Banner-Top
Banner-Top

Rawat Di Dukun Itu Ada Syaratnya [Stop Stigma]

Pater Avent Saur, SVD saat mengunjungi Orang Dengan Gangguan Jiwa di Manggarai Timur beberapa waktu lalu. Foto/dok. Yon Sahaja.
Pater Avent Saur, SVD saat mengunjungi Orang Dengan Gangguan Jiwa di Manggarai Timur beberapa waktu lalu. Foto/dok. Yon Sahaja.

Oleh: Pater Avent Saur, SVD

 

ENDE, POSFLORES.COMBeberapa hari lalu, saya mendapat kabar tentang dua pemuda kakak-beradik menderita gangguan jiwa di wilayah Boawae, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores.

Tadi malam, saya kontak Ibu mereka. Kepadanya, beberapa hal terkait gangguan jiwa, saya infokan dan jelaskan.

***

Karena merasa agak kurang sesuai dengan yang Ibu itu pahami tentang sakit dua anaknya itu, ia ungkapkan beberapa hal.

Katanya, dua anaknya sedang diobati oleh dukun, seorang Bapak yang sudah uzur.

Ritusnya, air ia doakan, lalu air itu dipakai untuk memasak nasi dan untuk minum. Dengan konsumsi nasi dan air itu, dua anaknya diharapkan bisa lekas sembuh.

Setelah beberapa pekan dirawat, dua pemuda kakak-beradik itu tidak lekas pulih.

Dukun pun ajukan satu syarat. Apa?

Ibu itu diminta untuk sediakan uang sebanyak Rp 6 juta. Uang itu akan dibuang ke laut, dengan harapan bahwa uang itu akan membawa serta penyakit dua anaknya itu ke laut.

Bukan cuma uang. Dukun juga meminta 33 benda yang akan dibuang bersama uang itu. Misalnya, seekor domba, ayam, anjing, dengan warna bulu yang sama. Juga parang, pisau, handuk, baju, celana, dan lain-lain. Jumlah semuanya 33 barang plus uang.

***

Ibu itu ceritakan ini semua dengan menangis sejadi-jadinya. Sebab Tuhan terasa tidak adil padanya. Dua anak sakit sudah hampir 10 tahun, malah syarat sembuhnya dengan aneka barang yang susah dipenuhi.

Beban pun bertambah berat. Napas juga makin sesak.

***

Kepada Ibu itu, saya titip pesan, kalau Bapak itu datang lagi ke rumah, infokan kepada saya supaya saya berbicara dengannya, supaya saya juga bisa berikan obat kepada Bapak itu. Dukun itu sendiri mesti pulih duluan.

Pesan kedua. Kami bantu pemulihan dua anaknya Ibu dengan memberikan pelayanan medis. Kami akan konsultasi dengan dokter supaya dua pemuda itu lekas konsumsi obat.

Ibu itu tanya, berapa harga obatnya?

Ibu pelihara baik-baik domba, anjing, dan ayam itu. Nanti dijual, uangnya dipakai untuk beli makanan bergizi buat dua anak Ibu agar selain saya beri obat, mereka juga konsumsi yang enak.

Berarti obatnya gratis? Tidak gratis.

Banyak orang baik yang bersedia membantu orang-orang susah. Dukun itu ingin membantu tetapi justru menambah beban hidupnya Ibu. Itu bukan bantuan yang baik, melainkan kejahatan berbalut kebaikan.

***

Pengalaman mendatangkan dukun atau mendatangi dukun, bukan hanya dialami oleh Ibu ini. Banyak, dan hampir semua keluarga dari pasien gangguan jiwa di NTT, pernah berurusan dengan dukun.

Ini stigma sosial. Ini mesti dihentikan.

Salam sehat jiwa.
___________________

_Avent Saur, SVD_
_Ende, 16 September 2019
-KelompokKasihInsanis
_SukarelawanPeduliOrangdenganGangguanJiwa
_ProvinsiNTT***

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top