Banner-Top
Banner-Top

Polres Mabar Ringkus 21 Orang Bayaran di Desa Golo Mori

Polres Mabar amankan 21 pelaku garap lahan di Desa Golo Mori. Foto/Tim.
Polres Mabar amankan 21 pelaku garap lahan di Desa Golo Mori. Foto/Tim.

MANGGAARAI BARAT — Kepolisian Resor Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mengamankan 21 orang bayaran yang akan melakukan aksi di lahan sengketa di Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (02/07/2021) lalu.

Hal tersebut berdasarkan keterangan dari Kapolres Manggarai Barat AKBP Bambang Hari Wibowo yang memimpin langsung proses pengamanan tersebut.

Wibowo mengatakan, 21 orang tersebut sudah ditetapkan jadi tersangka, terdiri dari tiga orang yang menjadi dalang dari aksi tersebut berasal Desa Golo Mori, 13 orang bayaran berasal dari Kampung Popo, Desa Popo, Kecamatan Satar Mese Utara dan lima orang bayaran lainnya berasal dari Kampung Dimpong, Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.

Pengamanan 21 orang itu berdasarkan laporan polisi nomor : LP / B /128 / VII / 2021 / SPKT / RES MABAR / POLDA NTT tanggal 03 Juli 2021 dari saudara FP (58) warga Dusun Nggoer, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

“Berdasarkan laporan tersebut, kami langsung bergerak ke TKP untuk mengamankan tiga orang yang menjadi dalang dari kegiatan itu, bersama 18 orang massa bayaran, untuk mencegah terjadinya aksi bentrok antara para pihak yang dapat berujung pada banyak peristiwa bentrok di lahan sengketa selama ini. Selain itu, agar tidak membuat resah masyarakat dan mengganggu kenyamanan masyarakat Desa Golo Mori khususnya Kampung Nggoer serta bisa mengancam Kamtibmas di wilayah Kabupaten Manggarai Barat,” ungkapnya.

Kapolres Wibowo mengatakan, kejadian tersebut terjadi pada hari Kamis, 01 Juli 2021. Sebanyak 18 orang tersangka dari Kampung Popo, Desa Popo, Kecamatan Satar Mese Utara dan dari Kampung Dimpong, Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai.

YT (68) merupakan pemimpin gerombolan tersebut. Saat datang ke Desa Golo Mori masing–masing tersangka membawa parang.

“Para tersangka tersebut dijemput di Kampung Dalong, Desa Watu Nggelek, Kecamatan Komodo dengan menggunakan 2 unit kendaraan roda empat yang disewa oleh tersangka HA (57) dan 18 orang massa bayaran menginap di rumah saudari MB (43) dan tersangka HA (57) di Desa Golo Mori, kedatangan para massa bayaran itu tidak pernah dilaporkan oleh HA (57) maupun MB (43) kepada aparat Desa setempat maupun pihak keamanan di Desa tersebut,” terang Kapolres Manggarai Barat

Selanjutnya, pada hari Jumat, 02 Juli 2021 sekitar pukul 09.00 Wita, tersangka ATM (46), HBKH (31) dan 18 orang tersangka yang berasal dari Kampung Popo dan Kampung Dimpong berjalan secara bergerombol dengan masing–masing membawa senjata tajam memasuki wilayah Kampung dan Desa, untuk menuju ke lokasi tanah Lingko Rase Koe, Desa Golo Mori dalam rangka menduduki lahan sengketa tersebut untuk mendukung tersangka HA (57).

FP (58), sebagai salah satu pihak yang mengaku pemilik tanah di Lingko Rase Koe tersebut, mengatakan bahwa, tindakan HA (57) ini sudah dilakukan berulang kali ketika sedang bersengketa.

“Atas kejadian tersebut saudara FP (58) melaporkan kepada pihak Kepolisian dan para pelaku tertangkap tangan oleh Tim Jatanras Komodo saat memegang senjata tajam yang langsung diamankan oleh personil Polres Manggarai Barat untuk dilakukan proses hukum lebih lanjut,” tambahnya.

Kemudian, Kapolres juga menjelaskan bahwa para tersangka yang bukan warga asli Desa Golo Mori di fasilitasi dan di bayar Rp 70.000,- per hari oleh tersangka HA (57).

“Tersangka HA (57) sengaja mendatangkan 17 orang dari Kampung Popo dan Kampung Dimpong dibawah pimpinan YT (68) dengan membawa serta senjata tajam untuk tujuan menduduki lokasi Tanah Lingko Rase Koe, Desa Golo Mori yang adalah objek sengketa Tanah antara saudara FP (58) dan Kawan–Kawan dengan Saudara HA (57) dan saudari MB (43). Untuk kita ketahui bersama bahwa Tersangka YT (68) bersama 17 tersangka lainnya sengaja didatangkan untuk membantu tersangka HA (57) untuk menduduki lahan yang disengketakan,” terangnya.

Bersarkan keterangan Saksi pelapor dan masyarakat serta barang bukti berupa 15 bilah parang, para pelaku dikenakan Pasal 2 Ayat 1 Undang–Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman Pidana 10 tahun penjara. (Flo)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top