Banner-Top
Banner-Top

Waspada Rabies, Pemda Matim Rapatkan Barisan

Ilustrasi Anjing Rabies, foto istimewa.
Ilustrasi Anjing Rabies, foto istimewa.

BORONG, POSFLORES.com–Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai Timur mengadakan Rapat Komisi Pengendalian Zoonosis tingkat Kabupaten Manggarai Timur(29/5/2019).

Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Boni Hasudungan membacakan sambutan bupati Manggarai Timur.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Sekda Manggarai Timur, Agas Andreas mengatakan bahwa, ” Zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia ataupun sebaliknya. Ada beberapa jenis penyakit yang tergolong kedalam kondisi tertentu dapat berpotensi menjadi wabah atau pandemic bagi masyarakat dan daerah yang kita cintai ini dari ancaman penyakit Zoonosis.Kita berkewajiban memelihara ketentraman hidup masyarakat kita. Kondisi saat ini Kabupaten Manggarai Timur dan Pulau Flores umumnya merupakan daerah endemic Rabies, maka untuk pengendalian Zoonosis lebih difokuskan pada upaya menanggaulangi penyakit Rabies. Strategi pengendalian Zoonosis yaitu ada 3 (tiga) jenis yaitu:
– Mengutamakan prinsip pencegahan Penularan kepada manusia dengan meningkatkan upaya pengendalian zoonosis pada sumber penularan.

– Penguatan koordinasi lintas sektor dalam rangka membangun sistim pengendalian Zoonosis, sinkronisasi, pembinaan, pengawasan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan, strategi dan pelaporan.

– Perencanaan terpadu dan percepatan pengendalian melalui surveilans, pengidentifikasian, pencegahan, tata Iaksana kasus dan pembatasan penularan, penanggulangan kejadian luar biasa/wabah dan pandemi serta pemusnahan sumber zoonosis pada hewan apabila diperlukan.

Rabies merupakan penyakit hewan menular yang akut bersifat zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia ) dan sulit diberantas, sekali muncul gejala klinis penyakit Rabies pada penderita, baik pada hewan maupun manusia selalu diakhiri dengan kematian. Bahaya rabies ini akan mengakibatkan timbulnya rasa cemas, rasa takut serta keresahan masyarakat pada umumnya. Memperhatikan data kasus gigitan hewan penular tersangka rabies yang semakin meningkat dan telah menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Timur, maka diperlukan adanya kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak untuk memberantasnya.

Untuk kita ketahui data kasus gigitan hewan penular Rabies di Kabupaten Manggarai Timur dari tahun 2009 hingga tahun 2018 adalah sebanyak 4.311 kasus dan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 13 orang. Bahwa kegiatan eliminasi pernah dilaksanakan mulai tahun 2009 sampai tahun 2013 dengan jumlah Anjing yang dieliminasi sebanyak 5.550 ekor, sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang kegiatan eliminasi dihentikan dan hanya dilaksanakan melalui vaksinasi masal setiap tahun.

Pertumbuhan populasi hewan penular Rabies di Kabupaten Manggarai Timur kurang terkendali ditambah dengan pola pemeliharaan yang kurang tertib merupakan potensi yang besar bagi penyebaran penyakit Rabies. Beberapa masalah dalam upaya penanggulangan Rabies di Kabupaten Manggarai Timur antara lain, Pertama, Kesadaran masyarakat dalam mendukung upaya penanggulangan Rabies masih rendah . Kedua, pola pemeliharaan HPR yang kurang tertib. Ketiga, kasus gigitan HPR tersangka Rabies cukup tinggi sementara persediaan VAR terbatas.

Tujuan dari pelaksanaan Rapat Komisi ini antara lain untuk mendapat masukan berupa kebijakan teknis dan non teknis yang sangat berguna bagi pelaksana kegiatan dilapangan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan penanggulangan Rabies tahun 2018 dan rencana pelaksanaan tahun 2019 serta untuk menjalin kerjasama yang kondusif bagi upaya pemberantasan Rabies dengan berbagai pihak, sebagai wujud tanggung jawab bersama guna membebaskan kembali Manggarai Timur dari penyakit Rabies. Selama 3 tahun, yaitu Sejak tahun 2014 organisasi dunia FAO (Food Agriculture Organisation) memberi perhatian yang cukup serius dalam upaya pengendalian penyakit rabies di Pulau Flores dan Lembata dimana mereka telah memberikan pelatihan penanganan rabies kepada semua vaksinator di seluruh Pulau Flores dan Lembata. Salah satu program yang dikedepankan adalah tingkatkan vaksinasi dan pendekatannya melalui pihak gereja dengan membentuk satu Paroki sebagai pilot proyek percontohan untuk setiap Kabupaten di daratan Flores dan Lembata.

Pada waktu itu untuk Kabupaten Manggarai Timur pilot projeknya adalah Paroki Borong sekaligus menjadi contoh untuk wilayah lainnya. Namun sejak tahun 2017 pilot proyek percontohan dipusatkan di Desa/Kelurahan,sebagai contoh tahun 2017 dilaksanakan di Kelurahan Nggalak Leleng dan Kelurahan Bangka Leleng Kecamatan Poco Ranaka dan Desa Nanga Labang Kecamatan Borong, demikian juga tahun 2018 dan selanjutnya pilot projek akan dipusatkan di Desa/Kelurahan di wiayah Kecamatan yang ditentukan.

Rapat ini diharapkan dapat menghasilkan point-point penting yang sangat bermanfaat untuk selanjutnya dipakai sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Dalam rangka membebaskan kembali wilayah Kabupaten Manggarai Timur dari penularan penyakit Rabies dan terciptanya rasa hidup aman di masyarakat kedepan, maka dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak sangatlah diperlukan,” demikian sambutan bupati Manggarai Timur yang dibacakan oleh Sekda Boni Hasudungan.***

Laporan: MD

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Banner-Top
Terkait lainnya
Banner-Top