Banner-Top
Banner-Top

Kumpulan Puisi Lilis Morung

Ilustrasi: malangtimes.com
Ilustrasi: malangtimes.com

Oleh: Lilis Morung

Pecinta Sastra, tinggal di Cibal, Manggarai.

Aku bertutur, pada tong kosong

Anehnya kalimatku kembali menggaung

Aku bertepuk tangan, riuh menikmati gaungan

Konyol bukan

Lalu dia datang

Mendorong bersamanya berteriak keras

Menjajal semua kata yg mengalir dari otak menuju mulut

Menggaungkan Kalimat" berisik

Yang tadinya kau sebut sajak

Riuh gaungannya, bersama riuh tawa kami

Menikmati kebodohan konyol dalam persahabatan

PENANTIAN

Hari ini riang berwujud muram

Tanah lapang pun bekawan lara

Benarkah?

Lalu gerangan apakah dia sampai begitu?

Langitkan masih biru

Tanahpun masih berhumus

Lalu mengapa muram?

Corona katanya

Sebabnya dia itu

Wujudnya tanpa rupa

Melunturkan riang

Anak-anak berparas muram

Rumput makin liar

Arak-arakan itu nyata dalam semu

Lapangan itu merindu dalam pandemi ini

Menanti tawa beriringan pantulan bola

Kembali menyapanya,

Semoga, Harapnya

SENDAWA

Sendawaku kian gemuruh

Bersama riuh rintik

Di luar?

Jangan

Tahan saja Di dalam

Rintik ini hujan

Sendawapun redam

Resahpun ikut

Katanya biar saja

Jangan sampai terdengar luar

Sendawa lain berbau pendemi

Di luar pintu

Menunggumu mangsa

Selagi sendawa biasa

Biar saja

Jangan hiraukan luar

BUAYIAN MIMPI

Denting demi denting

Aku sepertinya mendengar,

Sayup memang

Lagi...

Aku bisa mendengarnya, yah..

Bukan ilusi ternyata

Lalu siapa?

Aku kembali bergumam

Ah, sudahlah

Lagi...

Merdu sekali..

Menabuh rindu di seluruh penjuru hati

Lagi...

Seperti riakan air saja

Kali ini lebih riuh...

Ternyata ruang rindu...

Ruang rindu bernostgia...

Yah lonceng rindu itu berdenting

Samar..

Tapi..

Berhasil..

Memyemarakan lorong resah, dan.....

KUKURUYUK......

Memanggil pulang

Bangun dari perdaban mimpi,

On ternyata….

ALIRAN IDE

Penaku meraung,

Menuntut

Menggelegar memenuhi aliran pendengaranku

Sendi-sendi mataku bergetar hebat

Mengalirkan tinta pekat bergumpal

Hari ini rasanya hitam mengalir dalam nadiku

Anggun menuju cereberum

Rasanya sungguh mengganggu

Laksana perintah

Sarat akan ketegasan

Pada singgasana tanpa nama

Menanti sang maestro

Meramu pekat dan putih

Menjahit huruf demi huruf

Menjadi baris tanpa suara

Berakhir ide gila

Meliuk indah

Hinggap pada pengelihatan di sana.

Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top