Banner-Top
Banner-Top

Tiga Penyandang Disabilitas di Matim ini Butuh Bantuan Sembako dan Pakaian

Ketiga penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan. Foto/Yunt.
Ketiga penyandang disabilitas yang membutuhkan bantuan. Foto/Yunt.

MANGGARAI TIMUR — Antonius Mandur (46), Tadeus Maki (43) dan Susana Kila (23) adalah tiga (3) penyandang disabilitas asal Lando, Desa Paan Waru, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.

Ketiga penyandang disabilitas tersebut berharap agar Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur memperhatikan kehidupan mereka.

Salah satu penyandang disabilitas yang bernama Anton, mengatakan bahwa dirinya cacat sejak lahir. Anton mengaku untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dia terpaksa bekerja keras seperti layaknya manusia normal.

“Kami sangat merindukan bantuan dari pemerintah atau dari pihak manapun. Karena sejauh ini belum sama sekali merasakan bantuan dari pemerintah,” kata Anton kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Anton, penyandang cacat yang butuh perhatian pemerintah. Foto/Yunt.

Pria kelahiran 9 November 1975 itu berharap ada pihak yang ikhlas memberikan bantuan kepadanya, seperti pakaian, sembako atau yang lainnya.

“Saya sudah tua, dan fisik sudah tidak mampu bekerja berat. Saat ini hanya mendoakan semoga ada yang bisa memberikan bantuan berupa sembako, pakaian atau yang lainnya kepada saya dan adik saya,” ungkapnya.

Sementara itu, Tadeus Maki, adik kandung Anton Mandur juga mengalami nasib yang sama seperti kakaknya.

“Saya harus bekerja keras dan itu semua hanya demi mendapatkan sepiring nasi,” jelasnya.

Pria kelahiran 11 November 1978 tersebut mengatakan dirinya selalu berupaya dengan berbagai cara untuk tetap bertahan hidup.

“Walaupun kondisi seperti ini, saya tetap bersyukur. Karena cacat bukan berarti harus putus asa tetapi sesuatu keistimewaan yang diberikan Allah kepada kami,” katanya.

Tadeus adik Anton Mandur. Foto/Yunt.

Selain Anton dan Tadeus,  Susana Kila, yang masih sekampung dengan Tadeus juga mengalami kebutuhan khusus. Anak ketiga dari 6 bersaudara yang lahir dari pasangan Stanis Mbaling dan Agata Gawas juga mengalami cacat sejak lahir.

Wanita kelahiran 10 Agustus 1998 itu mengaku, sejauh ini belum pernah mendapatkan bantuan langsung dari pemerintah.

“Saya tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Saya bisa bertahan hidup sampai saat ini karena perjuangan dari kedua orangtua saya yang tidak pernah menyerah dengan keadaan saya dan kakak-kakak saya,” katanya.

Susana Kila, warga lainnya yang mengalami cacat fisik. Foto/Yunt.

Menurut Susan, demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, orangtuanya harus bating tulang saban hari. Ayah Susan setiap hari menjual ikan kering dari kampung ke kampung dengan berjalan kaki. (Yunt)

Facebook Comments
Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top