Banner-Top
Banner-Top

Pengakuan Mahasiswa asal Matim, Kuota Internet lebih Penting dari Sembako

Safira, Mahasisi asal Manggarai Timur. Foto/ist.
Safira, Mahasisi asal Manggarai Timur. Foto/ist.

JAKARTA, POSFLORES.COMAkibat Pandemi Covid-19, hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia melakukan perkuliahan secara online. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mendukung langkah pemerintah dalam memutuskan rantai penyebaran covid-19 di Indonesia.

Bagi sebagian mahasiswa yang memiliki latar belakang ekonomi keluarga di atas rata-rata, tentu hal ini tidak menjadi beban. Namun hal itu menjadi beban tersendiri bagi mahasiswa yang latar belakang ekonomi menengah ke bawah.

Seperti yang diungkapkan oleh Safira Fatima (19), mahasiswi jurusan kesehatan masyarakat di Stikes Kharisma Persada Tanggerang, Jakarta Selatan.

Menurut pengakuan Safira (mahasiswa asal Manggarai Timur, NTT), dirinya  mending tidak makan daripada tidak memiliki kuota internet untuk memperlancar kuliah online. Dia berharap, Pemda Matim dapat memberikan bantuan kuota internet kepada para mahasiswa.

“Pusing aku ngomong sembako. Udah-udah aja deh. Katanya 9 dasar bahan pokok itu. Aku nge-responnya lebih baik pemda matim beri paketan internet aja. Kalau soal perut, kadang kita dapat makanan dari tetangga,” ungkap Safira kepada posflores.com, melalui sambungan telepon, Sabtu, 30 Mei 2020.

Safira mengaku, setiap bulan orangtuanya hanya mengirimkan uang pas-pasan sesuai dengan pendapatan mereka sebagai seorang petani.

“Orangtua udah kirim uang pas-pasan untuk beli makanan. Kuota ngga ada. Misalnya kita beli paketan yang murah otomatis cepat habis. Ya udah, lebih baik kita beli paketan mahal biar lama di pakai untuk kuliah online. Alhasil, makanan tak jadi prioritas untuk dibeli,” katanya.

Kondisi seperti itu juga dialami oleh Gusti Marsin, mahasiwa asal Manggarai Timur yang saat ini sedang menempuh pendidikan disalah satu perguruan tinggi yang ada di Surabaya, Jawa Timur.

Gusti menceritakan, gara-gara kendala di kuota internet, dirinya sering tidak mengikuti perkuliahan online terhitung sudah belasan kali. Ia menerangkan, biasanya kampus memberikan toleransi kepada mahasiswa untuk absen tiga kali saja. Namun, di tengah pandemi Covid-19, kampus memberlakukan perkuliahan online dan dirinya sudah absen belasan kali.

“Saya sudah absen belasan kali karena paketan dan kemungkinan tidak lulus berbagai mata kuliah,” tutup Gusti. [Wil Susu]

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top