oleh

LAGU MALAM KUDUS (TANGlSAN ANAK HARAM DAN TERLANTAR)

Penulis: Kristian Emanuel Anggur

 

 

Mengapa manusia di zaman ini tak suka hening? Mengapa suasana keheningan natal justru dikagetkan dengan ledakan mercun dan petasan yang mendebarkan jantung? Tanpa menghiraukan nasib orang-orang sakit. Jompo, lansia yang butuh pertolongan. atau lbu-ibu hamil di sekitar kita, yang mungkin sedang menunggu waktu melahirkan. Bukankah natal adalah perayaan atas kelahiran dan kehidupan Sang Juru Selamat? Keheningan Natal, tentu saja bukan hanya menyambut kelahiran bayi Yesus semata. Tapi dalam konteks hidup saat ini iuga memberi penghormatan terhadap nilai-nllai kehidupan. Terutama rasa solidaritas kemanusiaan baik terhadap bayi yang dibuang oleh orangtuanya, anak-anak yang ditinggal pergi oleh ayah atau ibunya. anak yatim-piatu, anak_anak tiri, anak cacat dan adopsi, maupun penghematan terhadap semua mama yang jadi korban saat melahirkan buah hatinya. Mungkin juga terhadap anak haram dan orangtua yang ditolak. atau dnbully, dihina, dibenci dan diusir dari tengah pergaulan masyarakat. Oleh karena itu di masa adventus. Tradisi gereja Katolik belum membolehkan keributan bunyi-bunyian music dan lagu-lagu Natal. Apalagi dentuman petasan dan meriam yang merusak ketenangan, karena di saat hening itu hati kita disiapkan untuk lebih terbuka menghayati nilai pertobatan. Hanya di saat hening. Batin kita bisa mendengar bisikan halus bimbingan Roh Kudus agar niat’niat rohani kita dapat tergerak melahirkan berbagai buah karya rohani dan kemanusiaan. Umat Katolik tentunya menghendaki situasi nyaman, diam, tenang dan hening atau silentlum magnum (keheningan mistik yang agung) dalam menghadapi persiapan menyambut kedatangan Tuhan. Mungkin kita bisa belajar menghayati lagu ‘Malam Kudus’ yang tercipta dari keheningan jiwa seorang anak haram. Sekian lama ia terlantar dalam tangisan seduh, karena ditolak dan diusir dari pergaulan masyarakatnya seperti bayi Yesus dan Bunda Maria.

Malam Kudus, sunyi-senyap, bintang berhamburan… Lagu ini. Aslinya berjudul: Stille nacht. atau heilige nacht! Sepanjang sejarah Natal. Selama hampir dua ratus tahun lebih, lagu ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Dalam bahasa Inggris, diterjemahkan dengan: Silent night, atau holy night. Orang Indonesia. menerjemahkannya dengan: ‘Malam Kudus’ Dan orang Manggarai, menyanyikannya dengan: ‘Wie Nggeluk Bail.’ Pasti daerah lain juga sudah punya terjemahannya. Lagu yang amat terkenal ini bukan saja menggetarkan jiwa musical para musisi, tetapi juga berhasil membius perasaan religious semua umat kristiani. bahkan menjadi lagu kesukaan banyak orang. Tanpa lagu ‘Malam Kudus’, perayaan natal terasa hambar. Tanpa lagu Malam Kudus, natal terasa sepi. Tapi tahukah anda, bagaimana latar belakang kisah cipta, karsa dan rasa di balik keindahan syair lagu ini?

Lagu ‘Malam Kudus’ ini, diciptakan oleh seorang imam muda yang bernama Yoseph Mohr. Ia seorang pastor desa sederhana di Mariapfar, di kawasan perbukitan Alpen Austria, pada tahun 1816. Lagu ini ditulis untuk mengenang kemalangan nasibnya sendiri sebagai anak haram yang lahir di luar nikah resmi gereja Katolik, oleh ibunya yang bernama Anna SchOIber. lbu Anna SchOIber mengandung anak di luar nikah, ketika ia berkenalan dengan seorang tentara Jerman yang bernama Frans Yoseph Mohr. Karena mengandung dan melahirkan anak haram di luar nikah, ibunda-nya Anna Schoiber tidak diterima dalam lingkungan pergaulan masyarakat Austria saat itu. Alasannya, karena ia mengandung dan melahirkan anak dari hasil kumpul kebo yang merupakan perbuatan tercela dan tidak dibenarkan secara moral dan hukum agama.

Menyandang gelar ‘anak haram” yang menodai nama baik keluarga dan gereja, menurut adat kebiasaan yang berlaku di tempat itu merupakan sebutan sangat hina dan memalukan, sehingga kehadiran Yoseph Mohr kecil pun tidak diterima dan ditolak dan“ rumah ke rumah dan lingkungan pergaulannya. Bukan hanya itu, Ia juga tidak diizinkan untuk bersekolah dan belajar apapun sekalipun untuk belajar ketrampilan atau sekedar melatih kerajinan tangan. Iapun disisihkan dari teman-teman seperrnainannya. Namun dalam diri Si bocah kecil Yoseph Mohr. Tuhan mengaruniai suara emas dan bakat bawaan untuk menyanyi. Suatu ketika. pemimpin koor Katedral Salburg, Johann Nepomuk Hiernle, terpukau mendengar Si Upik Yoseph melantunkan sebuah lagu. Ia pun terharu meneteskan air mata serta mengadopsi Mohr menjadi anak angkatnya, karena di mata Hiernle, Si kecil Mohr dinilai memiliki talenta music tinggi. Tak ragu lagi. setelah diadopsi, Yoseph Mohr disekolahkannya, diberi pelatnhan khusus untuk pelajaran seni music, bahkan di kemudian hari menjadi seorang biarawan yang ditahbiskan menjadi imam katolik. Hanya beberapa saat setelah tahbisan imamatnya, Frater Mohr pun ditugaskan untuk membantu pastor paroki Mariapfar. Kebetulan kota ini adalah kota asal ayahnya. Frans Yoseph Mohr, yang tidak menikahi ibunya, juga tempat asal kakeknya. Mohr pertama kali bertemu sang kakek dalam hidupnya, ketika sudah menjadi frater.

Awal tashbisan imamatnya, sebagai pastor pembantu (kapelan). ia ditugaskan untuk memimpin misa malam Natal di luar kota, di sebuah gereja terpencil di wilayah paroki Mariapfar. Selama perjalanannya dengan kuda kesayangannya. Pater Mohr diguyur hujan lebat. Sehingga pastor Mohr tidak sempat merayakan natal di gereja yang akan ia layani itu, karena sungai yang menghubungkannya dengan gereja itu diterjang banjir bandang dan tidak dapat dilewati. Walaupun kedatangannya telah ditunggui ratusan umat setianya dengan harap cemas, tapi dengan penuh kekecewaan, pastor Mohr terpaksa tidur di bawah kolong langit seorang diri. Diselimuti kegelapan dan dinginnya ma|am yang tenang dan hening, ditemani cahaya bintang berhamburan, pastor Mohr merayakan kelahiran Sang Bayi Yesus dalam kerinduan dari balik sungai. Saat itu Mohr mengenang kembali kemalangan nasibnya di masa kecil. Kisah hidupnya mirip bayi Yesus yang ditolak sesamanya. Bersama ibunya, ia sudah berkaIi-kali diusir, dihina dan dibenci seperti bunda Maria dan Yesus. Seo|ah tak ada rumah untuk sekedar menginap semalam saja. Kesedihan mengenang nasib bersama ibunya seolah terus mendengung dalam jiwanya. Senandung jiwa untuk mengenang kembali nasibnya itulah, awal terciptanya nada dasar dari lagu Heilige Nacht. Holy mght atau Malam Kudus. atau ”Wie Nggeluk Bail…’

Kisah haru Si Bayi Yesus yang dilahirkan di kandang hewan dan ditolak sesamanya mungkin mirip dengan riwayat Yoseph Mohr, yang memberi hikmah dan berkat talenta ketika didera situasi tekanan hidupnya. Memang, menurut seorang penulis, Schllf, bahwa pastor muda Yoseph Mohr menciptakan lagu Malam Kudus, tidak hanya untuk menghormati kelahiran Yesus Sang Penebus dunia. Tetapi juga untuk semua anak yang tak beruntung, mereka yang diekskomunikasi dari lingkungan pergaulan masyarakat; mereka yang murtad dari iman katolik. mereka yang ditinggalkan karena perceraian orangtuanya; mereka yang lahir di luar nika dan ditelantarkan tanpa ayah dan ibu. Juga untuk anak tiri anak cacat dan anak adopsi tanpa kasih sayang. Lebih-lebih umuk anak yang dibuang.

Sayangnya lagu ini, Iagi-Iagi menurut Schilf. ditolak oleh pastor kepalanya untuk dinyanyikan di dalam gereja, karena aturan gereja Katollk Roma saat itu hanya memberi izin menyanyikan lagu yang berbahasa Latin saja. Lagu ‘Stille Nacht’. atau ‘Heulige Nacht’ baru bisa dinyanyikan dua tahun kemudian, ketika Pastor Mohr sudah pergi, karena pindah tugas dari Manapfar ke paroki Obendorf. Memang, lagu ini menjadi kenangan pahit yang mengingatkan nasib anak-anak Tuhan yang terkucil dan terpencil, seperti Yoseph Mohr. Kisah haru ini juga mengingatkan kita akan nasib Betrand Petta, yang kemudian diadopsi oleh artis legendaris berhati emas. Onsu dan Sarwenda. Mungkin saja lagu “Malam Kudus’ lebih cocok menjadi lagu kesayangan Betrand juga, seperti kanakkanak Yoseph Mohr yang pernah mengalami nasib sedih seperti bayi Yesus. Lebih-lebih bagi anak-anak yang ditinggalkan oleh orangtua kandungnya sendiri. Dalam konteks tertentu. kita pun adalah anak-anak Tuhan yang terkucil dari jalan Tuhan, dari jalan kebenaran Yesus. Terkucil dari keheningan Ilahi Yesus, terkucil dari kepolosan, kemurnian, kekudusan dan kesucian bayi Yesus serta hidup dalam kegelapan dosa. Untuk keselamatan kitalah lagu ini dinyanyikan sepanjang zaman… (Malam Kudus. sunyi-senyap. bintang berhamburan…)

 

Dikutip dan direfleksikan secara bebas dari berbagai sumber

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

News Feed