Ming. Feb 23rd, 2020

Mengawal Nusa Tenggara Timur

Sumpah Pemuda: Pemuda Dan Apatisme Sosial

3 min read

Theodorus Pamputh

Sumpah Pemuda: Pemuda Dan Apatisme Sosial                                                       (Theodorus Pamput)

 

Sumpah Pemuda merupakan ikrar yang diucapkan pemuda-pemudi Indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menggambarkan semangat para pemuda untuk mewujudkan cita-cita terbentuknya suatu negara Indonesia dengan bangsa dan bahasanya. Ikrar ini merupakan keputusan Kongres Pemud II yang diselenggarakan di Batavia (Jakarta).
Saat ini Sumpah Pemuda telah memasuki usia 91 tahun, dimana usia yang sudah cukup tua dan matang untuk bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda lahir melalui proses yang sangat panjang dan memiliki latar belakang yang beraneka ragam, mulai dari agama, suku, adat istiadat yang menghasilkan satu tekad dan tujuan, yakni “Kami putra dan putri Indonesia, mengakau bertumpah darah yang satu, Tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Dan ini dapat diambil kesimpulan bahwa Indonesia digunakan untuk indentitas nasional yaitu tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia.
Apa arti dari semua itu? Saya ingin menegaskan, bahwa dalam catatan panjang sejarah Bangsa Indonesia, sejarah pemuda adalah sejarah perjuangan.

Pemuda adalah pelopor, sekaligus pejuang kemerdekaan. Pemuda adalah penjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan tidak kalah pentingnya, pemuda adalah pejuang keadilan yang selalu memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyat.
Tapi, apa yang terjadi sekarang ini? Di era yang disebut-sebut sebaga era milenial, masihkah para pemuda mempertahankan jati diri mereka sebagai sosok-sosok pejuang yang idealis? Atau sebaliknya terperangkap dalam hedonisme dan pragmatisme zaman?
Sumpah Pemuda, sebuah Sumpah yang penuh kemewahan idealisme, nasionalisme dan patriotisme.

Sekarang idealisme, nasionalisme dan patriotisme kita terusik oleh gencarnya upaya bangsa asing untuk berkuasa di negara ini. Bahkan pemerintah terkesan tidak mampu lagi melindungi tumpah darah Indonesia atau bahkan patut diduga membiarkan dan memberi jalan kepada bangsa asing untuk menguasai Indonesia. Konstitusi di kudeta dan membolehkan bangsa asing jadi presiden. Nilai luhur demokrasi musyawarah mufakat dalam hikmad kebijaksanaan diberangus dengan demokrasi ciptaan penjajah. Maka sistem negara tidak lagi mampu menyaring pemimpin yang lahir dari hikmad kebijaksanaan tetapi lahir dari demokrasi uang kaum oligarkhi.

Apatisme Sosial
Sungguh Pemuda mengalami degradasi, pemuda yang sesungguhnya harapan bangsa yang benar-benar diharapakan sebagai agen perubahan. Pemuda mampu merubah segalanya. “Beri Aku Sepuluh Pemuda laksana Kugoncangkan dunia”, pesan yang disampaikan Bung Karno ini merupakan penyerahan total dari seorang pendiri bangsa kepada Pemuda, karena yang melanjutkan kepemimpinan di Negara ini adalah jelas seorang Pemuda.
Apa yang terjadi dengan Pemuda Zaman Now?, banyak pemuda yang membuat suatu perkumpulan dengan tujuan hanya untuk euforia semata, padahal Pemuda telah mendapat “Perintah” dari Bung Karno untuk melaksnakan tugas menggoncangkan Dunia. Menggoncangkan dunia dengan cara agar tidak apatis melihat persoalan serta memberi solusi terhadap masalah yang dihadapi bangsa dan negara kita.

Generasi muda saat ini adalah kurang peduli dengan apa yang dicita-citakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta, kurang peduli dengan perjuangan yang telah dilakukan oleh para generasi terdahulunya, sekarang para pemuda terlalu sibuk menghabiskan waktu untuk bermain ria tanpa mempedulikan realitas sosial atau apatisme sosial. Kurangnya diskusi atau kajian kajian keilmuan yang dilakukan pemuda saat ini. Sehingga tingkat pergerakan sosial pun sangat kurang.

Datuk Tan Malaka “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda”. Kutipan ini harusnya kemudian membakar semangat kita sebagai pemuda, apkah itu dengan berkarya, apakah didalam berorganisasi atau diluar organisasi dengan menunjukan daya kritis terhadap bangsa dan negara dengan kontribusi tentunya bukan dengan hanya semata retorika saja.

Pada kesempatan kali ini penulis mencoba mengurai persoalan pemuda pemuda hari ini dalam beberapa catatan.
Pertama, apakah semangat pemuda hari ini dalam berkontribusi kepada negeri telah optimal? justru pemuda sekarang banyak berantipati, hanya merasa jadi penonton terhadap negeri ini, ini disebabkan beberapa faktor, faktor pertama ketidakpedulian pemerintah terhadap pemuda, apakah itu terhadap fasilitas pemuda dalam menjalankan kreatifitas serta kurangnya dukungan kepada pemuda dalam agenda-agenda tertentu.
Kedua, Apakah pemuda zaman Now telah memberikan yang terbaik untuk negara (Rakyat),membela rakyat yang tertindas, memperjuangkan bangsanya dengan terlibat aktif dalam kegiatan politik dan kemasyarakatan.
Ketiga, pemuda apatis (malas ikut campur) menyampaikan pendapat dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah, karena takut terkesan salah oleh pemangku kepentingan.

Sebagai pemuda yang telah bersumpah dan diberi diberi “kewenangan” untuk membela negara(Rakyat), mari kita bangkit memperjuangkan dan mempedulikan negara dan bangsa ini, bukan dengan apatis yang hedonisme ataupun individualitas, menjadi pemuda yang kritis bukan pemuda yang doyan provokasi. MERDEKA.!!!!!

 

Redaksi: Isi tulisan merupakan tanggung jawab penulis

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.