komite SMKN 1 Wae Ri’i melakukan aksi solidaritas perihal...

Tempat Hiburan Malam di Cepi Watu Belum Bisa Ditutup

BORONG, POSFLORES.COM--Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur belum memutuskan untuk menutup tempat hiburan di Cepi Watu Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong. Hal tersebut berdasarkan hasil rapat koordinasi...

Ini Desa Penghasil Porang Terbanyak di Manggarai Timur

BORONG, POSFLORES.COM--Rana Kulan. Rana Kulan merupakan Desa Agrowisata dan salah satu Desa penghasil Porang terbanyak di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Desa yang memiliki...
Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0