Banner-Top
Banner-Top

Lumpuh Sejak Balita, Anak ini Butuh Kursi Roda

Yones lumpuh sejak balita. Foto/Tim.
Yones lumpuh sejak balita. Foto/Tim.

MANGGARAI TIMUR — Yohanes Devilje Laja, anak berusia delapan tahun (8) asal Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, mengalami kelumpuhan sejak usia balita.

Anak manis yang lahir dari pasangan suami isteri Vinsensius Jala dan Roswita Nelci Nggoweng ini hanya bisa merangkak atau meggunakan pantatnya jika ingin bermain bersama sahabatnya.

Vinsensius Jala, Ayah Yones mengisahkan, pada saat dilahirkan, tidak ada tanda-tada kelumpuhan pada anaknya tersebut. Vinsensius berpikir bahwa Yones akan bertumbuh dan berkembang sama seperti anak-anak lainnya.

“Pada waktu lahir kami mengira bahwa Yones ini dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik, ternyata kami salah. Sampai saat ini dia belum bisa jalan dan berbicara normal,” ujar Vinsensius dengan wajah sedih.

Menurut Vinsensius, keadaan berubah ketika Yones genap menginjak usia dua tahun. Pada usia ini seharusnya Yones sudah bisa berjalan dan berbicara lancar.

Orangtua Yones mulai gelisah dan memutuskan untuk mencari pengobatan tradisonal agar Yones bisa berjalan dan berbicara. Namunn semua usaha yang dilakukan oleh orangtuanya hanya berakhir sia-sia. Yones tetap tidak bisa berjalan dan berbicara.

“Isteri saya mulai gelisah. Ia terus memikirkan nasib Yones. Sesekali kami pergi ke dukun untuk mengobati anak ini, tapi tidak berhasil,” kata Vinsensius sambil megusap air mata kesedihan.

Vinsensius menambahkan, semua usaha untuk menyembuhkan anaknya telah dilakukan. Walau tidak berbuah hasil, Vinsensius dan Roswita tidak pernah putus asa demi memperjuangkan nasib anaknya.

Pada tahun 2018 silam, Visensius bersama kakaknya, Kuintus Jala pernah mendatangi sebuah tokoh di Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai untuk membeli kursi roda. Namun, karena keterbatasan biaya, mereka mengurungkan niat untuk membeli kursi roda yang harganya berkisar sekitar satu juta tujuh ratus ribu rupiah.

“Tahun 2018 silam saya ke Ruteng hendak beli kursi roda. Kebetulan saya memiliki uang yang saya tabung dari hasil jual pasir senilai Rp.1000.000,00 (Satu Juta Rupiah). Sampai di Ruteng Kami coba tawar harga kursi roda. Pelayan toko mengatakan harga kursi roda sekitar Rp.1.700.000,00 (Satu Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah). Karena uang kami tidak cukup maka rencana itupun batal,” kata Kuintus, saudara Vinsensius Jala.

Yones kecil butuh kursi roda. Foto/Tim.

Keadaan Ekonomi yang Memperihatinkan

Vinsensius tergolong warga tidak mampu. Dia bersama keluarga kecilnya tinggal di sebuah gubuk kecil berukuran 4×5 meter. Gubuk kecil tersebut hanya berdinding bambu berlantaikan tanah.

Vinsensius menghidupi keluarganya dari hasil pertanian. Terkadang, hasil pertanian yang mereka miliki sangat sedikit bahkan tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Bila hasil pertanian tidak mencukupi, Vinsensius terpaksa harus mejadi tukang gali pasir sungai untuk menambah penghasilannya. Hasil dari penjualan pasir itu ia gunakan untuk menafkahi keluarganya.

“Harga satu kubik pasir Rp. 250.000,00. Untuk mendapat satu kubik pasir saya harus bekerja empat sampai lima hari. Sangat sulit untuk menjadi tukang gali pasir. Tetapi dengan keadaan seperti ini, suka tidak suka ya harus kerja biar keluarga saya bisa hidup,” ungkap Vinsensius.

Menurut Vinsensius, pendemi Covid-19 membawa dampak yang sangat serius bagi kehidupannya. Menurutnya, pasir-pasir yang sudah digali tidak lagi dijual dengan harga seperti biasanya bahkan tingkat penjualan pasir ikut menurun.

“Tidak ramai seperti biasanya. Terkadang satu bulan hanya laku satu kubik, itupun saya jual dengan harga di bawah standar,” kata Vinsensius dengan raut wajah sedih.

Sementara itu, Roswita Nelci Nggoweng, Istri Vinsensius mengatakan tidak bisa membantu suaminya untuk bekerja. Hal tersebut dikarennakan ia harus menjaga Yones jika suaminya keluar rumah.

Apalagi dalam beberapa bulan terakhir ia tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sepenuhnya karena sedang mengandung adik dari Yones. Ia hanya bisa mendukung suaminya dengan doa yang ia panjatkan setiap hari.

“Yones tidak bisa tinggal sendirian di rumah. Setiap hari kami bergantian mejaga dia. Beberapa bulan terakhir saya tidak keluar rumah dan fokus menjaga Yones,” kata Roswita.

Mirisnya, menurut Vinsensius, Yones tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah meskipun kondisinya sangat memperihatinkan.

Sementara itu, Kepala Desa Benteng Pau, Benyamin Rahing mengatakan, pihaknya pernah mengirimkan data ke kecamatan yang diteruskan ke Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur terkait keadaan Yones sekitar beberapa tahun lalu.

Namun menurut, Benyamin, hingga saat ini belum mendapat jawaban dari Pemda Manggarai Timur.

“Sampai saat ini belum ada jawaban. Kita akan terus berusaha agar Yones benar-benar mendapatkan bantuan sesuai dengan kebutuhannya,” kata Benyamin, Kamis, 5 Agustus 2021.

Keluarga Yones berharap, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur ataupun pihak lain dapat membantu Yones untuk menyumbangkan kursi roda. (Tim)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top