Banner-Top
Banner-Top

Merinding! Keluarga Korban Tancap Pisau Minta Arwah Kejar Pelaku Penabrakan

Keluarga korban saat membuat ritual. Foto,/Yon.
Keluarga korban saat membuat ritual. Foto,/Yon.

MANGGARAI TIMUR — Keluarga Almarhum Plasidus Hasan (korban laka lantas asal Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba) menggelar ritual adat Wada (meminta arwah korban mencari sendiri pelaku penabrakan) di lokasi kejadian di Kampung Tanggo, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, pada 11 Desember 2021.

Hal itu dilakukan karena pihak keluarga tidak menerima pernyataan Polisi dari Unit Laka Polres Matim yang mengindikasikan jika korban meninggal dunia akibat laka lantas tunggal berdasarkan hasil olah TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Menurut Agus Bambor, tetua yang melakukan ritual tersebut mengatakan kecewa dengan sikap Polisi yang mengatakan jika korban mengalami laka tunggal.

Menurutnya, jika laka tunggal, korban tidak mungkin mengalami kondisi tubuh bagian perut dan dada remuk. Sementara bagian kaki dan tangan serta muka korban dalam kondisi mulus.

“Kami buat ritual karena kami tidak terima hasil olah TKP yang menyatakan jika korban meninggal karena kecelakaan tunggal. Polisi seharusnya bisa analisa berdasarkan posisi korban dan posisi mobil pick up yang tidak jauh dari korban tergeletak. Dan juga, kalau laka tunggal otomatis tubuh korban terseret agak jauh. Ini kok jarak antara dia (korban) jatuh kurang lebih hanya 4 meter. Apakah masuk akal kondisi jasad korban separah itu, dada dan perut remuk seperti terlindas mobil,” jelas Agus.

Agus menambahkan, pihaknya menancapkan pisau milik korban di antara batu dan lilin yang diyakini akan berdampak pada oknum yang diyakini sebagai pelaku tabrak tersebut. Menurutnya, biarkan Polisi mengatakan seperti itu, namun pihaknya memiliki kesimpulan lain.

“Kami tidak paham hukum. Biarkan Polisi mengatakan demikian dan kami buat kesimpulan lain. Ini sudah hari yang ke enam korban kecelakaan. Kita lihat hasilnya. Hari ini kami lakukan ritual adat dengan menancapkan pisau milik korban di tempat kami buat ritual. Dan ingat, ritual ini bukan main-main. Jika 2-4 hari ada oknum yang datang mengakui bahwa dia yang terlibat tabrakan dengan korban, maka kami akan mencabut lagi pisau itu dan membuat acara penarikan dengan ritual pula. Namun jika tidak, jangan salahkan kami,” ucap Agus.

Pisau ditancapkan keluarga korban di tengah lingkatan batu dan lilin. Foto/Yon.

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Mantim, IPTU Saba Nugraha mengatakan jika pihaknya sedang mengembangkan kasus tersebut. Menurut Nugraha, Polisi tidak punya kepentingan peibadi atas kasus tersebut.

“Hasil olah TKP itu bukan kesimpulan akhir. Berdasarkan data yang kita peroleh setelah olah TKP, mengindikasikan jika korban laka tunggal. Dan juga berdasarkan keterangan saksi di TKP yang merupakan bukti permulaan yang masih bisa dikembangkan untuk membuat terang peristiwa yang terjadi. Saya jelaskan dengan tegas untuk memberikan seluas-luasnya kepada seluruh masyarakat yang berkepentingan untuk turut membantu dalam pengungkapan kasus dimaksud. Tidak ada kepentingan dari Polisi menutup nutupi kasus dimaksud. Karena Polisi tidak memiliki kepentingan secara pribadi dalam kasus dimaksud. Maka dari itu saya tegaskan kalau ada yang mengetahui kasus dimaksud, berikan keterangan dengan segera ke Polisi biar cepat diklarifikasi jangan membuat opini yg membuat pemahaman bahwa Polisi menutup- nutupi kasus,” papar Nugraha.

Sebelumnya diberitakan, korban Plasidus Hasan meninggal dunia akibat kecelakaan sepeda motor di Kampung Tanggo, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong. Saat kejadian tersebut tidak ada saksi mata. Namun menurut pengakuan AS, warga yang rumahnya berada di sekitar lokasi kejadian mengatakan mendengar suara benturan di luar rumahnya.

“Kebetulan saat kejadian sedang gerimis, saya bersama keluarga berada dalam rumah. Saat itu sekitar pukul 15:00  saya dengar suara benturan di luar, lalu saya lari ke luar untuk melihat diikuti oleh anak-anak dan suami saya. Melihat korban tergeletak tak berdaya, saya berteriak minta pertolongan. Namun tidak ada yang berani angkat korban. Lalu tidak lama kemudian saya panggil yang punya mobil pick up yang parkir sekitar 10 meter dari korban agar membawa korban ke Puskesmas,” jelas AS.

AS mengatakan, saat suaminya mengangkat tubuh korban ke dalam mobil, tubuh korban tidak bergerak. AS menduga, korban meninggal dunia tidak lama usai kecelakaan.

“Suami saya mengangkat tubuh korban yang diduga sudah tidak bernyawa ke dalam mobil dan Mengantarnya ke Puskesmas. Dan saya tidak yakin kalau korban laka lantas tunggal. Karena sepeda motor korban tidak rusak di bagian kiri dan kananya. Hanya bagian depan lampu dan kaca spion hancur. Seperinya ini tabrak pada bagian stir sepeda motor. Ini hanya dugaan saya. Di sini saya tidak menuduh siapa-siapa” jelas AS. (Yon)

 

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top