Jum. Feb 28th, 2020

Mengawal Nusa Tenggara Timur

Problem Krusial Pemasungan di NTT dan Cerpen Bertemakan ODGJ yang Minim Riset

2 min read

ODGJ di Matim. Foto/Yon Sahaja.

Oleh: Valery Isno

 

RUTENG, POSFLORES.COM–Lomba penulisan karya sastra berupa cerpen dengan tema Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) memiliki sejumlah catatan penting dari tim juri yang menilai hasil karya cerpenis tentang ODGJ di Ruteng. Hasil lima besar untuk cerpen tersebut ternyata tidak lepas dari sejumlah kesalahan elementer seperti penggunaan kalimat-kalimat yang tak efektif, kesalahan ejaan dan tanda baca, pemilihan diksi yang tak hati-hati, atau bahkan silap yang memberikan dampak serius pada otoritas pengarang, seperti kesalahan informasi faktual dalam narasi.

Kesalahan-kesalahan tersebut tampaknya disebabkan oleh kerja penyuntingan yang tergesa-gesa dan riset yang digarap ala kadarnya. “Dengan demikian, kelima cerpen terpilih bisa dibilang sebagai minus malum, cerpen-cerpen yang memiliki kadar kesalahan paling sedikit, cerpen-cerpen yang mempunyai tingkat kesalahan yang masih dapat dimaafkan,” tutur A.N Wibisana salah satu Dewan Juri.

Ia juga mengungkapkan kekecewaannya. Tema semenarik ini, para cerpenis tampak menggarap isu ODGJ berdasarkan pengamatan minim riset. Ada spektrum tipe gangguan jiwa yang sangat luas—apakah para cerpenis membaca DSM-5, atau paling tidak ikhtisarnya—tetapi nyaris semua cerpen tergiring membahas ODGJ dengan sederhana sebagai “orang gila”. Beberapa cerpen membahas PTSD, tetapi subjek permasalahan favorit para cerpenis itu adalah pemasungan, stigma.

Betul pemasungan adalah problem krusial di NTT atau di Jawa Barat mungkin paling krusial juga, tetapi sayembara ini jelas-jelas diadakan sebagai salah satu bentuk pengarusutamaan isu ODGJ, bukan semata advokasi untuk masalah pemasungan,” jelasnya, pada Kamis 12 Desember 2019.

Sementara itu, menurut dr. Ronald Susilo, kesalahan di atas membuktikan bahwa penulis-penulis dari NTT belum menaruh minat yang besar pada dunia literasi. Barangkali, aku Ronald, perlu dilakukan penelitian terkait hal ini.

Ketidaktertarikan penulis-penulis ini bisa terjadi karena membaca dan menulis tidak menghasilkan uang dalam waktu yang cepat.

Dengan bahasa yang lebih sederhana, menulis tidak dapat memberi kehidupan yang layak. Akhirnya, akan muncul istilah, menulis itu butuh bakat, bukan usaha. Jika ini terjadi, maka hilanglah daya saing kita di semua bidang. Ingin melakukan sesuatu, yang dipikir pertama kali adalah bakat bukan bagaimana caranya,” tutur Ronald.

Secara keseluruhan, Ia sependapat jika cerpen dengan tema ODGJ yang masuk ke meja juri, kualitasnya belum sesuai dengan harapan. Sebagian besar cerpen ditulis dengan tergesa-gesa sehingga banyak penggunaan tanda baca yang tidak tepat, pemilihan kata yang kurang pas, nalar atau logika sebuah cerita tidak dibangun dengan baik, judul yang masih belum provokatif, tokoh yang diciptakan tidak terasa hidup ketika dibaca, teknik penceritaan yang itu-itu saja dan masih banyak lagi yang sebenarnya bisa disebutkan.

“Ini tentu saja akan menjadi pekerjaan ekstra bagi editor ketika harus menyunting cerpen-cerpen yang akan dikumpulkan menjadi antologi nantinya,” tutup Ronald.(*)

Facebook Comments