Banner-Top
Banner-Top

Pelaku Penganiayaan Berat di Manggarai Barat Diamankan Polisi

Pelaku MS saat diamankan polisi. Foto/Tim.
Pelaku MS saat diamankan polisi. Foto/Tim.

MANGGARAI BARAT, POSFLORES.COM  Kasus penganiayaan berat menyebabkan orang meninggal dunia terjadi di area persawahan Rintung, Kampung Warsawe, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Sabtu (03/07/2021) sore sekitar pukul 16.00 Wita.

Korban adalah HH (60) sedangkan pelaku penganiayaan adalah MS (33). Keduanya merupakan warga satu kampung di Kampung Warsawe, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling.

Diduga, korban meninggal dunia akibat dianiaya pelaku menggunakan senjata tajam berupa sebilah parang.

Kasus tersebut dibenarkan Kapolres Manggarai Barat AKBP Bambang Hari Wibowo, S.I.K., M.Si. melalui Kasat Reskrim IPTU Yoga Darma Susanto, S.Tr.K.

Yoga mengatakan, usai mendapat informasi tersebut, Satuan Reserse Kriminal Polres Manggarai Barat yang terdiri dari Tim Jatanras Komodo dan Tim Inafis langsung turun ke lokasi kejadian.

“Pelaku telah kita amankan beserta barang bukti dan lakukan olah TKP serta memasang garis polisi di lokasi kejadian. Sedangkan untuk korban, telah menjalani visum et repertum di RSUD Pratama Komodo Labuan Bajo tadi malam,” ungkap Yoga, Minggu (04/07/2021).

Yoga menambahkan, setelah dilakukan olah TKP dan pemeriksaan oleh Dokter dari RSUD Pratama Komodo, korban dinyatakan meninggal dunia akibat terjadinya pendarahan pada luka–luka yang dialaminya.

“Korban mengalami luka pada tangan kanan hingga putus, luka pada tangan kiri hingga putus dan masih menempel pada kulit. Kemudian luka pada bahu kanan, luka pada tangan dan bahu kiri, luka pada leher bagian kanan, leher bagian kiri dan leher bagian belakang,” jelas Kasat Yoga.

Menurutnya, motif kejadian penganiayaan tersebut diduga akibat sengketa tanah. Diduga, ada dendam antara keduanya. Motif tersebut kata Yoga, akan didalami penyidik Polres Manggarai Barat.

“Diduga tindakan penganiayaan itu bermotif masalah sengketa lahan dan ada dendam lama. Karena sebelumnya pada tahun 2020 antara pelaku dan korban juga pernah terlibat dalam kasus penganiayaan yang menyebabkan pelaku MS (33) mendapat 11 jahitan di kaki bagian kirinya setelah mendapat tebasan parang dari korban HH,” katanya.

Kasat Yoga kemudian menjelaskan kejadian awal mula kejadian tersebut. Kata dia, menurut pangakuan sementara pelaku kepada Polisi, pada awalnya korban HH berada di kebun miliknya.

“Pada saat korban hendak meninggalkan kebunnya, korban berpapasan dengan pelaku MS di jalan yang saat itu hendak pergi ke kebun. Saat korban melihat pelaku yang hendak menuju kebun, korban kemudian kembali menuju kebun miliknya,” ungkap Yoga.

Lebih lanjut Yoga mengatakan, pada saat pelaku sedang memotong ranting–ranting yang menghalangi jalan menuju kebun miliknya, korban HH melampar batu kearah pelaku. Kemudian pelaku menghindar untuk melindungi diri dan saat bersamaan pelaku juga kembali melempar batu kearah korban.

Kasat Yoga menjelaskan, saat itu korban hendak mengeluarkan parang dari sarungnya yang terikat pada pinggang korban untuk menyerang pelaku MS. Namun pelaku yang merasa tidak terima tindakan korban kepada dirinya tersebut langsung menyerang korban duluan dengan sebilah parang miliknya secara berulang kali.

“Yang mana serangan pertama mengenai tangan kanan dan pada saat pelaku hendak melakukan serangan yang kedua korban hendak menangkis serangan pelaku sehingga mengakibatkan pergelangan tangan kanan korban terputus, kemudian pelaku melakukan serangan ketiga dan keempat yang mengenai leher dari korban yang mengakibatkan korban jatuh ke tanah dan pelaku menyerang secara berulang kali hingga korban meninggal dunia,” jelas mantan Kapolsek Lembor itu.

Setelah melihat korban yang sudah tergeletak bersimbah darah, pelaku langsung lari meninggalkan korban di lokasi kejadian dan langsung mendatangi Kantor Desa Cunca Wulang

“Pelaku langsung mengamankan diri di Kantor Desa Cunca Wulang dan melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala Desa, kemudian dilanjutkan kepada pihak Polsek Sano Nggoang,” tambahnya.

Sementara itu, guna meredam situasi, Polisi mengimbau keluarga korban agar tidak terprovokasi melakukan aksi balas dendam dan berjanji akan menindak tegas pelaku yang melakukan tindak pidana tersebut.

“Kita sudah memberikan imbauan agar tidak terprovokasi aksi balas dendam dan dari pihak keluarga korban pun sudah menyerahkan kasus ini sepenuhnya ke Polres Manggarai Barat,” tutup IPTU Yoga.

Adapun sejumlah barang bukti yang diamankan dari pelaku antara lain, sebilah parang yang terdapat bekas darah, 2 (dua) buah batu, 1 (satu) buah Mata tombak yang terpisah dari gagangnya, 1 (satu) buah kayu gagang tombak, 1 (satu) buah topi warna biru dan 1 (satu) pasang sandal jepit warna biru.

Atas perbuatannya, pelaku disangkakan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (Tim)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top