Miris, Ratusan Pekerja Asal NTT Masih Berada di Pengungsian

Koraban PhK massal masih berada di pengungsian. Foto/Aventinus.

Oleh: Yon Saha

 

KALTIM, POSFLORES.COM–Peristiwa PHK sepihak yang dialami oleh ratusan buruh Sawit di Kalimantan Timur, rupanya belum usai. Peristiwa pemecatan masal oleh PT. Wahana Tritunggal Cemerlang (WTC) yang terjadi pada bulan Agustus 2019 lalu, masih menemukan titik buntu. Tuntutan yang dilakukan oleh para karyawan terhadap pihak perusahaan hingga kini belum satupun yang terealisasi, meski telah dibuatkan komitmen penebusan tuntutan dihadapan bupati dan DPRD Kaupaten┬áKutai Timur.

Sampai kini ratusan karyawan pemecatan masal oleh perusahan WTC masih berada di tenda pengungsian.

Kami karyawan korban PHK sepihak oleh perusahan PT. WTC masih berada di tenda pengusian Kecamatan Karangan dan tidak ada sentuhan dari pihak perusahan sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat saat mediasi bulan Oktober 2019 lalu,” jelas Aventinus, salah seorang karyawan korban pemecatan PT. WTC kepada posflores.com, Kamis 24 Januari 2020, lewat pesan singkat Whatsapp.

Menurut Aventinus, adapun hasil perundingan yang dilakukan oleh para karyawan bersama PT. WTC ialah, pihak perusahasn siap membayar pesangon dalam rentan waktu 10 hari dari tanggal perundingan dibuat. Namun hingga Januari 2020, pihak perusahan belum mengeksekusi perundingan yang dimaksud.

Perundingan itu dulu dibuat di Sangata dan ditanda tangani oleh Bupati Kutai Timur, DPRD Kaltim, pihak perusahan dan perwakilan karyawan,” lanjut Aventinus.

Ia menuturkan, hingga kini kondisi 374 korban PHK PT. WTC semakin memburuk.

“Pada saat peristiwa pemecatan tersebut, terdapat 7 orang ibu hamil dan sekarang telah melahirkan di Rumah Sakit Sangata dengan biaya sendiri. Dari ketujuh yang melahirkan ini, terdapat satu bayi yang meninggal pada tanggal 16 Desember 2019 lalu paska keluar dari rumah sakit,” kata Aventinus.

Terkait kondisi buruk yang dialami oleh para karyawan tersebut, Aventinus berharap agar pemerintah NTT turun tangan mengatasi masalah yang dihadapi oleh para buruh.

Sebagaian besar di sini adalah warga Manggarai Barat. Total 216 orang yang berasal dari Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Maumere, Adonara dan Kupang. Kami minta pihak Propinsi atau beberapa kepala daerah yang saya sebutkan tadi saling bersinergi untuk menyelesaikan masalah tenaga kerja seperti yang kami alami sekarang,” tambah Aventinus.

Menurut Aventinus, sebelumnya ada berita yang menuliskan bahwa para pekerja yang di PHK kan oleh perusahan WTC telah dipekerjakan kembali itu murni hoax.

Nyatanya kami masih di tenda pengungsian, pihak perusahan maupun pihak pemerintah tidak ada kepedulian terhadap nasib kami. Kami mohon bantulah kami. Kalau ada berita bahwa masalah kami telah selesai dan kami kembali dipekerjakan, itu kabar bohong,” tutupnya.(*)

Facebook Comments