Banner-Top
Banner-Top

Kumpulan Puisi Maria Fradesanti

Maria Fradesanti. Penulis puisi..
Maria Fradesanti. Penulis puisi..

Kumpulan puisi

Karya: Maria Fradesanti

 

Torehan Kertas putih

Di bawah teriknya Matahari

Diselubungi atap ruangan kelas

Aku duduk merajut rangkaian kata

Menjadi selempang kalimat

Memandang, menatap

Bersanda gurau

Berlari ke sana kemari

Mengisi waktu bersama wajah indah kawan-kawanku

Kini ku berdiri di sini

Melantangkan suara

Melontarkan keping-keping kalimat

Memaparkan karya

Menoreh kertas putih bersama pena hati dan pikiran hingga terlahir buah karya

” kata-kata akan terbang hilang

Namun yang tertulis akan tetap tinggal

abadi”

 

Kebersamaan

Di atas hijaunya rumput

Diselimuti embun pagi, kakiku berpijar

Melangkah menuju wujud harapan

Harapan akan kedamaian

Harapan akan kebersamaan

Terkadang

Kesepian yang mendalam

Datang merombak hati mengirisnya perlahan

Sunyi…sepi

Dia hadir menyadarkanku

Betapa berharganya sebuah kebersamaan

Aku tahu

Setiap kebersamaan pasti ada perpisahan

Tetapi kenangan indah itu akan tetap terukir dalam hati dan tetap abadi

Dalam genangan kenangan itu

 

Pelangi

Butiran-butiran hujan telah terkubur

Di balik gelapnya tanah

Mengalir, tak terpalang

Resap, menyuburkan

Kini rintik-rintik hujan telah pergi

Memulihkan suasana hati

Mewarnai lorong-lorong kehidupan

Dengan bujur pelangi di balik bukit

Pelangi….

Indah warnanya

Mengejutkan hadirnya

Membahagiakan eloknya

Menghipnotis bujurnya

Pelangi….

Kau indah

Pernak-pernik pesona warnamu

Mengindahkan lukisan hidupku

 

Sunyi

Pada malam yang sepi, sunyi bergeming

Mataku kian memandang indahnya cakrawala

Dihiasi gugus bintang

Membentuk formasi yang indah

Bagai lentera di pinggir pantai

Pada malam yang sunyi

Diselimuti kegelapan

Aku duduk melingkari kaki

Menikmati sepoi-sepoi angin malam

Menyerahkan jiwa pada indahnya rembulan malam

Sunyi….

Dirimu hening, lembut, hangat menyapa

Mendobrak pikiran, membangunkannya

Untuk terus berlayar

Sunyi….

Dirimu misterius!

Apakah aku bisa menjadi sepertimu?

Kau bukan emas, bukan juga perak

Namun kau hadir membawa sejuta hasil

Dan makna kehidupan

 

Kabut

Pada malam yang sunyi

Ditemani alunan musik

Aku duduk menatap kabut

Yang kian menari di atas cakrawala

Di atas sana sang kabut bertahta

Merajalela, berkuasa

Hingga tak satupun butiran bimasakti berlayar

Kini sang cakrawala tak mampu berkata-kata

Tak mampu tersenyum

Hanya diam, membisu

Awan mendung itu hadir memusnakan

Gugus-gugus bintang

Meluluhlantakan suasana malam

Kabut….

Kau selalu terbang mengambang di atas sana seakan kau yang tertinggi

Namun

Kau hanyalah bayangan

Dan tak pernah lebih dari cakrawala

 

Persatuan

Jejak-jejak kaki kian menggali

Menusuk tanah dalam-dalam

Menanamkan tekad

Menumbuhkan benih kesatuan

Kini wajah-wajah impian

Nadi-nadi perjuangan

Menyingsingkan lengan

Merakit tirai persaudaraan

Kegelapan di tengah hujan

Yang kehilangan cahaya harapan

Bagai lampu tanpa arus listrik yang tak mampu berikan sinar-sinarnya

Dunia pemuda bukan keputusasaan

Yang terhenti tanpa adanya arus energi dan usaha

Di atas kering kerontangnya tanah

Di bawah butiran-butiran hujan

Raga kian meradang menerjang

Membangun tanah air

Tanah tumpah darah

 

INDONESIA

Jembatan Asa

Roda duaku terus berputar

Berjalan, bersimpuh di atas licinnya aspal

Aku duduk tegak

Menatap indahnya alam

Menikmati tiupan angin hangat

Roda itu kian berputar

Hingga tikar perjalananku perlahan terguling

Di bawah teriknya sang surya

Di tengah lembutnya sepoi-sepoi angin

Kakiku berpijar menuju jembatan impian

Jembatan menuju telaga usaha

Jembatan menuju selat perjuangan

Jembatan menuju samudra kesuksesan

Ragaku tak pernah rapuh

Jiwaku tak pernah sepuh

Selagi asa dan cita dapat ku gali

 

Pisah

Kini semua terasa begitu jauh

Manisnya senyuman, indahnya tawa

Lembutnya suara

Telah hilang dan takkan kembali

Berdiri, melontarkan keping-keping kata

Hingga menjadi gumpalan kalimat

Dan segudang motivasi

Itulah yang aku rindukan

Guru….

Dia adalah orang yang paling aku kagumi

Dia adalah pahlawan pembela kebodohan

Dia adalah cambuk kesuksesan

Namun, kini wajah indahnya hilang dari hadapanku

Hilang dan pergi dengan melemparkan kerikil kata yang tajam “saya akan pindah”

Aku hanya bisa diam membeku

Mataku mulai berkaca-kaca

Hati terasa sakit tak tegak menerima kenyataan

Namun, aku tahu dia pergi bukan berarti semuanya sirna

Terimakasih guruku atas apa yang kau berikan kepadaku

Dengan caramu srndiri, kau merubah paradigmaku mrnjadi lebih baik

Semoga di tempat yang baru, suasana yang baru kau tetap sama

Dan tetap menjadi yang terhebat di mata para pelajarmu

 

God Bless You Teacher

Romusa

Kini kami terbaring tinggal tulang

Raga tak mampu merangkak

Jiwa menangis darah

Peluh kering tak berdaya

Tulang-tulang rapuh

Daging tubuh menggaring

Terbakar sinar matahari

Dicincang tirani

Jemari bagai besi

Telapak bagai baja

Beban tak dihiraukan

Bara api tak di rasakan

Kebersamaan terus di rakit

Persaudaraan kian dijunjung

Kejujuran ditanam

Namun pertikaian didapat

Sebutir nasi tak dikenal

Setetes airpun tak pernah dikecap

Hanyalah isakkan tangis yang kian berderu

Kebodohan merajalela

Penyakit berkuasa

Mengkeruh jiwa

Kejam, merajam

Tak juga dihiraukan mereka

Jemari kian mrngais bebatuan

Mematahkan tombak kekejaman menembak sepatu kaca tuan tirani

Tulang-tulang dibantingkan

Dengan bara api semangat kebebasan

Kerja! Kerja! Dan kerja!

Itulah kami pejuang ekonomi boneka sang tirani

Berjuang dan berjuang

Demi kokoh dan tegaknya negeriku

Mendaki puncak perjuangan

Menanam benih nasionalisme

Demi merah putihku berkibar (*)

 

 

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top