MATINYA HAK AZASI PETANI, KEDAULATAN PANGAN LOKAL DAN KEARIFAN PETANI PERDESAAN




MENGINTIP RUU CIPTA KERJA OMNIBUS LAW

MATINYA HAK AZASI PETANI, KEDAULATAN PANGAN LOKAL DAN KEARIFAN PETANI PERDESAAN

Ditulis oleh: Kristian Emanuel Anggur

 

(I)

Skenario Global Dan Kedok Investasi

Strategi dan konspirasi politik-ekonomi global dari masa perang dingin, telah mengintai langkah-langkah pemerintah RI sejak awal berdirinya. Kekuatan konspirasi Barat berhasil menumbangkan Orde Lama (Soekarno) lantas mencekik Soeharto melalui kamuflase siasat jahatnya dari balik regim Orde Baru. Regim Orba ini kemudian digiring menjadi kaki tangan korporasi multinasional di bawah kekuatan cengkeraman tangan pemilik modal raksasa (Rothschild, Billgate, Rockeffeler, dll) melalui agen-agen di World Bank (WB) dan International Monetary Fund (IMF) ke dalam skenario global untuk menguasai kekayaan alam Indonesia demi supremasi negara Super Power. Peran politik global yang dipentaskan oleh negara adikuasa bersama sekutu-sekutunya dilakonkan lewat kepiawaian aktor intelektual, yakni para bandit perusak ekonomi (the economic Hit Man), tak henti-hentinya meneriakkan slogan ideologi neoliberal, yakni modernisasi pembangunan dan globalisasi IPTEK.[1] Para bandit ekonomi inilah yang membangun jaringan sindikat mafia bisnis dunia melalui badan Internasional (PBB) seperti WHO dan WTO, dll, yayasan-yayasan, institut, lembaga penelitian, publikasi media cetak dan elektronik, serta para penulis untuk mengkampanyekan ide-ide neoliberal secara meluas. Mereka juga telah merekrut kader-kader militan yang mempropagandakan globalisasi teknologi moderen melalui hegemoni budaya populer: “jika kepala (otak) orang bisa dikuasai, maka kaki dan tangannya akan ikut dikuasai”.[2] Memasuki tahun 1980-an, pemerintahan era Soeharto beriktiar menjalankan ekonomi pasar dengan menghadirkan para ahli dan investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Selain mengeksploitasi sektor industri pertambangan, minyak dan gas bumi, dll, WTO (World Trade Organization) melalui tangan Orba, berhasil membuat perubahan kebiajakan signifikan di bidang pertanian, yang dikenal dengan sebutan “revolusi hijau” dengan orientasi pada intensifikasi dan mekanisasi teknologi pertanian, yang mendorong perubahan pola tanam serta berdampak pada pola produksi, pola distribusi, pola konsumsi, dan sistem pasar. Dengan semboyan pemerataan pembangunan, perubahan kebijakan di bidang pertanian akhirnya berhasil menguasai semua wilayah propinsi di Indonesia sampai ke sudut-sudut pelosok kecil pedesaan. Di NTT, pada era kepemimpinan gubernur Ben Mboi, dengan menggunakan sandi “operasi” militer, ia berhasil “menumpas” kearifan petani lokal melalui “Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau dan Operasi Nusa Sehat.” Lewat revolusi hijau, industri pertanian menjalankan program penyediaan benih-benih varietas unggul, pupuk kimia, cara pengolahan intensifikasi lahan dengan menggunakan traktor (mekanisasi), dan pengendalian harga pangan dan komoditi pasar.[3] Pemerataan modernisasi pembangunan pada sektor pertanian membawa petaka yang berdampak pada kehancuran nilai-nilai kearifan budaya tradisional, kedaulatan pangan lokal, keutuhan ekologi, dan hak azasi petani.

(II)

Matinya Hak Azasi Petani, Kearifan Lokal dan Kedaulatan Pangan

Tanpa disadari perlindungan (proteksi) terhadap kedaulatan pangan lokal mengalami kematian, karena petani harus membeli benih varietas “unggul”, yang konon, berkualitas eksport hasil rekayasa teknologi genetika (Genetic Modification) alias benih-benih hasil perkawinan silang yang biasa disebut dengan benih “transgenik” (transfer-gen). Genetic, berasal dari kata dasar gene = plasma pembawa sifat (Viator Parera: 2007). Menurut Hira P. Jhamtani, rekayasa genetik adalah teknologi yang memanipulasi makluk hidup agar menghasilkan sifat-sifat yang sesuai dengan keinginan pengembangnya.[4] Pengembangan genetika (recombinant DNA) ini merupakan teknik rekayasa bioteknologi melalui proses laboratorium dengan cara menggunting dan mengisolasi gen dari satu organisme tertentu lalu menyambungnya untuk membentuk kombinasi baru serta menggandakannya, kemudian ditransfer ke organisme lain. Misalnya, gen manusia dikombinasikan dengan gen tanaman, atau gen tanaman dicangkokkan pada hewan, gen unggas ditransplantasikan ke manusia dan sebaliknya, maka jadilah benih varietas yang dilabel “unggul” berkualitas baru. Menurut Viator Parera, secara moral dan iman rekayasa genetic jangan dianggap enteng sebagai rekayasa biasa, tetapi sebagai tindakan pemerkosaan terhadap inti kemurnian ciptaan Tuhan yang berefek penghancuran, jika sampai terjadi kesalahan sedikit saja, kelalaian atau kesembronoan, akan membinasakan organisme-organisme local, karena sangat peka terhadap kerusakan struktur dan tekstur alam yang membawa bencana ekologi, rentan terjadi pemusnahan habitat hewan, dll. Bahaya yang lebih mengerikan, bebih-benih transgenik hasil rekayasa teknologi terhadap genetika tanaman yang khusus disiapkan untuk pakan-pakan ternak, tanpa disadari dikonsumsi oleh manusia, seperti ditemukannya jenis jagung Starlink di Mexico pada Nopember 2001.[5] Jagung Starlink yang diproduksi oleh perusahaan Aventis (AS), diluluskan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (USEPA) sebagai pakan ternak dan tidak layak dikonsumsi manusia karena mengandung toksin Bt Cry9C yang berpotensi allergen. Toksin Bt adalah serangkaian protein yang terdapat dalam bakteri Bacillus thuringensis (Bt) yang setara toksin kolera. Kekeliruan terjadi pada Nopember 2002, di mana benih transgenik Bt Cry9C mencemari benih kedelai konvensional yang ditanam pada tempat penangkaran yang sama setelah panen jagung Starlink, sehingga pemerintah AS harus mengkarantina 500.000 gantang kedelai.[6] Pada tanggal 20 Juli 2005 lalu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melalui konferensi pers mengumumkan adanya sejumlah produk makanan dan minuman olahan yang mengandung kedelai transgenic, seperti: keripik kentang, tepung jagung, dan susu bayi yang terbuat dari kedelai.[7] Sebelum itu, Desember 2001, ditemukan pada kecap (ABC, Indofood dan Bango), susu formula kedelai (Isomil Soy Instant Formula), kentang Pringles dan corn flakes “Simba” mengandung komponen produk hasil rekayasa genetika.[8] Sampai di pasar local kita tak asing lagi dengan ayam petelur, ayam pedaging, babi pedaging, dll. Yang menjadi pertanyaan, mengapa produk transgenic telah beredar ke seluruh Indonesia, ditanam di kebun-kebun petani, bahkan tersaji di meja makan kita, tanpa diketahui konsumen yang mungkin menggunakan benih transgenic import.

Perusahaan agrobisnis (induk pertanian yang berorientasi bisnis kelas dunia), seperti “Monsato” memiliki legalitas untuk memegang hak paten pertama, dengan no. 6.174.724 atas penguasaan benih-benih pangan dunia.[9] Bahkan eliminasi hewan, unggas, dan binatang peliharaan yang terjadi, dilakukan dalam rangka mengambil-alih monopoli hak penguasaan benih dunia yang dipatenkan oleh perusahaan Transnational Corporations (TNCs) demi menciptakan ketergantungan pada benih transgenik. Mereka juga memonopoli penyediaan pupuk, obat-obat kimia, sarana transportasi, mengganti tenaga kerja dengan mekanisasi teknologi (traktor, mesin rontok, mesin giling), sumber daya tenaga ahli, sistem distribusi, dan menguasai pasar global sehingga terciptalah ketergantungan petani. Belum lagi dilanjutkan dengan monopoli industri pengolahan bahan makanan dan minuman yang diproduksi secara massal dengan campuran bahan pengawet, pewarna dan pelezat, kesemuanya adalah kombinasi zat kimia berbahaya yang tentunya akan mengkontaminasi tubuh para konsumen.

Sayangnya, informasi tentang keunggulan berbagai benih transgenik ini tidak dijelaskan secara lengkap mengenai dampak ekologis, ekonomi, budaya, dan kesehatan yang ditimbulkan kemudian. Bahwa pupuk anorganik (insektisida) dan obat-obatan kimia (pestisida, herbisida) selain berbiaya tinggi, tetapi juga mengandung racun toksik yang merusak unsur hara pada lahan dan mengkontaminasi tanaman yang kita makan dan minum, kemudian menimbulkan residu dalam darah dan saraf manusia yang justru berakibat fatal pada menurunnya daya tahan tubuh, lemahnya saraf otak sehingga menyebabkan cacat fisik dan mental, kegemukan (obesitas), keropos tulang (osteoporosis), kanker kulit, diabetes dan stunting (kerdil serta berumur pendek).

Kedaulatan benih local dan kearifan petani perdesaan perlahan-lahan ditinggalkan. Para petani diperlakukan hanya sekedar alat produksi dan komoditas ekonomi pasar. Warisan nilai-nilai kearifan budaya komunal mulai tergusur, di mana petani pedesaan (seperti di Manggarai tercinta ini) kehilangan haknya atas penguasaan benih sendiri seperti hilangnya tradisi penyimpanan (woja laka, woja rihi, woja rani, woja bogor, woja mada, sela/elar, kosu, ghosu/jewawut, tese, teko, uwi, dll). Dengan demikian, kebiasaan menyeleksi dan mengumpulkan benih lokal yang disimpan di loteng (lobo koé seperti langkok, cécér, supa, bondo ténang, bondo tonggang) sebagai simbol kemurnian (keperawanan) benih dalam perkawinan kosmis, akhirnya digantikan dengan lumbung pangan (dolog). Upacara ritual adat cangka rewas (ghan woja) untuk menyiapkan benih dan alat-alat kerja akhirnya dirayakan tanpa makna kesakralan nilai kosmis, magis, mistik-religiusnya. Petani komunal (lingko) tidak lagi terikat pada komunitas suku dan tua-tua adatnya. Mitos-mitos perkawinan kosmis antara ibu bumi dan ayah langit (ema éta agu endé wa) serta korban persembahan anak tunggal (Nabit Alang) yang menghasilkan berbagai jenis tanaman lokal dianggap primitif, cermin keterbelakangan. Aneka benih dan bibit lokal serta kearifan ritual adat yang dirayakan untuk memulihkan dan menyelaraskan kembali hubungan dengan diri, sesama, alam lingkungan, roh leluhur, dan Tuhan atas dasar prinsip filosofi harmoni ekologi semakin tergusur. [10] Siapa yang mendapat untung secara ekonomi pada bisnis benih?

Di balik Rancangan Undang-Undang (RUU) dan kebijakan negara hingga ke daerah, tersembunyi tangan-tangan kuat korporatokrasi raksasa dunia yang sedang berjuang memenangkan perang dagang dengan memonopoli penguasaan aset-aset pertanian global, tanpa menghiraukan efek kehancuran ekologi, hak azasi masyarakat petani kecil dan budaya pedesaan.

(III)

Pandangan dan Pernyataan Sikap Petani Terhadap RUU Cipta Kerja Omnibus Law

Bagaimana dengan RUU Cipta Kerja yang akan disahkan menjadi UU Omnibus Law? Konon, menurut anggota Serikat Petani Indonesia (SPI) Manggarai, Sebastian Anggal, yang berdiam di Kisol, Manggarai Timur; RUU ini tidak sejalan dengan Nawa Cita 2014-2019 dan Visi Indonesia Maju 2019-2024 Presiden Joko Widodo dan Wapres KH. Ma’ruf Amin serta UU Negara Republik Indonesia 1945. Pandangan dan pernyataan sikap, sesuai lampiran surat yang dikirim via WhatsApp dari Markas Besar SPI di Jakarta, menolak RUU Cipta Kerja yang mencakup 11 klaster pembahasan, karena berimplikasi terhadap 1.244 pasal dalam 79 UU yang ada di Indonesia, dengan alasan; sangat bertentangan dengan pelaksanaan pembaharuan agraria, kedaulatan pangan, dan mengancam pembangunan pertanian perdesaan dan penegakkan hak azasi petani perdesaan di Indonesia.

Adapun SPI adalah Organisasi Petani terbesar di Indonesia yang didirikan pada tanggal 8 Juli 1998, yang telah mendorong lahirnya berbagai kebijakan dan pelaksanaan reforma agraria, pembangunan pertanian perdesaan, kedaulatan pangan dan hak azasi petani. Debut perjuangan SPI secara Nasional telah berperan aktif memberi masukan yang melahirkan TAP MPR No. IX Tahun 2001, tentang Pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam; UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan; UU No. 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani; UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Di kancah Internasional, SPI memperjuangkan Hak Azasi Petani hingga deklarasi di PBB dan disahkannnya United Nations Declaration on The Right of Peasant and Other People Working Area (UNDROP) pada tahun 2018.

Membaca Pandangan dan Pernyataan sikap SPI terkait RUU Cipta Kerja Omnibus Law, tampaknya negara tidak memberi ruang yang luas bagi lapangan kerja petani perdesaan, mematikan kearifan lokal, kedaulatan pangan dan keselarasan ekologis, tapi justru condong berpihak pada penguasa, pengusaha (pemilik modal), dan pasar global. Situasi pandemi Covid 19, bisa saja dimanfaatkan, atau diciptakan (?) oleh konspirasi multinasional untuk menggolkan RUU Cipta Kerja Omnibus Law ini di Indonesia.

*Penulis adalah peminat masalah sosial budaya, tinggal di Golokarot, Borong, Manggarai Timur

⌘⌘⌘⌘⌘

  1. Bdk. John Hopkins – Membongkar Kejahatan Jaringan Internasional, Ufuk Press, Jakarta: 2009
  2. Ir. Imam Suharto, MSc dan Melky Koli Baran, Seri Petani Menggugat ‘Transgenik dan Nasib Pertanian Lokal’, YPPS: 2007, p. 2.
  3. Rony So, Ibid, p. xiii
  4. Ibid, p. 13
  5. Hira P. Jhamtani, Ibid, p. 15.
  6. Jhamtani, Ibid, p.17-19.
  7. Ibid, p. 21.
  8. Jhamtani, Ibid, p. 24.
  9. Ibid, p. V, Pada Pengantar Penerbit, buku ini mengutip tulisan Khudori, “Neoliberalisme Menumpas Petani”, 51.
  10. Bdk. Melky Koli Baran dan Imam Suharto, Ibid, p.5
Facebook Comments




Share and Enjoy !

0Shares
0


0

Berita Lainnya

109 Sampel asal Manggarai Timur dinyatakan Negatif Covid-19

BORONG, POSFLORES.COM--Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Boni Hasudungan Siregar mengatakan bahwa hasil Swab ulang pasien 01 yang dikirim ke Rsud Wz Johanes Kupang hingga...

Dua Rumah Ibadah di Matim Mendapat Bantuan Sosial dari Partai Golkar

BORONG, POSFLORES.COM--Partai Golkar melalui Ketua DPD ll Nusa Tenggara Timur, Vinsensius Reamur, memberikan bantuan sosial kepada dua (2) rumah ibadah di Manggarai Timur, Selasa...

Pernyataan Sikap PMKRI Cabang Ruteng Terkait Kemelut SMKN 1 Wae Ri’i

PERNYATAAN SIKAP A. Dasar Pemikiran Pada tanggal 13 Juli 2020, Forum Guru PNS Dan Guru Komite SMKN 1 Wae Ri’i melakukan aksi solidaritas perihal...

Berita Terbaru

109 Sampel asal Manggarai Timur dinyatakan Negatif Covid-19

BORONG, POSFLORES.COM--Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Boni Hasudungan Siregar mengatakan bahwa hasil Swab ulang pasien 01 yang dikirim ke Rsud Wz Johanes Kupang hingga...

Dua Rumah Ibadah di Matim Mendapat Bantuan Sosial dari Partai Golkar

BORONG, POSFLORES.COM--Partai Golkar melalui Ketua DPD ll Nusa Tenggara Timur, Vinsensius Reamur, memberikan bantuan sosial kepada dua (2) rumah ibadah di Manggarai Timur, Selasa...

Pernyataan Sikap PMKRI Cabang Ruteng Terkait Kemelut SMKN 1 Wae Ri’i

PERNYATAAN SIKAP A. Dasar Pemikiran Pada tanggal 13 Juli 2020, Forum Guru PNS Dan Guru Komite SMKN 1 Wae Ri’i melakukan aksi solidaritas perihal...

Tempat Hiburan Malam di Cepi Watu Belum Bisa Ditutup

BORONG, POSFLORES.COM--Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur belum memutuskan untuk menutup tempat hiburan di Cepi Watu Desa Nanga Labang, Kecamatan Borong. Hal tersebut berdasarkan hasil rapat koordinasi...

Ini Desa Penghasil Porang Terbanyak di Manggarai Timur

BORONG, POSFLORES.COM--Rana Kulan. Rana Kulan merupakan Desa Agrowisata dan salah satu Desa penghasil Porang terbanyak di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Desa yang memiliki...
Facebook Comments

Share and Enjoy !

0Shares
0 0