Banner-Top
Banner-Top

Proses Penjaringan Anggota BPD di Desa Ruan, diduga tidak Transparan

Kantor Desa Ruan. Foto/Ando.
Kantor Desa Ruan. Foto/Ando.

Proses Penjaringan BPD di Desa Ruan diduga Tidak Transparan

BORONG,POSFLORES.COM — Proses penjaringan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) representasi kaum perempuan tingkat RT di Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur diduga tidak transparan. Panitia pemilihan BPD dinilai serampangan dalam menentukan keterwakilan kaum perempuan di desa tersebut.

Maria Wea, warga RT. 09, Rw. 06, Dusun Pau, merasa tidak puas cara kerja panitia pemilihan. Pasalnya, keterwakilan perempuan dalam pencalonan BPD di dusun tersebut tidak melalui prosedur yang benar.

“Selama ini tidak ada proses pendaftaran dan penjaringan keterwakilan perempuan di RT kami. Ironisnya, dalam pengurus BPD terpilih pada tangal 20 Juli 2020, ada nama salah satu keterwakilan perempuan dari dusun pau,” jelas Wea.

Demi mencari keadilan, Maria Wea pun memberanikan diri mengadu persoalan ini ke DPMD Matim. Namun, pihak DPMD mengarahkan dirinya untuk konsultasi dengan pihak Kecamatan Kota Komba

“Pihak DPMD arahkan kami untuk konsultasi langsung ke pihak Kecamatan Kota Komba di Waelengga. Akhirnya pada tanggal 14 September 2020 saya ke kantor camat dan berkonsultasi dengan salah seorang staf yang menangani persoalan ini. Namun, lagi-lagi saya tidak memperoleh jawaban yang memuaskan,” kata Wea.

Sementara itu, ketua panitia pemilihan Anggota BPD Desa Ruan, Salfianus Juga, menerangkan bahwa pihaknya telah bekerja sesuai prosedur.

“Saya sudah perintahkan Ketua RT untuk melakukan penjaringan. Dan prosesnya sudah dilakukan. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Desa Ruan ada 7 orang. Dengan perincian harus ada keterwakilan perempuan, kemudian keterwakilan itu diambil dari Dusun Pau, karena kuotanya ada 3 kursi keterwakilan BPD di dusun saya, dan juga dilihat dari luas wilayahnya,” jelas Juga.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Ruan, Sebastianus Jangga, saat dimintai tanggapannya membantah terkait informasi yang disampaikan narasumber (Maria Wea).

“Waktu itu sudah ada penjaringan di Dusun Pau buktinya sudah ada yang gugur di tingkat RT. Kemudian yang lolos menjadi pengurus BPD keterwakilan perempuan atas nama Maria Anggelina Gelon. Karena dia tunggal makanya tidak dilakukan proses pemilihan dan dianggap masuk,” katanya.

Menurut Jangga, proses penjaringan tingkat RT hanya dalam waktu dua minggu karena secara mendadak DPMD Matim menyurati Pemdes Ruan untuk melakukan pergantian pengurus BPD.

“Memang kalau sesuai Perbub, 6 bulan sebelum berakhirnya masa kepengurusan BPD lama, harus melakukan penjaringan pada tingkat RT.  Namun, karena surat yang masuk begitu mendadak, kami pun melakukan penjaringan pada tingkat RT dalam waktu singkat,” kata Jangga. (Ando)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top