Banner-Top
Banner-Top

Pedagang Sembako di Borong Temui Pimpinan DPRD Dan Komisi B DPRD Kabupaten Matim

Pedagang sedang berdialog dengan Anggota Dewan di Lehong. Foto/Yon Sahaja
Pedagang sedang berdialog dengan Anggota Dewan di Lehong. Foto/Yon Sahaja

Oleh: Yon Sahaja

 

BORONG, POSFLORES.COMSebanyak 20 orang warga Kampung Nggeok, Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Manggarai Timur  mendatangi gedung DPRD Matim pada Kamis,(3/10/2019).

Warga yang berprofesi sebagai pedagang sayur dan sembako ini ingin berdialog dengan anggota dewan demi mencari solusi atas rencana Pemda Matim(dinas Perindagkop)yang akan membangun pagar tembok pembatas  antara tanah Pemda dengan tanah warga.

Kedatangan mereka diterima secara baik oleh pimpinan DPRD, Heremias Dupa dan ketua Komisi B, Agustinus Tangkur bersama anggota Komisi B DPRD yang membidangi urusan tersebut.

Dialog warga bersama anggota dewan dan Dinas Perindagkop tersebut berlangsung aman dan tertib. Sebelum dialog tersebut dimulai, ketua Komisi B Agustinus Tangkur selaku pimpinam rapat memberikan kesempatan kepada salah satu perwakikan warga untuk membacakan point-point penting terkait tuntutan mereka.

Alebertus Agung, mewakili warga yang hadir membacakan lima point terkait masalah yang dihadapi oleh para pedagang sayur dan sembako tersebut. Berikut lima point yang menjadi tuntutan para pedagang:

Pertama, kami menolak dengan sangat keras rencana Pemda Matim Cq. Dinas Perindagkop untuk membangun pagar tembok di halaman rumah kami. Pasalnya sebagai pemilik sah yang memiliki sertifikat tanah, tidak mengerti apa tujuan Pemda membangun tembok pembatas di halaman rumah kami.

Kedua, kami merasa resah dan tidak nyaman dalam aktifitas mencari nafkah kami karena kami terus mendapat ancaman, intimidasi secara verbal bahkan lebih dari itu kami dipaksa untuk membongkar stand/rumah yang kami gunakan untuk jualan.

Ketiga, apapun pembangunan di Matim khususnya di wilayah kami Waereca/Nggeok, kami sangat mendukung sepanjang itu tidak merampas hak kami.

Keempat, Lurah tidak pernah ada untuk melindungi kami sebagai warganya dan kami mencurigai ada persekongkolan. Lurah yang menandatangai serifikat tanah yang kami miliki, harusnya Lurah tahu bahwa tanah tersebut bukan tanah Pemda tetapi tanah warga yang ada di sekitar pasar Borong. Aparat baik TNI maupun POLRI sebagai alat Negara harusnya melindungi masyarakat bukan sebaliknya.

Kelima, Kami berharap Bapak/Ibu anggota Dewan mau turun ke lapangan untuk melihat dan berkomunikasi langsung dengan warga.

Menanggapi persoalan warga tersebut ketua Komis B, Anggustinus Tangkur, memberikan kesempatan kepada kadis Perindagkop, Fransiskus P. sinta, untuk menjelaskan tentang pembangunan pagar tersebut. Fransiskus pun menjelaskan bahwa tidak punya niat tidak baik terhadap para pedagang.

“Pemda tidak memiliki niat tidak baik terhadap pedagang. Namun hanya untuk mengamankan aset Pemda. Kita sudah sosialisasi hal tersebut kali lalu. Mungkin bapak ibu yang hadir ini tidak di tempat saat sosialisasi tersebut. Kita hanya membangun pagar pembatas saja agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari,” ucap Frasnsiskus.

Kesimpulan hasil dialogpun mendapat titik temu ketika ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, meminta warga untuk bersabar.

“Harap bersabar yah. Saya minta rekan dinas Perindagkop bersama Komisi B, besok(4/10/2019) ke lokasi untuk mengecek fakta di lapangan. Hasilnya akan menjadi kesimpulan akhir dari dialog kita hari ini,” kata Dupa.(*)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top