oleh

Mahasiswa Asal Matim: Kami Takut Mati Kelaparan

MAKASSAR, POSFLORES.COMHampir sebulan, segala aktifitas luar rumah diberhentikan. Covid-19 rupanya tidak memandang suku, ras, agama dan golongan.

Tak ada lagi rutinitas harian seperti sekolah, kampus, tempat ibadah, kantor swasta dan lain sebagainya. Yang tersisa hanya para medis di Rumah Sakit swasta maupun pemerintah dengan beberapa BUMN seperti Pertamina, PLN yang kemudian menjadi kebutuhan pokok penunjang kehidupan manusia.

Begitu banyak pekerja yang di-Phk, Kampus dan sekolah diliburkan. Bisa dikatakan perkonomian nasional terancam lumpuh jika wabah ini terus berlanjut.

Sebelum diberlakukan sistem lock down local pada sejumlah wilayah Kabupaten se-Provinsi NTT, banyak perantau dan mahasiswa memilih pulang kampung di tengah pendemi covid-19.

Namun, tidak sedikit juga yang memilih bertahan di tanah rantauan sambil menunggu wabah ini berakhir, seperti salah satu Mahasiswa asal Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur bernama Higinus Latu Serin.

Dihubungi lewat telepon, (17/4/2020), Higinus mengaku jenuh dan kuatir dengan keadaan yang dibilangnya sangat sulit dan darurat di tanah rantauan yakni Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.

“Kalau saya peribadi merasa jenuh bercampur kewatir pak. Jenuhnya karena sudah hampir sebulan tidak pernah keluar kamar, kecuali ada kebutuhan mendesak. Itupun sangat terbatas. Sedangkan kuatirnya, saya punya orang tua di kampung sudah agak sulit mengirimkan uang, lantaran hasil bumi seperti coklat, kemiri sudah tidak bisa dijual. Kalaupun bisa dijual, harganya turun drastis. Kami di sini tidak ada aktifitas lagi selain makan dan tidur, hidup di Kota kan kaka tau sediri. Semuanya serba uang,” ujar Higinus.

Tak hanya Higinus, hal serupa juga dialami Mahasiswi asal Waerana, Kelurahan Rongga Koe, Kota Komba, bernama Bernadeta Pahu. Kepada posflores.com, Mahasiswi Unitri Malang itu menuturkan bahwa, kebijakan di Kampusnya meliburkan mahasiswa, satu semester ke depan.

“Pihak kampus baru saja mengeluarkan pengumuman untuk libur satu semester ke depan. Mau pulang kampung tidak bisa, tetap bertahan juga kami takut mati kelaparan. Soalnya, orang tua sudah jarang kirim uang apalagi mata pencaharian mereka yang hanya bertani,” tutur Bernadeta.

Mereka berharap, jikalau Pemerintah Provinsi NTT terus melakukan sistem lock down local, agar sebisa mungkin mengucurkan bantuan untuk mereka yang bertahan di tanah rantauan.

“Baru saja kami cek jadwal kapal di kantor Pelni, katanya sudah tidak ada lagi jadual keberangkatan untuk kapal laut ke Manggarai, NTT. Oleh sebab itu kami berharap kepada Pemprov NTT, apabila terus menerapkan sistem lock down, sebisa mungkin memperhatikan nasib kami di tanah rantauan ini,” ucapnya. [Nardi Jaya]

Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0

News Feed