Banner-Top
Banner-Top

Pandangan Sosiolog terkait Kehadiran Minimarket di Kampung Kembur, Matim

Lasarus Jehamat. Foto/Ist.
Lasarus Jehamat. Foto/Ist.

MANGGARAI TIMUR, POSFLORES.COM Pemilik usaha Minimarket (Pancaran Mart) di Borong, Manggarai Timur yang hendak melebarkan usaha minimarket di Kampung Kembur, Kelurahan Satar Peot, Kecamatan Borong mendapat penolakan dari pelaku UKM di wilayah tersebut.

Pelaku UKM (Usaha Kecil Menengah) mengaku usahanya terancam gulung tikar jika minimarket tetap beroperasi. Untuk itu mereka (Pelaku UKM) melakukan penolakan kehadiran minimarket di wilayah itu.

Selain adanya penolakan dari warga, hal berbeda datang dari Pemda Matim melalui dinas terkait yang mengijinkan pendirian minimarket namun tidak diperkenankan menjual sembako.

Namun, walau mendapatkan penolakan warga dan adanya larangan menjual sembako dari Pemda Matim, pihak Pancaran Mart tetap berencana menjual sembako pada unit usahanya tersebut.

Manegement Pancaran Mart menilai, pemerintah tidak berhak mengatur jenis usaha yang akan dijalankan di minimarket tersebut.

Pada sisi lain, dukungan terhadap kehadiran minimarket di wilayah itu mengalir dari berbagai pihak. Pihak yang mendukung kehadiran minimarket menilai, dengan adanya minimarket maka akan tercipta lapangan kerja. Selain itu, kehadiran mnimarket dinilai sebagai sebuah kemajuan bagi wilyalah tersebut.

Berangkat dari pro dan kontra terkait kehadiran minimarket di Kampung Kembur, berikut ini tanggapan dari Sosiolog di Universitas Nusa Cendana Kupang, Lasarus Jehamat, S.Sos.

Dosen Sosiologi di Undana tersebut mengatakan kehadiran Pancaran Mart dinilai akan mengancam keberadaan pelaku usaha kecil dan menengah.

“Jelas ini sangat merugikan bagi pedagang lokal karena perputaran ekonomi akan teraup pada pengusaha pemilik modal besar,” kata Lasarus Jehamat kepada posflores.com, Selasa, 29/06/2021.

Lasarus mengatakan, kehadiran minimarket tersebut menunjukkan rezim neoliberalisme bukan isapan jempol belaka.

“Pertama, karena negara sangat lemah posisi tawarnya ketika berhadapan dengan pemilik modal. Kedua, kohesivitas masyarakat lokal sudah sangat rendah untuk sekarang ini. Ketiga, negara gagal memberdayakan pengusaha lokal,” papar Lasarus.

Lasarus berharap, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur harus tegas dan kuat menolak masuknya rezim neoliberalisme ke Desa.

“Diharapkan Pemkab melalui dinas terkait untuk berada di posisi pengusaha lokal dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bersaing dengan pengusaha dari luar,” harapnya. (Yunt)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top