Banner-Top
Banner-Top

Rimpet Sebelah Wae Musur

Ilustrasi
Ilustrasi

Cerpen: Rimpet Sebelah Wae Musur

Oleh: Antonius Gatung

Bukan karena akau orang penting, atau investor tambang yang selalu diteror aktivis lingkungan. Akujuga bukan penguasa yang dipuja para penjilat untuk selalu meminta jatah diakhir permainan. Hape ku memang selalu dihubungi hanya oleh satu orang, lantaran beberapa minggu yang lalu, kami baru saja selesai mengumumkan kelulusan oleh pihak sekolah. Yah, aku sudah tamat esema, sudah besar, dan yang paling penting sudah bisa kawin eits kalau sudah punya banyak uang pastinya. Karena nenek bilang, pantang menikah kalau belum punya banyak uang. Belisnya enu-enu Manggarai itukan terlampau mahal, menyaingi mobil Pajero sport.

Pengumuman kelulusan dihari itu memang sungguh tidak enak. Tidak seenak kue yang dibeli tetangga setelah menerima BLT. Semacam ada yang kurang sreg dihatiku. Bukan karena khawtir tidak lulus. Maklum, angkatan kami merupakan angkatan yang spesial, karena lulus esema tanpa harus berjibaku dengan buku-buku. Namanya juga lulus karena bencana (COVID-19). tak perlu Ujian Nasional, tak perlu susah-susah siapkan bahan untuk menyontek, bagi yang suka nyontek.

Hal yang paling saya khawatirkan justru adalah si Rimpet kekasih hatiku. Namanya adalah Rina. Maf, bukan Rina yang ramai dibicarakan orang karena menyunat dana BLT warga miskin. Dia adalah Rina teman kelasku di esema. Teman sekelas menjuluki dia Rimpet Sebelah Wae Musur karena dia kebetulan berasal dari suatu kampung sebelah Wae Musur. Dia orangnya baik, cantik dan lembut. Tidak seperti mantan- mantan itu, mantan penjahat, mantan pencuri, mantan Investor tambang dan mantan lainnya yang amat kejam. Kekhwatiran saya, bukan karena dia tidak setia lagi, atau rasa cintanya padaku berkurang, atau apalah, tapi saya khawatir bahwa pertemuan kami selanjutnya sangat sulit terjadi. Tentu saja penghalangnya adalah Wae Musur.

Nada lembut di balik telepon itu pun juga selalu mengeluh tentang ganasnya Wae Musur. Wae Musur itu serem nana. Sangar sekali, baik pada saat dia banjir maupun sat dia surut. Pungkasnya kesal. Pernah terbesit dalam benakku, untuk mencoba melawan medan yang ekstrim di Wae Musur demi cintaku di seberang sana, tapi aku khawtir jangan sampai motor bututku malah menjadi mangsa liar si Wae Musur. Ah sudahlah, cerutuku. Biar aku pendam saja rinduku terhadap Rina Si Rimpet Sebelah Wae Musur. Coba saja, pemerintah jangan dulu sibuk urus itu tambang, bangun jembatan di Wae Musur pesisir pasti tidak ada masyrakat yang menolak.tidak seperti membangun pabrik tambang yang kian ramai ditolak masyarakat. Apa lagi saya dengar, di tempat itu merupakan jalur alternatif lintas selatan penghubung dua kabupaten tetangga, Manggarai dan Manggarai Barat.

Saya penasaran dengan cerita si Rimpet, jika ada tamu dari kota yang bertandang ke rumahnhya, ayahnya selalu menyuguhkan tuak bakok sebagai simbol penyambutan yang paling hangat. Tetapi sebetulnya bukan itu yang paling saya rindukan. Biar bagaimanapun, Rina adalah prioritas disetiap lamunanku. Dia adalah primadonaku. Bulan purnamaku. Pokoknya she is my everything.

Setiap orang yang kujumpai, bila kuceritakan tentang Wae Musur, pasti kata pertama yang keluar dari mulut mereka adalah sengsara. Sengsara melewati Wae Musur, ujar mereka. Kamu ada perlu apa di sebelah Wae Musur? Pacarmu dari kampung sebelah wae musur kah? Lebih baik ganti pacar dari pada kamu nanti ganti motor karena selalu terendam di Wae Musur. Sahut mereka menggodaku.

Nuraniku sempat ombang ambing mendengar perkataan orang-orang itu. Seganas itukah Wae Musur? Bukankah cinta bisa membuat semuanya menjadi mudah? Oh, Rina Si Rimpet dari sebelah Wae Musur, mafkan aku jika satu saat aku meninggalkanmu. Bukan aku tak sayang padamu, tapi aku takut menyebrangi Wae Musur.ah, jangan sampai aku tergoda. Biar bagaimanapun, Rina tak ada bandingnya. Dia bahkan sangat berarti bagiku. Namun ada benarnya juga kata orang-orang itu, sebelum semuanya terlambat, mungkin aku perlu mengambil sebuah keputusan? Gila, padahal baru tamat sekolahan, aku kok, sudah segila ini merindu. Sialan…..

Pagi itu, aku berniat untuk menelpon kekasihku Rina. Untuk berterus terang padanya tentang hal yang mengganjal di pikiranku. Lebih baik aku jujur saja padanya, bahwa aku mungkin bukan pejuang cinta sejati yang berani menyebrangi kali Wae Musur. Ku raih hape ku yang terletak di atas meja di ruang tamu. Namun, sebelum aku memencet tombol-tombol pada hape itu, sebuah panggilan masuk. Kali ini dia menggunakan panggilan video call. Entah dia menghubungiku dari atas pohon kah, atau dari puncak bukit kah, mengingat kampungnya selain susah dijangkaui oleh kendaraan juga sangat susah dijangkaui oleh jaringan internet. Aku tidak peduli, dari ketinggian mana dia menghubungiku melalui panggilan video ini.

Terlihat jelas di wajah cantiknya, senyum manis dengan lesung pipinya yang menawan. Wajahnya kegirangan. Ada apa geranga? Celotehku dalam hati. Mungkin ada kabar bagus, bahwa Wae Musur akan segera dibangunkan jembatan. Ah apa peduliku. Intinya Rina terlihat bahagia dipagi yang cerah ini.

Nana, saya senang sekali e. sahutnya lembut. Sa pu bapa setuju kalau saya kulia di Ruteng e. sambungnya lagi. Wah, berita bagus. Lebih bagus dari pembangunan jembatan di Wae Musur. Itu artinya saya tidak perlu menyebrangi Wae Musur untuk bertemu Rina. Satu lagi, saya tidak jadi kasi tinggal Rina. Takut dikutuk oleh Wae Musur, hehehehe. (***)

Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top