Banner-Top
Banner-Top

Siaran Pers Pemda Matim Terkait Pembasmian Anjing

Hewan pelharaan, Anjing,  sesaat setelah proses eliminasi. Foto/ist.
Hewan pelharaan, Anjing, sesaat setelah proses eliminasi. Foto/ist.

Siaran Pers, Selasa (05/12/2019)

Bagian Humas Pro Setda Matim

==============================

Antisipasi Status KLB, HPR di Matim di Eliminasi

Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  gencar melakukan Eliminasi Hewan Penular Rabies (HPR).

Hal ini dilakukan atas dasar Peraturan Daerah (Perda), Kabupaten Manggarai Timur,  nomor 6 tahun 2010 tentang Penertiban Penanggulangan dan Pemberantasan Hewan Penular Rabies (HPR).

Perda ini sudah lama diterbitkan dan juga sudah cukup lama diketahui masyarakat.  Hakikat Perda ini untuk mengantisipasi terjadinya status Kejadian Luar Biasa (KLB)  penularan HPR di Manggarai Timur. Saat ini HPR di Matim jumlahnya cukup tinggi.

Demi menjamin keselamatan nyawa manusia dan mengurangi korban yang berjatuhan akibat kena tular rabies,  petugas kontinyu melakukan eliminasi atau pembasmian HPR di wilayah itu.

Petugas yang tergabung dalam tim eliminasi antara lain TNI, Polri,  Satpol PP,  Dinas Peternakan,  Dinas Kesehatan,  Pihak Kecamatan,  dan Kelurahan.

Sebelum melakukan eliminasi,  terdahulunya lewati beberapa tahap,  salah satunya penyampaian lisan dan tulisan kepada warga melalui pihak Kecamatan yang diteruskan ke Kelurahan.

Sejauh ini,  baru sebagian desa di sembilan kecamatan yang sudah dikunjungi petugas untuk lakukan eliminasi HPR.  Untuk wilayah Kecamatan Borong dan Kota Komba,  beberapa titik sudah lakukan eliminasi antara lain di Desa Mokel,  Desa Golo Meni,  Desa Golo Ndele,  Paang Leleng, Desa Golo Tolang,  Desa Lembur,  Kelurahan Satar Peot,  Kelurahan  Rana Loba ,  Kelurahan Kota Ndora, dan akan masih lanjut ke wilayah lainnya.

Sebelum masuk pada ceritera elimanasi yang ramai dibahas di medsos sejak rabu 04/12/2019 itu,  terdahulunya dapat digambarkan,  bahwa dilokasi jadwal elimasi yang ramai dibahas itu pagi harinya terjadi satu gigitan anjing dan sampai kini masih dalam perawatan.

Wilayah dimaksud memang cukup banyak anjing dan masuk dalam daftar perhatian khusus petugas dalam memutuskan rantau HPR.

Terkait ceritera heboh eliminasi di medsos dan beberapa media, dapat digambarkan bahwa,  lokasi kejadian di kampung Tanggo, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong. Kampung itu tepat dijalan trans flores menuju Bajawa arah timur kota Borong.

Kronologi peristiwanya bahwa, rumah yang dikunjungi saat itu, memiliki 12 ekor anjing, dan sesuai ketentuan Perda sebagiannya dieliminasi dan sisanya hanya 2 ekor.

Saat petugas hendak melakukan eliminasi,  anjing yang diposting itu menyerang petugas.  Sontak, petugas langsung ambil tindakan dengan menangkap dan membunuh anjing dimaksud.

Usai  dibunuh,  petugas mengambil kepala anjing untuk sampel dan dibawa ke lap. Sedangkan badan anjing persis seperti postingan itu diambil tuan anjing. Selanjutnya petugas tidak tau badan anjing itu dibawa kemana oleh pemiliknya.

Petugas tidak membunuh anjing yang sedang menyusui anak. Anjing yang diposting itu menyerang petugas. Petugas tidak tau kalau anjing itu ada anaknya. Warga dimohon tidak memprovokasi situasi sosial dengan postingan postingan tidak penting. Sampaikanlah sesuatu ke publik dengan baik dan cermat serta sesuai kenyataan.

Pemerintah ambil tindakan tegas dengan HPR karena tingkat penularan HPR di Manggarai Timur cukup tinggi. Pemerintah berupaya lakukan tindakan pencegahan dengan cara memutus tali rantai HPR dengan cara melakukan eliminasi.

Untuk diketahui Perda nomor 6 tahun 2010 tentang Penertiban Penanggulangan dan Pemberantasan Hewan Penular Rabies (HPR), bagian keempat, tentang pemeliharaan, pasal 5 nomor 2, mengatakan, 'Pemilik HPR diperbolehkan paling banyak 2 ekor per rumah' Lalu diikuti penjelasan di pasal 6 soal perintah untuk aktiv Vaksin bagi 2 ekor HPR dimaksud.

Masyarakat diminta jangan memprovokasi dan jangan terprovokasi dengan postingan postingan yang berusaha memuluskan niat tertentu lalu membenarkan cara cara yang tidak layak dibuat.

Demikian juga bagi pengguna medsos, diminta untuk cermat dalam memahami berbagai postingan. Dimohon jangan cepat ambil kesimpulan terhadap sesuatu yang dilihat, sebab terkadang kesimpulan yang hanya melihat ceritra akhir dari sebuah postingan akan menciptakan kegaduhan.

Petugas gabungan lapangan sudah dibekali dasar kerja yang benar, serta bertindak sesuai tahapan tahan yang legal.(*)

Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top