Banner-Top
Banner-Top

Tepal, Ritual Adat Menjelang Musim Tanam di Matim

Ritual Tepal di Kampung Parang. Foto/Yunt.
Ritual Tepal di Kampung Parang. Foto/Yunt.

MANGGARAI TIMUR — Mempertahankan tradisi warisan leluhur, bukanlah sebuah perkara gampang, apalagi di era yang serba modern ini. Pengaruh budaya asing tentu menjadi ancaman nyata.

Namun, walau gemburan budaya asing datang menerkam, masih ada komunitas adat yang teguh mempertahankannya. Bagi mereka, menjalankan ritual adat warisan leluhur merupakan sebuah keharusan.

Salah satu komunitas adat yang tetap teguh menjalankan tradisi warisan leluhur adalah Warga Kampung Parang, Desa Golo Ndele, Kecamatan Kota Komba Utara. Komunitas adat ini saban tahun selalu menjalankan titah adat.

Salah satu ritual adat yang menjadi tradisi warisan leluhur di kampung ini yakni ritual “Tepal“. Ritual Tepal merupakan sebuah tradisi bakar nasi bambu yang dilaksanakan setiap tahun saat musim tanam padi dan jagung tiba.

Ritual Tepal dengan bakar nasi bambu. Foto/Yunt.

Upacara ritual adat Tepal sendiri merupakan warisan nenek moyang Suku Mulos dan beberapa suku lainya di Kampung Parang. Seperti yang dijelaskan  “Tu’a Teno” alias tua adat Suku Mulos, Feliks Nonggo. Nenggo menjelaskan bahwa upacara tersebut merupakan warisan leluhur yang biasanya dilaksanakan saat musim tanam.

Menurut Nenggo, sebelum ritual tersebut dilakukan, ritual tapa kolo (bakar nasi bambu) merupakan langkah pertama yang dilakukan. Setelah itu dilanjutkan dengan acara “Pa’u Manuk” (doa secara lisan dengan semua leluhur melalui seekor ayam) di “Ngadu” (mezbah) yang berada di Tengah Kampung.

“Maksud dari tradisi Tepal ini adalah memohon kepada yang kuasa dan para leluhur serta alam semesta agar tanaman padi tumbuh subur, bebas dari hama, serta hasil panenannya bagus,” jelas Nenggo usai ritual, Jumat, 15 Oktober 2021.

Nenggo mengatakan, setelah dilakukan doa dan ritual adat dilanjutkan dengan membagi makanan tersebut kepada warga kampung. Sisanya, makanan itu dimakan bersama.

“Ini merupakan sudah menjadi tradisi yang harus diwariskan kepada generasi penerus dan ritual seperti ini tidak boleh dianggap remeh maupun dilupakan begitu saja,” katanya Nenggo.

Sebagaimana diketahui, ritual seperti yang dilakukan Suku Mulos di Kampung Parang juga dilakukan oleh Suku-suku lainnya di Manggarai Raya. Nama dan tata caranya terkadang berbeda, namun tujuan dan pelaksanaannya hampir sama menjelang musim tanam. (Yunt)

 

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top